ATABUAN

ATABUAN
KETEGANGAN KARA.



Episde 64



Di tengah-tengah pertarungan sengit antara Atan, Reno dan para pasukan gerombolan paman Rani yang bertugas menjaga di luar, gerbang utama markas Cakandani yang digunakan untuk menyekap Kara.


Di sisi lain Dodi atau paman Rani dan Diko, atau sekertaris pribadi paman Rani melangkah menuruni anakan tangga menuju ruang bawah tanah. Di mana itu sebuah penjara jeruji besi atau tempat yang mereka gunakan untuk menyekap Kara. Saat Dody masuk ke ruangan itu ia begitu kaget saat melihat wajah Kara yang tergores luka-luka kecil dan darah di sekitar wajah cantik Kara serta rambut Kara yang begitu berantakan.


Ternyata Dody sadar kalo ini pasti kelakuan keponakanya, dan saat Dody tersadar dari pikiranya, tiba-tiba Rani sudah ada di ruangan itu dan mulai kembali menyiksa Kara dengan menampar Kara lagi hingga Kara terjatuh dan tersungkur di lantai.


" Rani...! " jerit Dody yang sudah emosi dengan sikap keterlaluan keponakanya itu.


" Hentikan sikap jaham kamu ini, sekarang kita sedang dalam situasi bahaya, kamu tahu di luar ada monster singga Atan dan monster harimau Reno sedang menyerang markas ini."


" Jika kamu terus melukai dia maka semua, rencana paman untuk mendapatkan permata merah itu akan gagal total ! " ucap tegas Dody pada Rani dengan tatapan tajamnya yang tidak berkedip sedikit pun.


" Apa...? Atan rela membahayakan dirinya demi gadis sampah ini? " tanya Rani syok yang tidak percaya kalo seorang Atan rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Kara.


" Jika Atan tidak bisa aku miliki maka kamu pun tidak bisa miliki Atan "


" Ahhhhh.... aku mohon Ran... aku... sama sekali tidak mengerti apa maksudmu dari semua ini, " tangis Kara lagi saat bahu kirinya diinjak oleh kaki Rani dengan sepatu bot besar yang ia kenakan membuat Kara menahan sakit di bawah sana.


" Raniiii... hentikan ini.... apa kamu sudah tidak waras?"


" Cepat hentikan dia, jika tidak aku akan gagal dalam semua rencana yang selama ini aku inginkan! " perintah paman Rani pada pasukannya yang ada di sana untuk memisahkan Rani dari Kara.


" Lepaskan aku...! paman ku mohon biarkan aku membunuhnya... keluargaku hancur karena ibunya dan sekarang cinta dan impianku gagal dan hancur karena anaknya"


" Biarkan aku membunuhnya.....! aku benci kamu Kara...aku membencimu...! " jerit tangis isyak Rani saat dirinya sudah dipisahkan dari tubuh Kara yang masih lemas di bawah sana.


Rani menangis dengan histeris dan suara kencang sambil berlutut di hadapan pamanya yang sedikit jauh darinya sambil mengatup kedua tanganya memohon pada Dody. Sedangkan Kara yang mendengar suara tangis pertama kali di lihat oleh Kara menjadi sangat Iba pada Rani. Tapi Kara bingung dengan ucapan Rani yang mengatakan kalo karena almarhum ibunya yang menghacurkan keluarga Rani.


" Bawa dia ke luar, dan jalankan rencana ketiga kita ! " perintah paman Rani pada pengawalnya yang mengkawal Kara dengan suara yang tegas dan lantang.


Tanpa bertanya lagi para pengawal itu membawa Kara ke luar dari ruangan bawah tanah menuju halaman pintu utama gerbang markas Cakandani. Di sisi lain sikap Kara saat ini semakin bingung dan takut akan apa yang terjadi pada dia selanjutnya, dia selalu bertanya apakah takdir kematianya seperti ini?


Rani, Diko , Dody dan tiga pengawal yang berdiri berjaga- jaga di ruang bawah tanah hanya melirik sebentar ke tubuh Kara yang dibawa oleh pengawal lain hingga menghilang dari tatapan mereka.


" Paman tahu kamu sangat menyukai Atan, paman tahu kamu terjatuh dalam lingkaran larangan itu, jika kamu mengin, 'kan, Atan tidak dimiliki gadis itu, maka ikutilah rencana paman, " pinta Dody sambil menatap sendu ke arah Rani yang masih menangis di bawa sana.


" Apa maksud paman ? " tanya singkat Rani sambil menyeka air mata yang ada di kedua pipinya.


" Permata merah adalah kunci dari kerajaan abadi Atabuan. Permata itu sudah menyatu dengan tubuh Atan. Jika permata itu berhasil direbut paman maka tubuh Atan akan menghilang dari dunia ini. "


" Dan itu artinya Kara juga tidak bisa miliki Atan seutuhnya. Soal balas dendam ibumu percayakan semuanya pada paman, setelah permata merah itu jatuh ke tangan paman maka Kara juga akan menghilang dari bumi ini. Duduk dan lihat saja permainan sesungguhnya baru di mulai, " seru Dody sambil memutar tubuhnya dengan senyuman licik di ukir dari bibirnya sambil melangkah pergi meninggalkan Rani.


" Dasar keponakan bagong, setelah aku dapatkan permata itu maka kamu pun akan aku hilangkan dari dunia ini, kenapa kamu tidak sadar kalo yang membuat ibumu sampai masuk di rumah sakit jiwa itu paman bukan Ibunya gadis malang itu, Kara. Kenapa kamu tidak sadar kalo keluargamu hancur karena campur tangan paman anak bodoh, " batin Dody sambil terus tersenyum-senyum licik dan melangkah pergi.


Namun ucapan Dody membuat Rani bingung, sendiri dengan ucapan pamanya, Rani yang diliputi banyak pertanyaan di kepalanya hanya diam dan terus memikirkan kemana-mana. Tanpa di sadari Rani sekertaris pribadi pamanya Diko sedang memperhatikan dirinya dengan tatapan dalam penuh arti.


Situasi di luar semakin tegang, di mana Kara, yang di perintah berdiri di tengah-tengah pasukan berpistol kamera senapan semua dari masing-masing pengawal Dody yang sedang diarahkan pada Kara, para pengawal itu mengelilingi Kara dari samping, kiri, kanan, depan dan belakang semua ratusan peluru dan mata mengarah ke tubuh lemah Kara. Yang ada di tengah-tengah mereka tepat di depan gerbang utama markas Cakandani. Ini adalah taktik Dody untuk memancing Atan dan sekaligus melemahkan Atan demi mendapatkan permata merah Atabuan.



Karena kelemahan seorang pria sejati adalah, gadis yang dia cintai. Sama seperti Atan sekuat atau sehebat apa diri Atan jika sudah dihadapkan pada Kara tentu saja pilihan yang berat untuk seorang Atan.


Bersambung.


Cast visual Cakandani.