
Saat proses operasi semua tubuh Kara lemah, jantung Kara berhenti berdetak, dokter dan para perawat kepanikan
Tim medis pun mulai mengambil alat-alat untuk test jantung Kara. Di luar Reno,.Ana, Rani dan kedua sahabat Atan mereka semua terdiam dan berharap agar operasi Kara berjalan dengan lancar.
Di sisi lain Atan berlari kencang saat membaca pesan dari Jongky mengatakan Kalo kondisi Kara memburuk. Dokter dan perawat sedang melakukan operasi pengambilan peluru. Atan berlari sekencang mungkin dan pikiran Atan terus ke mana-mana.
" Biarkan dia bersamaku...Aku mencintainya aku sangat mencintainya, aku mohon jangan ambil dia....aku sudah kehilangan ibuku sejak kecil...Kara tunggulah aku semua akan baik-baik saja, " batin Atan.
Atan yang sudah sampai di depan ruang operasi melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa di sana. Atan melangkah sambil melihat ke sana-sini, saat ada perawat yang lewat Atan menghentikan perawat tersebut sambil bertanya,
" Di mana keluarga pasien yang tadi melakukan operasi? "
" Oh pasien yang terkena peluru beracun itu ya pak. Mereka ada di ruang rawat. 034m, " jelas sang perawat.
" Oh baiklah terimakasih, " seru Atan pada perawat tersebut.
Atan berucap dan kembali melangkah sambil mencari nomor kamar rawat yang tadi disebutkan sang perawat itu. Sedangkan perawat tersebut melihat sekilas Atan, lalu kembali memutar tubuhnya untuk melangkah ke depan.
Saat Atan yang sudah ada di depan pintu rawat Kara, Atan menghentikan kakinya. Atan menarik nafas dalam-dalam sambil menahan tangis yang kembali mengalir. Yah sebelumnya Atan dikabari Jongky bahwa kondisi Kara memburuk, dan Kara sedang melakukan operasi.
Jongky mengatakan pada Atan bahwa operasi Kara berjalan dengan lancar, mendengar kabar baik itu tentu saja Atan sangat bahagia. Namun saat Atan membaca pesan Jongky yang mengatakan kalo waktu Kara tidak lama lagi. Racun itu sudah menyebar ke seluruh saraf tubuh Kara. Hanya muzisat Tuhan yang dapat menolong Kara, Namun Jongky tidak meberitahu ke Atan kalo Kara sudah dipindahkan ke ruang rawat jalan. Makanya Atan tidak tahu kalo sebenarnya Kara sudah dipindahkan.
Atan mendegar suara tawa khas Kara seperti biasanya pada Bibi Kara Anna, Rani, Reno, Kanta dan Ceka serta kedua sahabat Atan. Mereka semua berkumpul di dalam untuk menghibur Kara, Setelah mengontrol suaranya dan mimik wajahnya agar tidak kelihatan seperti orang yang sedih, Atan menarik nafas dalam-dalam menghembuskanya dari mulut secara pelan-pelan.
Lalu Atan memberanikan diri untuk masuk menjenguk Kara. Saat Atan masuk ke dalam semua orang di sana menatap Atan dengan senyuman. Kara yang tadi tersenyum melihat ke arah Atan. Kara pun terdiam dan tidak tersenyum seperti tadi lagi, Jonggky dan Chiko menghampiri Atan,
" Tan... maaf jika aku tidak memberitahumu kamar Kara dirawat, " ucap Jongky.
" Tidak apa-apa... aku mengerti, " jawab singkat Atan pada Jonggky.
Atan dan Jongky yang mengobrol beberapa menit, setelah menjawab ucapan Jonggky. Atan kembali lagi menatap dalam Kara yang dari tadi menatapnya dengan wajah cantiknya yang sangat pucat. Atan memaksakkan senyumanya walau itu sangat terlihat dimata Kara bahwa Atan sedang berusaha menahan tangisnya.
Atan melangkah menghampiri Kara dengan senyuman tipis diukir dari bibirnya, saat dihadapan Kara, Atan tersenyum sambil membungkukkan tubuhnya ke kasur, dan Atan menumpukan pantatnya di atas kasur sebagai alas kursi untuk didudukinya. Atan menatap dalam Kara sambil tanganya yang satu menyentuh wajah Kara.
" Apa kamu baik-baik saja? aku hampir gila saat tahu kalo kondisimu..., " ucapan Atan terhenti saat jari Kara ditempelkan dibibirnya.
" Aku baik-baik saja, " ucap Kara dengan tatapan dalam pada Atan.
" Mengapa senyumanmu seperti bukan senyuman? Aku tahu kamu menghwatirkan diriku... ini bukan salahmu...ini adalah takdir.."
