
Setelah menjalani operasi plastik besar dan melalui masa pemulihan yang panjang akhir nya Anna menunjukkan wajah baru nya.Selama masa pemulihan nya ia selalu menghabiskan waktu bersama Hansen.
Kini mereka sedang berada di ruangan paman Robin duduk bertiga sambil menyusun rencana dan mencari nama yang cocok untuk Anna.
"Aku suka nama ini." Tunjuk Anna ke layar ponsel yang di pegang Hansen.
"Alvilda,," gumam Hansen pelan.
"Baik lah.Aku akan minta Leon segera membuat data data tentang mu." Ucap Hansen.
"Iya." Sahut Anna pelan.
"Wah,akhir nya kau beraksi juga." Celetuk paman Robin.
Anna hanya tersenyum kikuk.Jujur ia sedang gugup karena harus kembali berhadapan dengan keluarga Louman.Tapi demi bisa bertemu anak nya dan mengungkap kebenaran itu ia harus memasang mental baja.
"Beritahu aku jika kau merasa kesulitan." Ucap Hansen sambil menatap lekat Anna.
"Baik." Sahut Anna merasa malu di tatap seperti itu oleh Hansen.
"Hei,kenapa kalian tidak pacaran saja?" Celetukan itu merusak suasana hati Hansen yang sedang fokus menatap Anna.
"Aku tipe orang yang jika sudah merasa saling cocok akan ke jenjang serius.Untuk sekarang akan aku harus menahan untuk tidak melangkahi paman ku yang melajang selama 48 tahun ini." Balas Hansen dengan kesal.
"Kau ini! Aku bukan nya tidak laku,hanya saja belum ada wanita yang bisa menyentuh dingin nya hati ku." Paman membuat mimik wajah jelek yang memuakkan.
"Cukup paman,isi perut terasa ingin keluar." Ujar Hansen membuat pria yang berada di depan nya mencebikkan mulut nya kesal.
"Dasar bajing*n kecil." Gerutu paman mya pelan.
"Paman,aku akan membawa Hansen keluar untuk berbicara." Pamit Anna yang sedari tadu hanya menonton mereka berdua.
"Baiklah." Sahut paman.
Anna memberi kode lewat tatapan mata nya pada Hansen.Kedua nya pun bangkit lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
***
Di sisi lain,Arsya cucu kedua Tuan Louman sedang duduk di samping kakek nya yang sudah koma hampir 2 tahun.Ia selalu menyempatkan diri mengunjungi kakek nya.Lain hal dengan Kriss yang sudah tidak perduli dengan keluarga lagi.
"Kakek,kapan kau akan sadar?" Lirih nya.
"Stik golf kita sudah di balut debu.Aku rindu kek.Aku rindu menghabiskan akhir pekan bersama mu."
"Kakek harus segera bangun.Aku ingin kakek hadir nanti di hari bahagia ku." Sambung nya sambil menatap dalam sosok renta yang terbaring tak berdaya.
Setelah keluar dari kamar inap kakek,Arsya semakin sedih.Biasa nya kalau ia sedang sedih maka akan pergi bermain golf menggunakan stik golf pemberian kakek nya.
"Kita akan kemana tuan?" Tanya supir pribadi nya menoleh sedikit ke belakang.
"Kembali ke mansion saja.Aku ingin bermain golf." Jawab nya sambil menatap ksosong sisi jalan raya.
Setiba nya di mansion,Arsya mengganti pakaian nya dan membuka peti berwarna hitam yang tergembok.Ia mengeluarkan sebuah stik golf yang tersimpan di dalam peti itu.Padahal hanya sebuah stik golf,kenapa harus di gembok?
Sambil memegang stik golf itu ia teringat kembali waktu pertama kakek memberikan benda itu.
Flashback.
"Arsya,terima ini." Kakek memberikan sebuah stik golf dan langsung di sambut oleh Arsya dengan senang hati.
"Untuk,ku?" Tanya Arsya tak percaya karena itu adalah stik golf kesayangan kakek nya.
"Iya,jaga dan simpan di tempat aman yang tidak di ketahui siapa pun.Kau harus benar benar menjaga nya.Jangan biarkan orang lain menyentuh nya termasuk ibu mu." Ucap Kakek.
"Ada benda berharga pada stik itu.Itu adalah nyawa sekaligus kartu As keluarga Louman yang aka berguna nanti nya." Bisik kakek dengan naa serius.
"Benda berharga,,," gumam Arsya pelan.
