ATABUAN

ATABUAN
AKU MENUNGGGU~ Atabuan.



Suasana pagi itu membuat langit diliputi kabut hitam seakan terjadi mendung yang sebentar lagi akan ada hujan deras. Tatapan kedua mahkluk yang berada di dunia manusia itu masih sama. Hingga salah satu dari kelima komplotan Atan memecahkan tatapan tajam mereka berdua yang sebentar lagi akan saling menyerang lagi seperti sebelumnya.


Rio melangkah ke depan berdiri di di samping Atan yang tatapanya di lain mata.


"Tan. Kita ke kelas 'yuk! Ingat ini masih di arena sekolah, jangan membuat hal gegabah", Ucap Rio dengan menatap ke Atan yang tidak menatapnya. Mendengar perkataan Rio Atan memiringkan bola matanya sedikit ke samping, yang dalam arti Ia sedang mendengarkan ucapan sahabatnya tersebut. Tidak lama Atan ikut berkata pada Rio yang hendak berjalan.


"Ok". Setelah menjawab perkataan Rio Atan kembali bersuara.


"Gue baru sadar kalo gue buang-buang waktu meladeni lo, Karena ada seseorang yang penting sedang menunggu gue di kelas", Ucap Atan dengan santai sambil tersenyum puas pada Reno.


Rani yang mendengar perkataan Atan melototkan matanya dengan ekspresi kaget. Karena selain Dia yang pacaran dengan Atan tudak ada yang penting lagi bagi Atan selain keluarga dan sahabatnya.


"Ko, ada orang lain di kelas?"Batin Rani.


Rani kembali memutar-mutar otaknya mengingat kembali siapa orangnya. Saat Rani melihat lapangan Ia baru sadar kalo orang yang dimaksud pasti Kara. Yang menjadi pertanyaan Rani.


"Mengapa Atan mengatakan kalo Kara penting?" Batin Rani lagi.


" Maaf tapi kali ini gue lagi malas untuk meladeni lo", Ancam Atan dengan kata-kata halus saat Ia sudah mau melangkah pergi sambil membisik di samping telinga Reno. Dengan jarak yang tidak bisa di hitung karena mereka sangat dekat dan tatapan tajam yang sangat lurus ke depan.


Atan menarik bibirnya ke atas dengan senyuman miring lalu, kembali melangkah ke depan mengikuti ke lima temanya yang sudah lebih dulu di depan. Sambil memasukkan kedua tanganya di sembunyikan di dalam saku celana.


"GUE SUDAH BILANG", ucap Rio pada Atan saat Atan baru mau melangkah pergi Rio secepatnya mencekal lengan kanan Atan, dengan tatapan mata miring sangat tajam ke samping telinga Atan, sambil tersenyum culas. Lalu Ia kembali melanjutkan perkataanya.


"JANGAN MEMANCINGKU", ucap Reno dengan tatapan miring dan penuh tekanan pada setiap kata yang diucapkan dari mulutnya.


"AKAN KU TUNGU, JIKA KAMU MAU MENCOBA", balas Atan yang tidak kalah tajam dari Reno dengan penuh tekanan pada kata-katanya, sambil tersenyum miring lalu melepaskan kasar tangan Reno dari lenganya. dan melangkah pergi meninggalkan Reno.


Reno yang mendengar ucapan Atan hanya tersenyum cerdik pada perkataan Atan saat, Ia menatap Atan dan komplotanya sudah membelakangi mereka. Dan melangkah keluar dari lingkaran huruf U tersebut. Reno memberi kode mata pada Rani untuk pergi mengikuti mereka. Di mana Rani yang masih bingung melihat sikap Atan. Suasana kembali ke semula saat Atan, Rani, dan komplotanya sudah melangkah meninggalkan lapangan.


Reno berbalik dengan ke dua temanya melangkah ke anakan tangga yang satu menuju ruang guru. Untuk bertanya kelas mana yang harus mereka masuk.


"Tok....tok... Permisi Bu boleh kami masuk? ketokan pintu dari luar oleh tangan Reno pada salah satu ruang kantor sekolah, yang mengatur untuk pemindahan dan penerimaan sisiswa baru serta pembagian kelas.


"Silakan masuk. Pintu tidak terkunci 'ko", suara dari dalam ruangan.


"Kalian bertiga murid baru ya?" tanya Bu Olga. Salah satu guru yang bertugas di ruangan tersebut. Saat Dia mentap ketiga anak baru itu yang tidak lain adalah Reno, Jefri, dan Saji sudah berdiri di hadapanya.


"Ya Bu", sahut Reno mewakili kedua temanya, Sambil membungkukan kepalanya ke bawah sebagai tanda hormat pada Bu Olga.


"Oh..silakan duduk", Ibu Olga mengangukan kepala pelan-pelan lalu, mempersilakan ketiga murid itu duduk di kursi yang sudah di sediakan olehnya dan berhadapan secara langsung dengan dirinya.


