
Megi sungguh terkejut dengan bisikan Aurora.Seketika ia terlihat lebih marah dari pada sebelumnya.
"Tante tenang dulu.Aku punya rencana." Ujar Aurora datar tanpa tersenyum.
"Apa rencana mu?" Tanya Megi penasaran.
Aurora kembali berbisik pada Megi.Seketika Megi mengembangkan senyum nya.
"Ide bagus." Ujar nya setuju dengan rencana Aurora.
Di belahan negara lain,Anna dan Kriss sedang berada di taman.
"Bagaimana?" Tanya Kriss yang memecah keheningan mereka.
"Ah,itu,,," Anna terasa gugup.
Kriss menggenggam tangan Anna yang terlihat sedikit gemetar.
"Bicarakan perlahan saja.Aku akan menerima apa pun keputusan mu." Ucap Kriss.
Anna menundukkan kepala nya.
"Mari kita mulai dari awal.Tapi,," ucap Anna ragu untuk mengatakan nya.
"Ibuku?" Sambung Kriss yang paham apa maksud Anna.
Anna mendongak menatap sendu Kriss.
"Kau tenang saja.Aku tidak akan membuat nya mengusik mu lagi.Tapi kau harus berjanji akan selalu terbuka untuk menceritakan hal apapun.Apalagi jika ibuku kembali mengancam mu.Jangan menanggung semua sendiri." Ucap Kriss penuh ketulusan.
Anna mengangguk kecil.Kriss memeluk erat tubuh wanita yang sangat ia cintai itu.
"Mari kita jemput putra kecil kita.Mulai sekarang kita akan tinggal bersama." Ujar Kriss merenggangkan pelukan nya.
"Iya." Sahut Anna.
Di dalam apartemen bibi pembantu yang sedang menjaga Jimmy anak Anna sedang gelisah.Ia merasa sangat bersalah kepada Anna.Ia telah menerima sogokan dari Aurora dangan jumlah uang yang sangat besar.
Sebelum Aurora pulang ke Indonesia,bibi pembantu yang bernama Jeny mencoba mengorek apa rencana Anna setelah bertemu Kriss.Dan dengan polos nya Anna menceritakan semua kejadian yang ia alami dan tentang apa keputusan yang akan ia berikan kepada Kriss.
Itulah sebab nya Aurora pulang terlebih dahulu untuk menyiapkan rencana dan mengetahui apa yang akan di katakan Anna sebelum Kriss mengetahui keputusan itu.
Bi Jeny merasa khawatir akan terjadi sesuatu karena sikap serakah nya terhadap uang yang di tawarkan.Ia menyesal,seharusnya ia tolak saja kemarin tawaran itu.
Ia ragu,jika ia berkata jujur kepada Anna maka ia harus siap menerima amarah dan rasa kecewa dari wanita itu.Tapi jika ia berdiam diri,mungkin akan ada hal buruk yang sedang menanti Anna.
Di saat yang bersamaan,Anna pulang dan datang bersama Kriss.Anna terheran heran melihat bi Jeny yang baru saja mengusap mata nya seperti mengusap air mata buru buru.
"Bi? Ada apa?" Tanya Anna lembut.
"Ti,,tidak nyonya." Jawab bi Jeny sambil memalingkan wajah nya ke arah lain.
"Kenapa bibi menangis?" Tanya Anna lagi.
"Saya hanya merasa sedih.Nyonya pasti akan pergi dari sini." Ucap nya beralasan.
"Ya ampun,bi. Saya sangat senang bertemu dengan bibi berhati lembut." Ucap Anna tersenyum tulus dan menggenggam kedua tangan bi Jeny.
"Bi,sesekali kita boleh bertemu untuk nelepas rindu." Sambung nya lagi.
"Maafkan saya nyonya." Bi Jeny kembali menangis tertunduk.
"Maaf kenapa?" Anna merasa bingung.
"Mungkin saya banyak kekurangan melayani nyonya." Ucap bi Jeny.
"Tidak bi.Sudah jangan menangis lagi.Nanti bibi terlihat semakin tua lho." Ujar Anna menghibur pembantu nya itu.
Bi Jeny segera menghapus air matanya.
"Saya benar benar minta maaf nyonya." Sesal bi Jeny dalam hati.
"Saya akan membereskan barang barang saya dulu." Ucap Anna lalu pergi ke kamar nya.
Sedangkan Kriss yang tadi hanya menonton kini meraih bayi kecil nya dan menggendong nya dengan hati hati.
Ia tersenyum puas melihat bayi mereka yang sehat dan sangat mirip dengan nya.
"Tuan,,," panggil bi Jeny.
"Ada apa bi?" Tanya Kriss yang mentapa heran bi Jeny seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Kriss!!!" Panggil Anna dari dalam kamar.
"Maaf bi,saya ke sana dulu." Ucap Kriss lalu meninggalkan bi Jeny sambil menggendong bayi nya.
Bi Jeny kembali menunduk sedih.
"Apa yang ingin di bicarakan bibi itu? Kenapa ia terlihat serius?" Tanya Kriss dalam hati.