Bring Me

Bring Me
Arsyanendra



Anna yang penasaran pun membuka pintu.Terlihat seorang kurir delivery makanan berdiri sambil memegang sebuah bingkisan.


"Ada apa ya?" Tanya Anna bingung.


"Saya mengantarkan pesanan atas nama bapak Arsyanendra." Ucap kurir itu.


"Arsyanendra? Maaf seperti nya anda salah alamat.Saya baru saja tiba di sini." Ucap Anna.


"Tapi nomor apartemen nya 0089,," gerutu kurir itu.


"Coba di hubungin dulu nomor pemesan nya." Saran Anna.


"Baik nona." Sahut kurir itu.


"Kalau kurir ini di tipu lebih baik aku saja yang bayar.Kasihan sekali." Bisik Anna dalam hati.


Terlihat panggilan dari kurir itu mendapat jawaban.Dan sesaat kemudian seseorang keluar dari rumah sebelah Anna yang bernomor 0088.


"Maaf nona mengganggu waktu anda." Ucap kurir itu sopan.


"Iya tidak masalah." Sahut Anna.


"Saya pamit," ucap kurir itu lalu pergi ke depan pintu sebelah nya.


Anna menatap pria yang keluar mengambil pesanan itu.


"Kenapa seperti tidak asing ya." Gumam nya dalam hati ketika melihat wajah pria itu.


Anna pun kembali masuk ke dalam apartemen nya.


***


Keesokan hari nya Anna berangkat untuk bekerja ke perusahaan Louman.Leon dengan mudah nya mengurus semua dan membuat Anna langsung bekerja hari ini.Ia akan bekerja sebagai sekertaris pemimpin Louman Grup.


Anna memasuki lift apartemen itu.Tapi ketika pintu hampir tertutup sebuah kaki menahan dan pintu kembali terbuka.Terlihat seorang pria tampan dengan tinggi 182cm memiliki wajah yang tenang dan santai masuk dan berdiri di hadapan Anna.


"Wah,tampan nya,,," batin Anna tanpa ia sadari memuji pria itu.


"Eh,tapi bukan nya ini pria yang tinggal di sebelah ku?" Batin nya lagi mengingat ingat.


Pria itu menekan nomor 1.


"Seperti nya ia juga akan keluar." Pikir Anna lagi.


"Dia tinggi sekali,,," puji Anna lagi menatap punggung pria di depan nya.


Tak lama kemudian lift pun terbuka menandakan sudah sampai di lantai 1.


Pria itu keluar lebih dulu di ikuti oleh Anna.Anna sudah memesan taksi online dan sudah menunggu nya.


Sepanjang perjalanan Anna terus menenangkan diri agar tidak gugup.Ia juga mengingat ingat nama baru nya agar tidak salah mengucapkan nama asli nya.


"Alvilda,,Alvilda,,," gumam nya pelan mengingat ingat.


Beberapa saat kemudian taksi yang membawa Anna pun sudah sampai di parkiran perusahaan Louman.Anna segera turun setelah membayar.


Ia menatap lekat gedung yang menjulang tinggi itu sambil menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya perlahan.


"Tiba juga saat nya,,," gumam nya.


"Bagaimana bisa kau mencarikan apartemen tepat di samping pria itu?!" Amuk Hansen.


"Kau ini berlebihan sekali,," ucap Leon merasa terganggu.


"Bukan nya lebih baik memantau target dari dekat.Apa salah nya,," gerutu Leon.


"Ahk!! Kau bikin kesal saja,"ketus Hansen.


"Kau cemburu ya?" Kini Leon menatap Hansen sambil memicingkan matanya.


"Apa apaan lagi kau ini,, " ketus Hansen.


"Jadi apa maksud mu mengomeli ku masalah apartemen itu?" Kini tatapan Leon seperti sedang mengintrogasi pelaku kejahatan.


"Argh!! Kau bikin kesal saja!" Ketus Hansen yang tak tahu harus menjawab apa.


"Jangan sampai kau berpikir pindah ke sana menjadi tetangga nya,," ucap Leon sambil mengalihkan pandangan nya ke layar komputer lagi.


"Kau kira aku akan melakukan itu?!" Hansen tersenyum sepele.


"Seperti nya kali ini aku meragukan mu," gumam Leon pelan.


"Kita lihat saja nanti,," ucap Hansen lalu keluar dari ruang kerja Leon.


"Aku akan membuat rambut ku botak jika dia tidak langsung pindah." Lirih Leon yang masih fokus menatap layar komputer nya.


***


Anna masuk ke dalam ruangan CEO Louman grup itu bersama asisten pribadi ceo tersebut.Dan betapa terkejut nya ia saat melihat siapa yang duduk di kursi kebesaran itu.


"Pria itu,,,Dia sepupu nya Kriss?" Anna sangat terkejut.Karena selama bersama Kriss ia tidak pernah melihat atau pun bertegur sapa dengan pria di hadapan nya ini.


Dan yang lebih mengejutkan nya lagi,Anna tersadar bahwa pria itu adalah pria yang bersama nya saat di lift pagi tadi.


"Tuan,ini sekertaris baru yang akan menggantikan Nona Sera." Ucap asisten nya yang membuat pria itu menatap lekat pada Anna karena menyadari sesuatu.


"Kau,,," lirih pria itu pelan.


Melihat papan nama yang berada di atas meja ceo itu Anna semakin terkejut,ia mengingat ketika kurir kemarin mengucapkan nama Arsyanendra yang ternyata pria di hadapan nya ini adalah tetangga nya.


"Kenapa bisa banyak kebetulan seperti ini?" Pikirnya.


Tiba tiba Anna merasa bahu nya di senggol seseorang.


"Ha?" Anna linglung menoleh ke samping nya.


"Kau sedang apa?" Bisik pria di samping nya sedikit marah.


"Kau datang ke sini ingin bekerja atau berkhayal." Tegur Arsya dengan wajah flat.


"Maafkan saya,pak." Sesal Anna.


"Baru hari pertama sudah membuat kesan buruk." Gerutu Arsya.


Anna hanya tertunduk malu.