
"Paman yang menolong ku?" Tanya Anna langsung ketika pria itu sudah duduk sempurna di hadapan nya.
"Tidak.Bukan aku." Jawab pria itu sambil menggelengkan kepala nya.
"Jadi paman siapa?" Tanya nya lagi.
Padahal sebelum ke sini ekspresi wajah Anna selalu seperti mayat yang di paksa hidup.Sekarang sikap polos nya sudah kembali seperti Anna sebenarnya.
"Aku pemilik gedung ini.Lebih tepat nya aku menjalankan bisnis keamanan." Ucap pria itu sedikit agak letoy.
Anna yang menilai paman ini seperti pria bertulang lunak.
"Ah,begitu ya,," Anna merasa sedikit tak enak.Lagi pula ia juga tidak mengerti bagaimana bisnis keamanan yanh di jalan kan pria itu.
"Kau akan tinggal di sini." Ungkap pria itu.
"Apa?" Anna terkejut.
"Kenapa? Kau ingin berkeliaran di luar sana kah? Mungkin hampir di semua tempat mencari mu.Kau ingin kembali mendekam di sana?" Ketus Pria itu.
"Bukan begitu,,," lirih nya.
"Bukan aku yang menolong mu.Aku hanya menampung mu." Pria itu menyender di sofa sambil menaikan satu kaki nya di atas paha.
Di saat seperti ini paman itu terlihat seperti pria sungguhan.
"Jadi siapa?" Tanya Anna.
"Untuk sekarang masih rahasia.Ini ada titipan dari nya." Pria itu memberikan sepucuk surat pada Anna.
Anna menatap penasaran isi surat itu.Tapi begitu ia ingin membuka surat itu,,
"Tunggu dulu." Tahan pria itu.
Anna mendongak kan kepala nya.
"Ada apa?"
"Nanti saja kan bisa kau baca.Kita berkenalan dulu." Ucap paman itu dengan ekspresi wajah centil yang membuat Anna ingin muntah.
"Ah,iya,,," lirih Anna.
"Nama ku Robin A,,,,eh! Panggil Robin saja." Pria itu bertingkah aneh ketika ingin mengatakan nama lengkap nya.
Seperti nya pria itu menyembunyikan sesuatu.
"Aku Rihanna Clarista. Panggil saja Anna." Anna juga memperkenalkan diri nya dan mereka berjabat tangan.
"Kau ingin menemukan pelaku nya dan membalaskan dendam mu bukan?" Pria itu menyeringai.
Anna hanya mengangguk.
"Membalas dendam itu butuh tenaga,uang,otak dan mental.Selama kau di sini aku akan melatih mu itu semua." Ujar pria itu.
"Kenapa paman mau membantu ku?" Anna tertunduk tak enak dengan bantuan yang di berikan ini.
"Ingat bukan aku yang membantu mu.Aku hanya menampung." Pria itu memutar jengah bola mata nya.
"Ya benar.Dia sudah membuat perusahaan ku seperti tempat penampungan saja." Gerutu pria itu sambil menatap kuteks cantik di jemari nya.
"Seperti nya bukan hanya aku yang ia bawa." Gerutu Anna tapi masih bisa di dengar oleh pria itu.
"Kau benar.Aku juga tidak ingat kau sudah ke berapa puluh nya." Ketus pria itu.
"Seperti nya pria ini orang baik.Tapi bagaimana bisa dia menyelamatkan ku dan tahu tentang ku?" Batin Anna.
"Sampaikan terima kasih ku pada pria itu,paman.Aku pasti akan membalasnya kelak." Ucap Anna.
"Baiklah,baiklah.Mari ku antar ke kamar mu sambil mengobrol." Pria itu bangkit dari duduk nya di ikuti oleh Anna.
Pria itu menjelaskan setiap tempat yang mereka lewati ketika menuju kamar baru nya.
Setelah tiba di kamar nya,Robin pamit pergi membiarkan Anna istirahat.
"Wah,walau banyak menampung orang tapi tetap memberikan fasilitas yang bagus." Gerutu Anna.
Di kamar itu terdapat Ranjang yang muat untuk ukuran 2 orang.Ada AC,televisi,kulkas serta rak cemilan.Banyak buku tersusun rapi dalam rak yang berada di sudut ruangan.Anna meneliti masuk ke kamar mandi.Ini bukan seperti tempat penampungan itu lah yang terpikirkan oleh Anna ketika menganggumi fasilitas yang lengkap.
Ia berbaring di ranjang itu.Ia memejamkan mata nya menikmati empuk nya ranjang itu seperti sudah bertahun tahun tidur di lantai.
"Oh iya." Anna teringat harus membaca surat tadi.
Ia pun mengambil surat itu dari saku celana nya dan membaca nya.
"Mungkin kau merasa tidak ada yang mempercayai mu.Maaf aku tidak bisa melindungi mu.Aku akan membantu mu mencari pelaku sial*n itu.Jadi kau harus berlatih baik baik di sana.Setelah persiapan mu berhasil baru kita akan bertemu.Maka dari itu kau harus bersemangat jika ingin membalas dendam mu itu dan berterima kasih pada ku.Aku akan menunggu mu."
Begitu lah isi surat itu yang ia sendiri tidak tahu siapa penulis nya.Jika itu Hansen tidak mungkin,karena Anna sangat hapal bagaimana tulisan tangan pria itu.Kalau Kriss sangat tidak mungkin membuat drama yang meletihkan ini.
Dari pada memikirkan itu,ia bergegas membersihkan diri nya dulu.Saat ia membuka lemari ia melihat isi lemari itu sangat lengkap.Ada banyak pakaian dan keperluan nya.Ada aksesories juga.Anna merasa seperti masuk ke dunia dongeng.
Kaki nya lemas,ia duduk bersimpuh sambil tersedu sedu.Ia sangat tidak menyangka masih ada manusia yang menyelamatkan nya.Masih ada manusia yang membantu dan mempercayai nya.Semangat nya pun membara untuk misi balas dendam nya.Ia ingin segera merebut anak nya juga.
"Tunggu aku menangkap kalian! Tunggu saja." Lirih nya dengan wajah serius.
Di sisi lain Aurora panik.
"Seperti nya ada yang ikut campur dengan urusan kita." Ucap nya dengan ekspresi marah.Wajah itu tidak pernah ia tunjukkan kepada publik.Ia selalu memasang topeng tenang dan anggun.
"Karena kita tidak menduga inj terjadi,tidak satupun dari kita mengawasi nya di sana." Ucap pria yang duduk di sebelah nya.
Mereka sedang berkumpul di dalam ruangan gelap dan ada 4 orang duduk di sofa itu termasuk Aurora.
"Kita bahkan tidak menemukan jejak apa apa." Ucap pria yang duduk di sebrang Aurora.
"Sebarkan anggota ke kota! Segera lakukan pencarian bukan nya duduk di sini menyesali yang terjadi!!" Bentak seorang pria berumur 60tahunan yang datang tiba tiba.
Semua yang berada di sana kaget.Mereka berdiri memberi salam lalu tertunduk.
"Maaf,bos." Ucap mereka kompak.
"Aurora,karna ini pertama kali nya kau gagal aku melepaskan mu.Cepat bergerak!!" Bentak pria itu membuat mereka takut.
"Baik,bos." Ucap mereka.