ATABUAN

ATABUAN
PERTOLONGAN ~ ATABUAN.



Eddy terus membantun paksa kemeja Kara yang membuat kemeja di punggung gadis itu menggoyakan lagi.


Kara terus menangis sambil berteriak meminta tolong namun sayang tangan kekar lelaki itu lebih kuat. Hingga membuat Ia menutup mulut Kara dengan sangat keras. Eddy terus memaksa Kara sambil mencekram kuat kedua tangan Kara, dan bibirnya bergerak ke leher gadis itu.


"Kau pikir aku merawatmu sejak kecil hingga tumbuh dewasa, dan tidak mendapatkan apa-apa...? Sudah lama aku menantikan hari ini, menikmati setiap tubuhmu ini", menatap wajah dan kedua pungung Kara dengan tatapan penuh gairah sambil, membuka bajunya entah di lempar ke mana, kini dada lelaki itu sudah terbuka setengah tanpa baju.


"Pa...man, ja....ng"


"Diam...diam dan turuti semua kemauan aku. Kali ini aku tidak akan melepaskan kesempatan istimewa ini. Kau pikir aku senang menikahi wanita balu itu? tidak... Dia sama seperti kotoran yang sama sekali tidak ada nikmat. Karena apa? karena Dia sudah tadak virgin saat menikah denganku", tutur Eddy.


"Sayang tenanglah paman akan memuaskanmu...", suara Eddy begitu lembut di telinga Kara.


Tapi gadis itu terus-menerus menangis keras dan ketakutan berharap ada yang bisa menolongnya. Kara sudah mencoba dengan keras mendorong berulang-ulang tubuh kekar Eddy tapi sayang tenaga Kara tidak sebanding dengan tenaga pamanya.


:


:


Mobil Reno memasuki perumahan yang sepi. Mata Reno dari kaca melirik rumah-rumah sana sini seperti mencari suatu alamat yang belum ditemukan. Lalu Ia berhenti sebentar di salah satu gang jalan sepi. Reno berpikir sebentar mengenai kesepian di perumahan yang Ia masuki tersebut.


Ia berpikir Mungkin karena sudah malam jadi wajar semua orang di perumahan itu sudah pada tidur pulas. Kembali melajukan mobilnya sebentar ke depan dan,


Reno menghentikan mobil di sebuah rumah yang sederhana, di mana rumah itu begitu sepi seperti tidak ada penghuni. Reno turun dari mobil menutup kembali pintu mobil supir. Lalu berdiri di depan mobil sambil melihat tulisan yang di ambil dari saku jaketnya.


Yang mana tulisan itu tertera alamat rumah Kara M28. Reno tersenyum lega lalu mencoba memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam mobil, Ia berpikir besok baru jemput Kara. Namun tiba-tiba suara teriakan seorang gadis dan pria dari balik rumah tersebut.


Reno sedikit diam dan mencoba mendengarkan ulang kembali, dalam sekejap suara itu semakin menjadi di telinganya. Reno melangkah pelan mendekati pintu utama rumah Kara, di sana Dia mendengar suara Kara yang menagis histeris namun seperti suaranya ditutup oleh seseorang. Tanpa pikir panjang, Reno berteriak memanggil-manggil nama Kara.


"Kara...Kara...buka pintunya! Ini aku Reno"


Eddy dan Kara yang mendengar suara itu dari dalam membuat Eddy geram, dan menatap Kara dengan penuh amarah dan tatapan tajam, yang membuat Kara semakin ketakutan.


"Siapa yang malam-malam begini datang mencarimu? Kau bilang ke aku bahwa Kau masih polos, tapi lihat para pria yang kau layani itu, datang malam-malam ke rumah mencari dirimu? ini yang kau katakan kalo kau masih murni?, Cuihh....", ucap Eddy dengan penuh tekanan pada Kara sambil meludahi wajah Kara.


"Paman.... To...lo, um...um...", Kara belum selesai berkata Eddy kembali menutup keras mulut Kara dengan tanganya. Lalu lelaki itu kembali berucap.