Reno, Jeffri dan Saji menerima surat-surat formulir. Sambil mengisi formulir, Reno, Jeffri dan Saji memperkenalkan nama mereka satu persatu, usia saat ini, pekerjaan orang tua, nama sekolah lama. Dan Alasan mereka pindah. Di depan Ibu Olga yang sedang duduk menghadapi mereka dengan lagi memfokuskan pikiran pada ucapan mereka bertiga.


"Baiklah aku sudah mengetahui nama kalian bertiga, Walau alasanya kurang tepat. Itu tidaklah penting bagiku. Yang Aku harapkan dari kalian bertiga sebagi murid baru di sini. Harus menyusuli materi sekolah yang mungkin belum kalian dapatkan saat terjadi proses belajar mengajar di sekolah. Mematuhi semua peraturan di sekolah ini secara disiplin dan benar. Kelas kalian di XI.S2", Jelas Ibu Olga Dan memberi tiga kartu tanda pengenal sekolah pada ketiga murid tersebut


Selesainya dari ruang guru ketiga siswa itu melangkah menuju kelas XI.S2. Langkahan Reno semakin di percepat dan setiap melewati koridor sekolah Dia terus-menerus tersenyum. Tidakan Reno yang membuat Jeffri dan Saji saling memandang memberi kode mata satu sama lain yang artinya mereka bingung.


:


:


:


Di kelas sebelas sosial 2. Ruangan Kelas sudah di penuhi murid-murid kelas. Banyak dari mereka ada yang bercerita. Ada juga yang membaca seperti Kara dan beberapa temannya. Ada yang merias- rias wajah seperti Sanci. Ada Yang sedang mempersiapkan diri menunggu guru yang menjar kelas pertama. Atan sedang duduk bercanda dengan Rio dan Fandi. Di deretan Rio. Sedangkan Rani lagi bercerita pada kedua teman kelas ceweknya. Mereka adalah Jenny dan Nona.


Kara hanyan terdiam membisu, karen Itu adalah kebiasaan Kara. Karena Ia ikut terhayut dalam suasana buku yang di bacakannya itu.


"Ran. Lo beruntung banget menjadi pacar Atan. Selama ini kita berharap baget bisa jadi pacar Atan", ucap Nona pada Rani.


"Ya Ran sumpah lo cewek paling beruntung di sekolah ini, tambah Jenny".


"Kalian berdua terlalu memuji Atan, aku juga gak nyangka sih, bisa pacaran sama Atan, tapi kentataanya hari ini Dia datang pagi- pagi memperkenalkan aku sama papanya", ucap Rani sedikit merendahkan hatinya.


"Lo cewek pertama yang dikenalkan Atan sama Orang tuanya. Dulu ada Risa anak kelas sebelas 1, ketua geng cewe-cewek kelas yang centil itu. Tapi Dia pacaran dengan Atan tidak lama ngak tahu berapa lama yang jelasnya Atan memutuskanya.", jelas Jenny.


"Gue do..ain semoga lo sama Atan langgeng selalu, tutur Nona".


"Amin. Terima kasih untuk suportnya Non".


Sedangkan Kara hanya tersenyum saat Ia yang tadi fokus membaca. Kini pikirannya fokus kembali pada percakapan Rani dan komplotan yang ada di bangku depan sedang duduk berhadapan, saling memandang satu sama lain. Mendengar hal tersebut Kara melirik sebentar ke Atan yang juga sedang menatapnya. Kedua bola mata antara Kara dan Atan saling bertemu, dalam beberapa menit.


Atan tersenyum tulus pada Kara. Kara yang melihat senyuman Atan membungkukan kepalanya. Sebagai tanda hormat, lalu kembali memutar tubuhnya berbalik ke depan. Di saat suasana hati Atan lagi bahagia. Disitulah muncul musuh Atan yang membuat satu kelas jadi heboh. Reno berdiri di depan pintu kelas dengan diikuti ke dua temanya. Anak-anak di kelas ikut berteriak histeris kecuali Kara, Rani, Atan, Fandi dan Rio. Sejenak Reno melihat wajah bahagia Rani.


Rio, Fandi yang masih tersenyum satu sama lain. Senyuman itu hilang saat Rio melihat ekspresi wajah Atan yang kesal. Di mana Atan yang memutar tubuhnya ke depan meja guru. Dari sorot mata Atan berubah menjadi berbeda. Menatap Reno namun pandangan Reno tertuju pada Kara. Reno Yang Sedang tersenyum bahagia pada kedua bola mata Kara yang juga sangat kaget, dengan melototkan matanya pada Reno.


Mereka berempat saling berpandangan satu sama lain. Tatapan Atan ke Reno, Kara dan Reno saling menatap dengan ekspresi berbeda. Sedangkan Rani mengikuti tatapan senyuman bahagia dari Reno yang jatuh pada musuh Rani yang tidak lain adalah Kara.


BERSAMBUNG.