Bring Me

Bring Me
Seperti anak kecil



Setelah mereka pergi dari apartemen Hansen,masih terpikirkan oleh Kriss apa yang ingin di katakan bi Jeny.


Ia berniat akan menemui bi Jeny diam diam tanpa sepengetahuan Anna.


"Kita harus pulang ke Indonesia minggu depan." Ujar Kriss.


"Kenapa?" Tanya Anna heran.Ia sungguh tidak ingin pulang ke sana.


"Kau tidak ingin kita mendaftarkan pernikahan kita?" Tanya Kriss balik sambil fokus menyetir.


"Tentu.Aku sangat menginginkan itu."ujar Anna.


" Tenang saja.Setelah itu kita akan kembali ke sini lagi.Kakek memberikan ku mengurus rumah sakit cabang di sini."jelas Kriss yang mengetahui Anna yang tidak ingin pulang ke indonesia.


"Baiklah." Sahut Anna lembut.


"Aku punya banyak pertanyaan.Tapi aku akan menahan nya dulu.Kita bicarakan dengan santai saja ketika di rumah.Lagi pula kita akan terus bersama kan?" Kriss sekilas melirik wajah wanita yang ia cintai.


"Tentu.Aku tidak akan pergi atau bersembunyi lagi." Ucap Anna penuh ketulusan.


Kriss terlihat tersenyum puas.Ia menautkan jemari *tangan kanan nya pada jemari Anna.


*Di Negara Turki posisi stir pengemudi terletak di sebelah kiri.


Kriss meninggalkan kecupan di punggung tangan wanita itu.Hal itu membuat pipi Anna memanas.


"Kau gugup?" Goda Kriss.


"Ah,tidak." Anna menarik tangan nya dari genggaman Kriss.


Tapi Kriss semakin mengeratkan genggaman itu.


"Kau tega sekali melepas nya.Sudah lama aku tidak menggenggam tangan kecil ini dengan perasaan seperti ini." Ujar Kriss dengan tatapan masih fokus ke jalan.


"Tangan siapa yang kau bilang kecil?! Kau kira aku anak anak." Dengus Anna kesal.


"Temperamen mu tidak berubah ya?" Ejek Kriss.


"Kau ini..." Anna semakin kesal.


Sudah lama mereka tidak sesenang ini.Sudah lama tidak memperdebatkan hal kecil yang membuat hubungan mereka tidak terasa flat.


"Aku punya permintaan." Ucap Anna tiba tiba.


"Apa?" Tanya Kriss.


"Aku ingin menemui Hansen.Aku harus meluruskan semuanya agar dia tidak berharap lagi.Aku juga banyak berhutang budi padanya." Jawab Anna.


"Baiklah." Kriss menyetujui permintaan nya itu.


Detik itu juga ada panggilan masuk dari Shaun.Kriss segera menjawab panggilan tersebut.


"Tuan,nona Aurora pulang ke Indonesia secara tiba tiba." Ucap Shaun.


"Kapan?" Tanya Kriss.


"Tadi malam." Jawab Kriss.


"Perintahkan orang untuk mengawasi nya di sana." Perintah Kriss.


Anna mendengar jelas percakapan itu.Ia kembali mengingat ada wanita di sisi Kriss di malam pertemuan mereka yang menyebabkan ia melahirkan tidak sesuai hpl nya.


Kriss melihat ekspresi Anna seperti sedang memikirkan sesuatu pun memahami apa yang sedang mengusik pikiran wanitanya.


"Wanita yang bersama ku malam itu bernama Aurora.Kakek menempatkan nya di sisi ku untuk mengawasi ku dan berniat menjodohkan kami." Jelas Kriss yang mengetahui kerisauan Anna.


"Oohh." Hanya kata itu saja yang lolos dari bibir Anna.


"Hanya oh?" Kriss terheran heran.Padahal ia melihat Anna seperti sangat penasaran.


"Jadi apa lagi? Saingan ku bertambah." Gerutu Anna menatap ke luar mobil.


"Apa nya saingan? Kau tidak perlu bersaing.Karena tanpa kau harus berbuat apa pun aku sudah pasti tetap memilih mu." Ucap Kriss mengeluarkan kata kata buaya nya.


Anna hanya mendengus kesal.Tetap saja ia merasa cemas Arina mendapat dukungan dari ibu nya Kriss,sedangkan Aurora mendapatkan dukungan dari kakek.Anna merasa berkecil hati mengingat ia harus berjuang sendiri.


"Kau lihat Jimmy,ibu mu semakin terlihat seperti bocah sd." Goda Kriss sambil terkekeh kecil melihat mimik wajah Anna.


Seketika Anna terkesiap melihat raut wajah Kriss yang terlihat bahagia sepanjang perjalanan tadi.Ia merasa sedang menjalani kehidupan yang baru.


"Aku harap kami akan benar benar bisa bersama tanpa ada halangan lagi.Dan aku tidak akan kabur dan bersembunyi lagi apapun yang terjadi.Sudah cukup selama ini aku bersabar." Batin Anna dan tersenyum tipis.


Sedangkan di sisi lain.Ibu Anna bersama dengan Freya baru saja tiba di bandara menuju Turki.Mereka sedikit marah dan kesal Anna baru memberitahu mereka kemarin bahwa ia sudah melahirkan putra pertama nya.


"Awas saja kalau aku sudah tiba." Gerutu Freya kesal.


"Bisa bisa nya dia baru mengabari ku baru kemarin." Kesal Freya.


"Jangan kan kau.Ibu nya sendiri saja juga baru kemarin." Sambung Abraham yang duduk di sebelah kanan ibu nya dan Freya di sebelah kiri ibunya juga.


"Anak itu merasa sudah bisa hidup sendiri." Ketus Freya lagi.


"Namanya juga keras kepala." Sahut Abraham.


"Mungkin Anna takut merepotkan kita karena jarak nya sangat jauh." Ujar ibu yang sedari menyimak duduk di antara mereka berdua.


"Merepotkan apa nya?Padahal jika ia mengabari di hari dia melahirkan aku juga akan terbang ke sana langsung." Ucap Freya yang cerewet.


"Bukankah kau bilang 2 minggu ini kau sangat sibuk bahkan sulit untuk ke kamar kecil dan makan?" Ujar Abraham.


"Ah,itu,,,lain cerita kalau ada hal mendadak kan?" Freya merasa malu mengingat kesibukan nya yang di luar kendali.


"Jika bukan karena manajer mu memohon pada agensi juga kau tidak akan duduk di sini." Ketus Abaraham.


"Hey kau ini!" Geram Freya yang selalu saja mendapat bantahan dari Abraham.


"Sudah sudah." Ucap ibu yang merasa mereka terlalu ribut.


"Kalian seperti anak kecil saja.Nanti jodoh baru tahu." Sambung ibu lagi.


"Huh! Siapa yang akan menyukai orang seperti dia." Ketus Freya.


"Hey kau ini!" Abraham mulai marah.


"Sudah!" Bentak ibu.


"Baik,bu." Ucap mereka bersamaan.


...***************...