
Arga yang kini berada diruang kerjanya sedang memberikan instruksinya pada beberapa anak buahnya terkejut saat menerima pesan dari anak laki-lakinya.
"Kalian semua ikuti saya," teriaknya dengan begitu panik.
Teriakan Arga tersebut membuat Reno juga Orland ikut merasa cemas dengan apa yang terjadi, keduanyapun berjalan mengikuti Arga dan masuk disatu mobil yang sama dengan Arga.
Mobil itu berjalan sangat cepat, membelah jalanan dengan keramainannya. Hingga mereka memasuki jalanan yang sangatlah sepi, sangat-sangat sepi hingga seperti jalan mati.
Shaka sudah tak lagi kaut, kakinya sudah seperti mati rasa. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya, membuatnya bermandikan keringat dan sangat kelelahan.
"Dek, bertahan. Kakak mohon," ucap pilu Shaka yang tanpa sadar menitikan air matanya.
Seorang Shaka yang terkenal kuat tak pernah menangis kini dihadapan adik yang tersayangnya menitikan air matanya. Mendekap hangat tubuh mungil yang memucat.
Arga menginjak rem mobilnya secara mendadak hingga membuat mobil dibelakang hampir mengalami tubrukan. Ia keluar dari mobil dan berlari menuju trotoar disebrang jalan.
"Astaga, pah itu Shaka," teriak Orland yang sangat panik.
"Boy, boy," teriak Arga.
Shaka mengangkat wajahnya saat mendengar suara orang yang ditunggunya. "Papa."
"Boy," memeluk tubuh Shaka yang masih memeluk adiknya.
"Ada apa ini, adik kenapa ini."
Arga merebut Laisa dari dekapan Shaka, wajah Arga begitu sendu saat melihat wajah pucat putri kecilnya. Hatinya hancur merasakan tubuh dingin itu, tubuh yang sangat aktif kini tergeletak tak berdaya didalam dekapannya.
"Ada apa dengan adikmu Shaka,"tanya Reno yang ikut bersimpuh dengan Orland.
"Shaka nggak tahu, adik sudah seperti ini saat Shaka datang."
"Papa, papa tolongin mama. Mereka semua mukulin mama," adu Shaka membuat semuanya terkejut.
"Loe selamatin Letta, biar Shaka sama Laisa gue yang urus."
"Gue titip anak-anak gue."
"Kalian semua siapin senjata, ikutin saya."
"Ada gang sangat kecil diujung jalan ini pah. Rumah kelima, disana mama," ucap Shaka dalam gendongan Reno. Arga berjalan begitu tak sabar setelah menerima petunjuk dari anaknya, hanya Letta yang kini ada dibenaknya.
...
David membawa Cally duduk menikmati pemandangan laut dari atas kapal yang saat ini dinaikinya. Wajah ceria David membuat wajah Cally bertambah masam dibuatnya.
"Kenapa sih istri aku ini, cemberut aja dari tadi," goda David mencolek dagu istrinya.
"Kaka ini bener-bener ngeselin. Siapa yang suruh kakak robekin baju aku tadi," kesalnya.
"Ya mau gimana lagi, susah dibuka sih," santainya berucap.
"Emang bener ya kata orang, orang pendiam itu ganas."
"Orang siapa itu yang bilang? Betul banget," tawa David.
Kedua orang yang dimabuk asmara itu kini tengah saling memeluk, memberikan kehangatan satu sama lainnya. Cally dengan sangat manjanya meletakkan kepalanya pada bahu David, sedang David dengan begitu sayang menyenderkan kepalanya pada kepala istrinya.
Betapa Cally sungguh sangat bahagia saat ini, ia berada ditempat impiannya dengan laki-laki yang begitu memanjakannya. Tak ada lagi yang saat ini Cally ingin selain jangan ada yang mengusik dan menghancurkan kebahagiaannya.
Didepan matanya kini terpampang indah matahari yang bersiap untuk mundur, berganti dengan rembulan dengan berteman bintang. Sangat indah, sinar yang begitu menghangatkan kulitnya, layaknya pelukan David yang menghangatkan hatinya.
"Makasih ya sayang," ucap David mengecup bahu Cally.
"Terima kasih juga sudah mencintai aku kak."
Rasanya sungguh lengkap bagi David, ada Cally sebagai istrinya juga Mira buah hatinya. Namun ia juga tak pernah melupakan Seruni sebagia bagian dari hatinya, pemilik dari separuh hati juga nafasnya.
Perlahan David membalik tubuh istrinya, membuat tubuh keduanya saling berhadapan. Hingga entah siapa yang memulai, kini keduanya tengah saling mencecap rasa manis serta candu dari bibir masing-masing.
Cally mengalungkan tangannya dileher David, sedang David memeluk dengan erat pinggang istrinya. Ciuman yang sangat hangat tanpa nafsu yang membara, begitu indah menciptakan kupu-kupu yang berterbangan dihatinya.
"Aww," pekik Cally tiba-tiba yang melepas begitu saja ciumannya.
"Ada apa sayang," panik David.
"Arletta," ucapnya dengan lantang.
Hai semuanya .. maaf ya kalau masih ada typonya, tapi itu nggak disengaja . And makasih supportnya, semoga kalian selalu menikmati ceritanya❣