Bring Me

Bring Me
Pelukan



Anna menjalani hari yang sibuk di hari pertama menjadi sekertaris Arsya.Tak terasa jam pulang kantor pun tiba.Anna merenggangkan jemari nya yang pegal karena mengetik.


"Lelah nya,," keluh nya pelan.


Anna berjalan menuju taksi yang sudah menunggu nya.


"Ternyata punya pekerjaan sebagus ini menghabiskan tenaga yang lumayan banyak." Gumam nya pelan sambil membuka pintu taksi dan masuk ke dalam.


Taksi yang Anna tumpangi pun membawa nya pergi meninggalkan area perusahaan Louman itu.Anna menikmati indah nya malam yang di isi oleh hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang dan cahaya lampu jalan.Saat sedang melamun menatap keluar dan kebetulan saja mobil itu berhenti di lampu merah,Anna melihat sosok yang sangat ia kenal.Seketika hati nya berdebar debar.


Pria yang sedang di tatap Anna itu membuka kedua sisi jendela mobil nya sambil bertelepon dengan seseorang yang membuat nya sesekali tersenyum dan tertawa.Anna merasakan sakit yang teramat pilu di hati nya.Seperti nya sosok pria itu sekarang lebih bahagia.Sedankan ia masih harus berjuang mengungkap kebenaran dan keadilan atas diri nya.


Dada nya terasa sesak,air mata sudah tidak bisa ia bendung lagi.Butiran bening itu lolos dari kedua mata indah nya.Hati nya kembali hancur.Ia sudah sejak lama mempersiapkan diri jika suatu saat bertemu pria yang dulu ia cintai itu.Walau sempat menaruh sedikit harapan untuk mencintai pria itu lagi,kali ini pikiran itu harus ia buang jauh jauh.Seperti nya pria itu sudah menemukan kebahagian nya lagi.


"Kenapa cepat sekali aku melihat nya,," lirih Anna sambil tersenyum getir.


Ia sudah tidak lagi menatap ke arah pria yang bernama Kriss itu.Anna tertunduk sambil meremas ujung rok nya dengan kuat.Kini Kriss membuat nya benar benar tidak ingin berharap lagi.


Mobil yang membawa nya pun kembali melaju membelah jalanan yang padat.


Tak terasa Anna tiba di gedung apartemen nya.Ia berjalan dengan lesu keluar dari taksi dan memasuki pintu masuk gedung itu.


Anna menekan tombol lift dan masuk ketika lift itu terbuka.Anna pun keluar setelah lift itu sampai membawa nya ke lantai yang di tuju.


Anna menagkap satu pemandangan tumpukan kardus di apartemen sebelah nya,tepat nya di nomor 0090.


"Apa ada yang pindahan?" Pikirnya dalam hati.


Anna masuk ke dalam dengan langkah gontai.Berulang kali ia mendengus kesal.


Ting! Sebuah notifikasi pesan masuk.


Anna segera mengecek layar ponsel nya.Ada pesan dari Hansen.Anna segera membuka pesan itu.


"Sudah pulang?" Isi pesan itu.


"Sudah.Sangat melelahkan." Balas Anna.


"Segera lah mandi dan istirahat." Balas Hansen lagi.


"Iya.Aku seperti nya butuh pelukan saat ini." Balas Anna lagi.


"Benarkah? Apa ada hal buruk terjadi?" Balas Hansen.


"Lumayan buruk." Balas Anna.


Baru Anna terdiam detik berikutnya menyadari sesuatu.


"Apa apa an aku ini,," Pekik nya histeris.


"Bisa bisa nya aku berkata butuh pelukan.Anna,, dasar bodoh!! Bagaimana jika dia menganggap mu wanita yang hanya bisa memanfaatkan cinta nya saja." Rutuk Anna kesal oada diri nya.


"Bagaimana jika aku dalam sekejap muncul di sana? Kau akan memeluk ku?" Balas Hansen lagi.


Anna terdiam sesaat.Lalu ia tersenyum penuh harap.Tidak mungkin Hansen akan secepat itu kemari.