"Diam...aku bilang diam! jangan melawan!"Teriak Eddy pada Kara.


Reno melangkahkan kakinya mundur pelan ke belakang, menutup kedua matanya dan membuka kedua bola matanya kembali.


Terlihat jelas kedua bola mata Reno berubah warna kuning. Dengan siagap Reno berlari lalu melompat dengan kedua kakinya dibentuk seperti huruf L. Kaki kiri Reno menendang pintu kayu coklat itu dengan keras hingga pintu itu terbuka lebar. Reno berdiri tegap di hadapan pintu itu, lalu kedua mata Reno melotot lurus saat, Ia melihat paman Kara yang masih di tempat sana dengan Kara, dan tangan lelaki itu yang satu sedang menutup mulut Kara


"Kau... Lelaki ****** sini kau...", Tarikan keras tangan Reno pada lengan Eddy dengan mendorong tubuh Eddy di tembok keras.


"Beraninya Kau mau menodai seorang gadis muda...haa...!" Ucap Reno dengan menggigit kedua rahang giginya hingga membentuk urat-urat ototnya, lalu tangan Reno mendarat di wajah Eddy berkali-kali.


"pong....pong..beraninya Kau. Pong...", gempuran demi gempuran dari tangannya di daratkan keras pada wajah Eddy, yang membuat wajahnya bengkak semua dan bercucuran darah.


Eddy tidak tinggal diam saja dengan mengepalkan satu tanganya keras lalu, Dia melayangkan satu gempuran yang kencang tepat di perut Reno.


Sedangkan Kara masih menangis dengan histeris di sofa. Air mata gadis itu tidak habis berhenti, Ia terus menerus menangis akan sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya, yang mungkin akan hilang, jika Reno tidak datang. Tanpa sadar akan laga dari kedua lelaki yang saling menyerang satu sama lain di hadapanya itu. Gadis itu terus-menerus menangis tiada hentinya.


" Pang....", beraninya kau memukulku, gigitan rahang eddy yang sangat kuat membuat tulang rahangnya membentuk.


Reno yang merasa kesakitan di perut mundur sebentar ke belakang, namun Reno menutup kedua bola matanya, dan kembali membukanya terlihat amarah pada wajah Reno seperti amarah harimau yang berapi-api.


Dengan satu tendangan kaki Reno melayang keras di pipi kanan Eddy yang membuat Eddy jatuh tersungkur di lantai rumah. Reno melangkah maju lalu duduk di atas perut Eddy tak henti-hentinya Reno mengempur wajah bonyok Eddy. Membuat wajah lelaki itu bercucuran darah ke mana-mana. Baik dari mulutnya, bibirnya hidungnya atau pun kedua pipinya yang bengkak.


Saat Kara sadar dari ketakutanya sendiri gadis itu, secepat mungkin bangkit berdiri dari sofa. Karen ketakutan akan sesuatu terjadi pada pamanya, Ia melangkahkan kakinya yang satu ke depan di mana Reno yang masih diatas tubuh Eddy.


"Ren. Ku mohon jangan pukul paman lagi, ku mohon....bawa aku pergi dari sini. Ku mohon....", air mata itu kembali mengalir saat Kara yang mengatup kedua tanganya sambil bersimbah sujud di lantai memohon pada Reno.


Yang membuat Reno melihat Kara begitu dalam di saat air matanya mengalir di kedua katupan tangannya. Dengan emosi yang masih meluap namun amarah itu sudah agak redah, Reno bangkit beridiri dari perut Eddy. Sedangkan pria tua itu sudah lemah di bawah sana dengan wajah yang babak belur. Mungkin karena hantaman dari Reno begitu keras yang membuatnya tidak bisa bangun lagi untuk melawan Reno.


Bersambung.


 


***Jangan Lupa like, komen, dan tekan bintang di karyaku ini. Terimakasih🙏🙏❤🤗***