"Pokok nya kau harus menjaga nya.Kelak kau adalah pewaris Louman grup.Bedebah kecil itu tidak ada minat memimpin Louman grup.Kau adalah harapan kakek." Ucap Kakek sambil mengusap usap puncak kepala cucu nya itu.
"Baik,kek.Aku akan menjaga nya." Sahut Arsya senang.
Flashback off.
"Sebenar nya apa yang ada pada stik ini? Sudah bertahun tahun kenapa aku tidak menemukan apapun pada stik ini."gumam nya sambil meneliti setiap inci stik golf itu.
Sambil meneliti stik golf itu,Arsya perlahan bangkit dari jongkok nya,karena peti stik golf itu ia letak di bawah meja kerja nya.Tanpa ia sadari ujung stik itu menyenggol segelas air dan menyebabkan gelas itu jatuh pecah ke lantai.
"Astaga." Pekik nya melihat kaca yang pecah bertebaran.
Tanpa Arsya sadari ia meletakkan stik golf itu di atas genangan air yang curah.Setelah ia selesai mengumpulkan pecahan gelas ia menyambar stik golf itu.Dan merasa benda itu sedikit basah dengan santai nya ia mengelap dengan kaos putih yang ia gunakan.Tapi hal aneh terjadi.Kaos putih itu terkena noda cat berwarna emas yang ternyata berasal dari gagang stik itu.
"Kenapa ini luntur?" Lirih nya heran.
Ia tidak pernah menjumpai warna stik golf yang luntur terkena air.
"Tidak mungkin kakek membeli barang murah." Arsya kembali meneliti gagang itu.
Ia melihat seperti ada siluet tulisan di balik cat yang luntur di gagang itu.Karena penasaran,ia mengorbankan kaos putih nya kembali mengelap gagang stik itu.Dan betapa tercengang nya ia saat mendapati tulisan Black Swan 7754.
"Apa ini?"gumam nya pelan.
" Black Swan? Aku seperti mengingat sesuatu.Tapi apa ya?"pikir nya.
"Mungkin ini yang di maksud kakek penting.Aku harus menyembunyikan nya lagi." Arsya memiliki insting bahwa tulisan itu adalah hal yang di maksud kakek.
Ia pun kembali menyimpan stik itu kembali dan tak lupa menggembok nya.
****
Anna sedang termenung menatap tepian jalan raya yang ia lewati.Ia sedang dalam perjalanan menuju apartemen tempat dia akan tinggal selama menjalankan misi nya.Ia di antar oleh orang suruhan Hansen.
Anna kembali lagi mengingat perkataan Hansen sewaktu mereka berbicara serius empat mata.Melihat pria itu tidak pernah berubah dan selalu mencintai nya muncul banyak keraguan seketika.Ia bimbang tentang perasaan nya sekrang.Ia takut jika membalas perasaan Hansen hanya kerena Hansen sudah banyak membantu nya.
Namun jika ia berusaha tulus mencintai pria itu,ia belum siap.Banyak hal membuat nya trauma untuk menjalin hubungan lagi.Belum lagi ini bukan saat nya untuk memikirkan percintaan.Ia harus fokus dengan misi nya ini.
Namun begitu,Anna tetap berjanji akan membuat keputusan saat misi nya selesai.Entah itu menerima Hansen atau pun tetap mengganggap Hansen sebagai teman saja.
"Sudah sampai." Ucap supir itu membuyarkan lamunan Anna.
Anna pun tersadar dan bergegas turun.Supir itu membantu Anna menurunkan barang bawaan nya lalu membantu membawa ke lantai 9 menuju apartemen nya.
Setelah sampai di tempat baru nya,supir itu pun pamit pergi.Anna merasa jantung nya berdebar debar memikirkan ia akan berhadapan dengan kelurga Louman.
"Aku harus kuat.Tidak mudah mencapai titik ini." Ucap nya menenangkan diri sendiri.
Anna pun masuk ke dalam apartemen nya.Setelah meletakkan semua barang bawaan nya ia beristirahat di atas sofa sambil mengecek layar ponsel nya.Ia melihat unggahan terbaru dari sosial media Freya yang menampilkan wajah putra nya di sana.Di moment itu terlihat mereka sedang menikmati akhir pekan yang menyenangkan.
"Tunggu ibu,nak." lirih Anna sedih.
Tapi detik itu juga suara bel menganggu telinga nya.
"Siapa yang datang?" Bingung nya menyadari tidak satu pun ada yang tahu tempat ini kecuali Hansen,Leon dan supir tadi.
"Tidak mungkin Hansen." Lirih nya.