"Aku beri waktu 1 menit.Jika kau terlambat aku tidak akan membuka kan pintu." Tantang Anna.


"Baiklah.Jika aku sampai lebih awal kabulkan permintaan ku." Balas Hansen.


"Baik." Balas Anna lagi.


"Mana mungkin dia bisa,,kecuali punya kekuatan." Anna tersenyum penuh kemenangan.


Detik kemudian terdengar suara bel rumah nya yang berbunyi.


"Tidak mungkin dia datang secepat itu kan?" Lirih Anna tersenyum terpaksa.


Lalu Anna berjalan menuju pintu dan membuka pintu itu.Betapa terkejut nya Anna melihat sosok Hansen yang berdiri tersenyum lebar.


"Kurasa aku sedang kelelahan hingga berkhayal seperti ini,," Anna terkekeh garing.


"Berkhayal apa nya,," ketus Hansen menerobos masuk.


"Ini benar kau?" Tanya Anna yang tak percaya.


"Jadi siapa lagi? Apa kau pikir hantu akan sanggup meniru ku yang setampan ini." Ujar Hansen berbangga diri.


"Ternyata benar ini kau.Mana ada hantu yang sanggup berbangga diri seperti ini,," ketus Anna berjalan meninggalkan Hansen tak lupa ia menutup pintu.


"Hey!" Panggil Hansen sambil membentangkan kedua tangan nya.


"Apa?" Tanya Anna yang sudah berbalik menatap pria itu.


"Kata nya kau butuh pelukan?" Ucap Hansen sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Tidak jadi." Jawab Anna datar.


"Kau ini.Aku sudah buru buru datang ke sini." Kesal Hansen lalu menurunkan kedua tangan nya.


"Tapi bagaiamana bisa kau sampai secepat ini?" Tanya Anna penuh selidik.


"Kau tahu kan kalau aku hebat." Ucap nya kembali berbangga diri.


"Aku serius!" Desak Anna.


"Akan ku katakan kalau kau mau memeluk ku." Tawar Hansen.


"Sudah lupakan." Ketus Anna berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.


"Bukankah kau bilang akan memeluk ku." Hansen berjalan mendekati Anna.


"Aku tidak bilang seperti itu." Sangkal Anna.


"Kau bilang butuh pelukan." Balas Hansen.


"Butuh pelukan tapi bukan dari mu." Ucap Anna sambil membuang muka ke arah lain tak ingin menatap pria itu.


"Kalau begitu kabulkan permintaan ku yang kau janjikan." Ucap Hansen yang kini duduk di samping Anna.


"Katakan!" Ucap Anna cepat.


"Peluk.Permintaan ku peluk aku." Pinta Hansen.


"Aku akan menambah nya menjadi 2 permintaan asal tidak melakukan itu." Ujar Anna masih menatap ke arah lain.


"Baiklah.Kedua permintaan ku adalah P E L U K." ucap Hansen penuh penekanan jelas di kata peluk.


"Tidak.Aku tambah 3 permintaan asal jangan itu." Tolak Anna lagi.


"Peluk! Peluk!!" Rengek Hansen.


"Jadi 4 permintaan.Cepat!" Tawar Anna lagi.


"Cium! Kalau kau tidak mau peluk ya sudah cium saja!" Ujar Hansen sedikit kesal.


"Baiklah peluk saja." Anna pun mengalah.


Anna membalikkan badannya dan memeluk pria itu sebentar lalu ketika ia ingin melepaskan pelukan nya,Hansen malah semakin menarik diri nya ke dalam dekapan pria itu.


"Hansen,," lirih nya.


"Berdiam di sana lebih lama.Peluk aku selama yang kau mau.Aku tidak tahu harus bagaimana menghibur mu.Jadi peluk saja aku.Aku harap seperti ini dapat membuat mu lega." Ujar Hansen yang membuat Anna terlihat sangat rapuh.


Anna menagis di dalam pelukan pria itu.


"Aku melihat nya,,,aku melihat nya Hansen,," lirih Anna dengan suara parau.