CallyDaniel

CallyDaniel
60—Kemarahan



...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Sudah hampir satu bulan sejak kejadian penculikan tersebut, kini Laisa sudah diijinkan pulang kerumah dengan terapis setiap harinya.


"Ma, Shaka berangkat sekolah dulu ya," pamit Shaka pada mamanya juga yang lainnya.


Laisa hanya bisa tersenyum saat kakaknya mencium keningnya, ia tak ingin membuat kakak juga semua keluarganya kembali bersedih untuk keadaannya. Hanya tersenyum didepan mereka yang dapat Laisa lakukan agar mereka semua juga tertawa.


"Mah, Laisa ngantuk."


"Yaudah kita ke kamar ya dek, adek isirahat dulu," ucap Laisa berjongkok didepan Laisa yang duduk diatas kursi roda.


Semenjak kakinya lumpuh, dengan terpaksa Arga memindahkan kamar Laisa dilantai bawah. Merubah kamar tamu untuk sementara menjadi kamar bagi anak keduanya tersebut. Ada rasa sedih tersendiri pada Laisa saat ia tak bisa kembali ke kamarnya sendiri.


"Mama bantu naik ke ranjangnya ya dek," ucap Letta menggendong anaknya.


"Makasih ya mama yang cantik," peluk Laisa dengan sebuah ciuman keceriaannya.


"Gombalnya anak mama ini," mengacak rambut anak gadisnya tanpa rasa curiga.


Cally yang baru saja datang dari mengantar suaminya kembali membawa satu kantung es krim kesukaan Laisa. Namun saat ia datang rumah sudah sangat sepi, hanya ada Letta yang tengah membereskan meja makan bersama para pelayan.


"Ta, Laisa dimana?"


"Dikamar, ngantuk katanya tadi."


"Yaudah gue lihat ke kamar dulu ya kalau gitu," ucapnya yang melangkah mendekati kamar keponakannya.


Namun saat Cally hendak mengetuh pintu, pintu itu ternyata terbuka sedikit dan memperlihatkan sosok gadis kecil yang sedang dicarinya. Cally tersenyum dan hendak melangkahkan kakinya, namun terhenti saat mendengar isak tangis.


"Hiks,, hiks,, hiks. Aku nggak boleh nangis lagi," cicit Laisa menutup mulutnya.


Hati Cally sangatlah sakit mendengar tangisan Laisa, tangisan pilu bocah kecil yang meratapi kondisinya kini. Gadis kecil yang tak bersalah tapi harus menanggung akibatnya.


"Kenapa kaki aku nggak bisa jalan, aku nggak mau bikin semuanya repot."


"Laisa sayang," batin Cally yang tanpa sadar meneteskan air matanya.


"Aku nggak mau bikin mama papa sedih, aku nggak mau bikin kakak nangis lagi melihat aku kalau sedih," cicitnya lagi.


"Tuhan, apa Laisa terlalu nakal sampai harus nggak bisa jalan lagi?"


Cally menyentuh dadanya dengan sebelah tangannya, sedang tangan yang lainnya membekap mulutnya agar tak bersuara. Hatinya sungguh sakit mendengar semua ucapan bocah yang tak berdosa itu.


"Maafin sister ya nak, gara-gara dendam mereka sama sister kamu jadi korbannya," batinnya.


"Kamu tenang aja ya nak, mulai sekarang siapapun yang berani menyakiti kamu bakal sister habisi."


"Loe mau ngehabisin siapa emang Cal," tanya Letta yang mengejutkan Cally.


"Sialan loe Ta, bikin gue kaget aja."


"Laisa tidur?"


"Iya dia tidur, makanya gue mau simpen dulu ini es nya."


"Terus tadi siapa yang mau loe habisin?"


"Oh itu, perempuan-perempuan yang keganjenan sama suami gue," kilahnya dengan meyakinkan.


Arga tak mengendarai mobilnya menuju perusahaan, tapi ia memutar mobilnya dan menuju rumah dokter Daniel yang diketahuinya. David juga Orland segera mengikuti mobil Arga, mereka tahu jika Arga masih sangat dendam dengan apa yang sudah mereka lakukan.


Bahkan Arga tak masuk dengan cara yang sopan, ia menabrak pagar rumah dokter Daniel hingga terjatuh dan mengejutkan semua penjaganya. Keluar dari dalam mobilnya, Arga membawa serta tongkat bisbol milik Laisa yang sering dimainkannya bersama sang kakak.


"Keluar kamu Sonya," teriaknya menggema didalam rumah Daniel.


"Sungguh sopan sekali anda ini datang dengan berteriak dirumah orang."


Arga memperpendek jaraknya dengan Sonya yang kini ada dihadapannya.


Bhukkk..


Bhukkkk..


Bhukkk..


"Akhhhh," teriak Sonya saat Arga memukul kedua kaki Sonya dengan tongkat ditangannya.


"Arga," teriak Orland juga David bersamaan.


"Mamaa," teriak Daniel yang berlari menuju mamanya.


Sonya ketakutan, ia berusaha menjauhi Arga sambil menyeret tubuhnya. Namun Arga segera menginjak kaki Sonya dengan sebelah kakinya.


"Tuan Arga apa yang anda lakukan, singkirkan kaki anda dari mama saya," geram Daniel menatap tajam Arga.


David segera menahan Daniel saat hendak menyerang Arga, menyingkirkan tubuh laki-laki tersebut agar tak mati sia-sia ditangan Arga yang sedang kalut.


"Hentikan Arga! Kamu diluar batas."


"Tuan Edo tiba, saya diluar batas atau anda yang tidak bisa mendidik istri anda ini," menekan kakinya hingga Sonya menjerit kesakitan.


"Argaaa," teriak Daniel.


"Berani sekali meneriaki namaku, mau kuhancurkan tenggorokanmu itu dengan tongkat putriku?"


"Ini belum seberapa tuan Edo yang terhormat, jika sampai nanti putri saya tidak bisa kembali berjalan. Saya akan datang lagi untuk mengambil kaki-kaki istri anda!"


•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••