" Jika nanti aku tidak ada disampingmu..bukan berarti aku meninggalkanmu namun hanya waktu dan tempat yang kita tempati berada pada dimensi yang berbeda, jadi jangan menahan tangis itu, aku selalu bersamamu..hem..., " ucap Kara sambil memeluk Atan dengan sangat lembut.
Kara melepaskan pelukanya pada Atan sambil menatap Atan dengan senyuman. Kara berpaling pandanganya menatap Rani dan Bibi yang sedang menangis. Kara meminta pada Rani untuk bersama bibinya...di saat Kara tidak ada di rumah. Kara mengatakan pada Anna untuk memasakan makanan kesuakanya hari ini juga. Kara ingin memakan makanan kesukaannya yang dibuatkan khusus untuk Kara. Anna menyetujui permintaan Kara...lalu Anna dan Rani pergi meninggalkan Kara dan Atan sendirian.
Air mata Kara pun mengalir deras saat merasakan sakit dari tubuhnya sambil menatap kepergian Anna dan Rani yang sudah menghilang dari tatapan Kara. Kara menghampus air matanya sambil kembali memutar tubuhnya menatap Atan yang sudah menangis sedari tadi, Atan menatap air mata Kara yang mengering dimatanya.
Atan tidak menahan tangisnya karena Atan, tahu kalo saat ini Kara sedang berusaha kuat dihadapanya. Kara menyentuh lembut kedua pipi Atan dengan kedua tanganya sambil menatap dalam Atan. Ibu jari Kara menyeka lembut air mata Atan yang mengalir sambil berucap dengan suara yang lembut.
" Jangan menangis... aku baik-baik saja, aku sunguh...dan sungguh baik-baik saja. Hem..."
" Di saat aku tahu kau mencintaiku...aku bahagai...sangat bahagia...jika nanti aku tidak ada disampingmu..."
" Bukan berarti aku meninggalkanmu... melainkan kita berada di demensi yang berbeda. Aku adalah langit dan angin yang akan selalu bersamamu. "
" Jika memang sudah saatnya aku pergi...maka yang pasti aku selalu ingin kamu mengingat saat-saat di mana aku mencintaimu... saat dimana aku memelukmu...dan saat diamana aku selalu bersamamu..., " ucap Kara.
Kara berucap sambil melepaskan kedua tanganya dari wajaha Atan. Kara mendekatkan wajahnya pada wajah Atan. Kemudian Kara memajukan bibirnya dan kini bibir Kara ditemepelkan di kening Atan.
Ciuman emosional penuh tangis datang, di mana saat itu Kara mencium lembut kening Atan dengan deraian air mata mengalir dari kedua pupil matanya yang menutup. Kara pun menyandarkan tubuhnya di bidan dada Atan. Sambil mengatakan satu kata pelan pada Atan.
" Pelukalah aku...saat ini diriku membutuhkan pelukanmu.., " bisik pelan Kara.
Atan yang mendengar bisikan Kara... Atan langsung memeluk Kara dengan sangat kuat sambil menangis...kerass... dan saat itu juga jantung Kara berhenti...nafas Kara tidak lagi bernafas...kedua mata Kara pelan-pelan...menutup dan kini tangan Kara terlepas dari tubuh Atan. Kara telah pergi meninggalkan Atan dan semuanya. Atan yang mengetahui kalo Kara sudah meninggal... Atan menangis dengan sangat histeiris dan terus memanggil nama Kara. Namun sayang Nama yang biasa ia panggil kini tidak bisa menjawab pangilan Atan.
Reno, Kanta, Ceka, kedua sahabat Atan dan Rani, serta Anna yang mendengar tangis Atan...mereka semua ikut menangis di luar.
" Saat cinta ini terbalaskan...saat aku meraskan pelukan cinta ini...aku mengingat ketika aku mencintainya...aku meraskan kemarahanya...merasakan hatinya yang hancur...merasakan tangisan yang tidak bisa aku hibur..."
" *Mungkinkah ini takdir cinta kami...semua berjalan seperti diriku sedang melangkah di atas padang pasir...aku ingin memeluknya...tapi mengapa diriku tidak bisa.... aku ingin memeluk dirinya yang goyah saat ini"
" Dan mengatakan padanya kalo aku ada bersama dirinya..." suara hati Kara.
" Kara....! Kara....! " tangis Atan*.
Saat Atan yang terus memanggil naman, Kara sambil menangis keras saat itu juga air mata mengalir dari kedua bola mata Kara. yang artinya bahwa semua suara hati Kara hanya bisa ia ucapkan dengan kedua butir air mata itu.
" *Mengingat ketika aku mencintaimu, saat mencintaimu...aku ada di dalam matamu... aku hanya ingin mengatakan peluklah aku sayang saat diriku goyah, " lagu my love dari lee hi ost scarlet heart ryeo mengiringi kepergian Kara dan tangis dari Atan.
TAMAT*