
Tak sengaja Anna menatap wajah pria yang baru saja keluar itu,sehingga mereka berdua saling tatap.Anna merasa sangat gugup,marah dan benci menatap wajah pria yang ada di hadapan nya ini.Sedangkan pria iti merasa tidak asing dengan tatapan itu.Pria yang bernama Kriss itu berjalan mendeketi Anna dan berdiri tepat di hadapan Anna.
Mata Anna yang tadi mengekori langkah Kriss yang semakin mendekat kini tertunduk gugup.Ia berusaha setenang mungkin di hadapan Pria ini.Tapi baru saja Kriss akan mengeluarkan suara nya,Arsya tiba tiba keluar dari kamar inap itu mendekati mereka.
"Sedang apa kalian?" Tanya Arsya heran melihat jarak kedua nya hanya 1 meter berhadapan.
Anna tetap menunduk.Sedangkan Kriss hanya diam saja.
"Kalian saling kenal?" Tanya Arsya lagi yang tak kunjung mendapat penjelasan.
"Tidak." Sahut Kriss singkat.
"Kau yakin?" Tanya Arsya menelisik ekspresi wajah Kriss.
"Tuan ini membuat saya tidak nyaman.Saya merasa gugup dan takut." Ucap Anna tiba tiba membuat Kriss membulatkan kedua mata nya.
Arsya menatap sinis Kriss.
"Aku hanya berpikir apa kami pernah bertemu sebelum nya.Aku merasa wanita ini sangat tidak asing." Jelas Kriss.
"Dia adalah sekertaris nya bernama Alvilda.Tolong jangan membuat orang orang ku tidak nyaman." Ucap Arsya tegas dan penuh penekanan.
Kriss hanya tertawa sepele saja.
"Aku mau bicara.Ini tentang wasiat kakek." Ucap Arsya yang memang keluar tadi sedang mencari Kriss.
"Kakek? Apa dia sempat bicara?" Tanya Kriss heran.Ia mendengar tadi malam kakek bangun dari koma dan berniat menjenguk pagi ini.Tapi terlambat.
"Seperti yang ku katakan tadi malam.Beliau tidak bisa bicara tapi hanya menuliskan ini,," Arsya memberikan 2 lembar potongan kertas yang hanya bertuliskan bagian bahwa Anna bukan pelaku nya dan bagian permintaan maaf kakek pada Anna dan Kriss.
Anna merasa jantung nya berdebar debar tak karuan.Ini semua terjadi di depan mata nya dan kedua orang ini tidak mengetahui bahwa sosok Anna sedang duduk mendengar semua nya.
Kriss membaca dengan seksama.Ia sangat hapal dengan tulisan tangan kakek nya itu.Sekilas wajah nya sempat terlihat sedih.Anna mencoba melihat reaksi Kriss dengan seksama tanpa ia tahu kalau Arsya memperhatikan gerak gerik nya.
Anna penasaran dengan isi tulisan di kertas itu.Dan Arsya juga penasaran dengan Anna yang sangat dalam memperhatikan Kriss.
"Sudahlah,," Kriss memasukkan kertas itu yang sudah ia gumpalkan ke dalam saku Arsya.
"Apa maksud mu?" Heran Arsya.
"Bukankah wanita itu tidak bersalah? Apa kau tidak ingin dia kembali lagi?" Tanya Arsya bertubi tubi.
"Kau tidak ingin membebaskan dia dari tuduhan ini?" Sambung Arsya lagi.
"Kita tinggal mengumumkan tulisan tangan ini saja,lalu dia akan bebas berkeliaran di mata masyarakat.Itu sudah cukup." Jawab Kriss santai.
"Maaf,,,saya pamit.Tidak seharusnya saya mendengar obrolan pribadi ini." Ucap Anna bangkit tiba tiba.
Kedua nya menatap ke arah wanita itu.Dan Anna segera mengundurkan diri nya.
"Sudahlah,,,Jangan pernah bahas ini lagi." Ucap Kriss dingin tapi masih bisa terdengar oleh Anna yang belum terlalu jauh.
Anna pergi ke toilet wanita.Ia duduk di atas toilet itu sambil menangis tersedu sedu.Arsya sebenarnya mengikuti wanita itu diam diam karena penasaran dengan Anna.Saat berdiri di depan toilet wanita itu,Arsya hampir menyerah dan pergi.Tapi sesaat kemudian ia mendengar suara tangis dari dalam toilet itu.Dan jelas suara itu adalah milik Anna.
Arsya semakin penasaran dengan sekertaris nya yang bernama Alvilda.
***
Kriss berusaha membuat diri nya setenang mungkin sampai ia masuk ke dalam mobil nya.Kriss menarik nafas dalam dalam kemudian memukul stir mobil nya yang tak berdosa itu sebagai luapan kemarahan nya.
Bagaimana bisa kenyataan menjadi seperti ini.Wanita yang sudah ia benci ternyata tidak bersalah apa apa.Bahkan wanita itu kini benar benar menghilang tak tahu di mana.Kriss merasa sangat frustasi.Ingin mencari Anna tapi tanggal pernikahan nya dan Aurora sudah di tetapkan.Tidak mungkin ia melukai hati wanita lagi.Belum lagi selama ini Aurora selalu berada di samping nya.
***
Frey yang sedang berjalan menuju toilet wanita di kejutkan dengan sosok kakak sepupu nya yakni Arsya yang baru saja keluar dari toilet wanita.Freya terheran heran melihat Arsya keluar dari sana dan bergegas pergi.
"Sedang apa dia?" Gumam Freya sambil mengayunkan kaki nya memasuki toilet.
Baru saja masuk ke dalam toilet,Freya kembali di kejutkan dengan suara isak tangis wanita dari dalam salah satu bilik toilet.Awal nya Freya merinding karena berpikir bahwa itu suara hantu.Tapi mengingat Arsya baru dari sini,Freya berpikir pasti wanita yang menangis ini ada hubungan dengan Arsya.
Freya pun berjalan mendekati bilik sumber suara tangis itu.Ia mengetuk pintu sambil memanggil wanita yang berada di dalam sana.
"Permisi?" Panggil Freya.Baru saja sekali memanggil suara tangis itu tiba tiba hening.
Anna yang berada di dalam terkejut mendengar suara Freya berada di depan pintu bilik yang ia tempati.
"Freya?" Lirih nya panik.