
Arsya bukan nya kembali ke apartemen nya.Ia terus di sana sepanjang malam menjaga kakek nya.Ia takut akan terjadi sesuatu tiba tiba.
Keesokan pagi nya,seorang perawat datang datang dan izin memberikan suntikan pada selang infus kakek.
Arsya yang tidak merasakan curiga apapun meninggalkan kakek bersama perawat itu dan keluar sebentar mencari minuman.
Setelah sudah mendapat apa yang ia cari,Arysa kembali ke kamar inap kakek.Tapi saat berada di lorong depan kamar kakek Arsya mengerutkan kening nya melihat perawat yang berhenti di depan pintu kamar dan akan masuk ke dalam.
"Berhenti!" Ucap Arsya sambil berjalan cepat menghampiri perawat itu.
"Sedang apa kau di sini?" Tanya Arsya heran.Bukankah tadi perawat sudah berkunjung?pikirnya.
"Saya akan memeriksa pasien tuan.Ada apa?" Tanya perawat itu bingung.
"Bukankah tadi sudah ada perawat yang datang,kenapa datang lagi?" Heran Arsya yang mulai merasa janggal.
"Tidak ada tuan.Kebetulan jadwal kunjungan pasien pagi ini di bangsal ini hanya saya sendiri." Jelas perawat itu.
Seketika Arsya terkejut dan spontan menerobos masuk ke dalam kamar inap itu.Di iringi oleh perawat yang sedang bingung juga,mereka berdua terkejut melihat kakek melotot dengan pupil yang membesar dan mulut mengeluarkan buih.
"Kakek!!" Teriak Arysa berhambur ke arah kakek nya yang sudang terbaring tak bernyawa.
Arsya terus menerus mengguncang kakek nya.
"Tuan tenang dulu,minggir biar aku periksa dulu." Ucap perawat itu yang membuat Arsya menghentikan aksi nya.Perawat memeriksa sebisa nya saja.
"Seperti nya tuan besar keracunan." Ucap perawat itu setelah memeriksa.
"Apa?" Lirih Arsya tak percaya.
"Saya akan panggil dokter dulu." Ujar perawat itu dan berlalu pergi.
Arsya mengepal geram kedua tangan nya.
"Mike! Jordan!"panggil Arsya pada kedua bodyguard yang berjaga di depan.
Kedua orang yang di panggil itu pun segera masuk menghampiri Arsya.
"Iya tuan." Sahut Mike.
"Bagiamana bisa kita kecolongan seperti ini!! Apa setelah aku pergi ada yang datang?!!" Arsya menarik kerah baju Mike dan meluapkan amarah nya pada pria itu.
"Tidak ada tuan.Tidak ada satu pun orang asing yang masuk kecuali tuan dan dua perawat." Jelas Mike.
"Perawat,,,"Arsya melepaskan kerah baju Mike dan bergumam.
"Berarti perawat yang datang tadi pagi adalah palsu? Arghh!!!" Arsya menendang sebuah kursi demi meluapkan amarah nya.
"Bagaimana kita akan mencari nya?!! Dia pasti sudah pergi jauh," erang Arsya.
Detik itu juga dokter datang bersama perawat tadi.
"Saya harap tuan tuan keluar dulu." Pinta dokter yang baru saja datang.
Arsya dan kedua bodyguard nya pun keluar.
****
Anna yang sudah selesai bersiap siap akan ke kantor mendapat pesan dari Arsya agar membawakan nya baju baru ke rumah sakit.Arsya juga memberi tahu ukuran badan nya.
"Kenapa dia? Apa dia tidak pulang? Apa terjadi sesuatu di rumah sakit?" Rentetan pertanyaan muncul di pikiran Anna.
Dengan segera Anna pergi dan membelikan baju ganti untuk Arsya.
"Padahal dia bisa saja memberikan sandi rumah nya." Gerutu Anna sambil memilih baju di sebuah toko ternama.
Selesai membeli pakaian langsung menuju ke rumah sakit yang telah di beri Arsya alamat nya.
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan Anna tiba di rumah sakit besar milik keluarga Louman.Sedikit berdebar debar ia mengayunkan kaki memasuki gedung itu.
Anna masuk ke dalam lift yang batu saja terbuka dan kosong.Baru saja akan menutup pintu seorang pria menghentikan nya.
"Berhenti!" Ucap pria itu membuat Anna mengurungkan niat menekan tombol itu.
Seorang pria masuk diikuti oleh pria yang tak asing bagi Anna dari belakang.Dan kedua orang itu berdiri di depan Anna.
"Kenapa harus bertemu sekarang,,," geram Anna seketika semakin gugup.
Pria yang tak lain adalah Kriss itu menoleh ke belakang sedikit melirik nya karena tingkah Anna sangat terlihat aneh.
"Kenapa kak?"tanya Ervin pria yang datang bersama Kriss.
" Tidak ada."sahut Kriss lalu mengarahkan pandangan kembali ke depan.
"Aku harus tenang.Lagi pula dia tidak akan mengenali ku dengan wajah seperti ini." Batin Anna.
Saat mereka tiba di lantai yang di tuju,kedua pria itu keluar dan di ikuti oleh Anna yang memang tujuan mereka sama.Sekali kali Kriss menoleh ke belakang,namun Anna mulai bisa mengontrol diri.
Kriss yang merasa wanita asing itu terus mengikuti nya pun membalikkan badan secara tiba tiba sehingga wanita yang berjalan menunduk itu menabrak tubuh nya.
"Sshhh,,," desis Anna.
"Kau siapa? Kenapa mengikuti kami?" Tanya Kriss heran karena di bangsal ini sengaja di kosong kan khusus untuk kakek.
Anna yang tidak berani menatap pria itu ingin menjawab ,tapi di saat yang bersamaan Arsya datang dari belakang Kriss.
"Dia sekertaris ku." Ucap Arsya yang muncul dari arah belakang Kriss.
Kriss pun menoleh ke sumber suara.
"Sudah bawa barang nya?" Tanya Arsya pada Anna.
"Sudah tuan,," sahut Anna.
"Ayo ikut aku." Ajak Arsya yang berjalan melewati Kriss terdiam.
Anna pun mengekor di belakang Arsya dan tetap menundukkan kepala saat melewati Kriss.
"Suara itu,,," Kriss merasa suara itu sangat familiar.
"Hey,kak!" Tepuk Ervin dari belakang Kriss.
"Ayo!" Ajak Ervin.
Kriss pun tersadar dan mereka kembali melanjutkan langkah menuju kamar kakek.
Saat memasuki kamar kakek di sana sudah ada Freya,Megi,dan ibu Arsya serta suami nya.
Kriss menatap ke arah kakek yang sudah tidak bernyawa.Ia merasa sangat sedih.Setiap melihat kakek ia akan kembali teringat masa itu.
Arsya pun keluar dari kamar mandi dan sejak tadi Anna hanya menunggu pria itu berganti pakaian di depan kamar mandi.
Keluarga yang berada di sana pun mulai berunding.Keluarga memutuskan untuk melakukan autopsi agar mengetahui racun apa yang masuk ke tubuh kakek.Tapi mereka tidak akan mengumumkan kematian kakek karena di racuni.
Sesekali Kriss melirik wanita yang berdiri di belakang Arsya.Karena merasa di perhatikan akhir nya Anna pamit menunggu di luar pada Arsya.
Anna baru bisa bernafas lega setelah keluar dari ruangan itu.Ia duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan itu.
Baru saja bernafas lega,pria yang sangat di hindari nya malah keluar dari ruangan itu.