
Saat Kara dan teman-teman baik dari Atan maupun Reno masuk. Mereka terkejut dengan kebobrokan dalam klub. Seakan itu bukan bercekcokan biasa dari manusia biasa, melainkan aduan fisik dari sesuatu.
"Atan!" teriak Kara saat melihat Atan yang pingsan di dalam ruangan klub.
Semua teman dari kedua belah pihak baik Atan maupun Reno, ikut melihat ke arah Kara yang sudah lebih dulu tersungkur di lantai, sambil mengambil bagian rambut di pingiran pipinya di masukkan ke kedua telingganya. Saat Ia menatap Atan yang terbaring kaku.
"Atan kamu baik- baik saja kan...?" tanya Kara yang sudah menangis isyak saat menatap Atan yang pingsan, dengan kedua matanya tertutup di kedua pangkuan pahanya.
"Ada apa ini? kenapa Atan pingsan? dan kenapa ini tempat kayak pengoroyokan dari sekelompok geng?" tanya Fandi pada keempat temanya itu.
" Ini bukan keroyokan, lo lihat tembok sana, sepertinya ada sesuatu yang menganjal, pukulan manusia biasa tidak mungkin menghancurkan tembok sampe retak", pendapat dari Rio.
"Benar juga si Io, lalu apa yang membuat kehancuran disini?" tanya Willem.
Keempat sahabatnya hanya mengangkat bahu yang artinya mereka tidak tahu. Lalu suara dari Jonggky kembali.
"Nanti kita tanyakan pada si bos saja, dari pada berdebat dengan hal yang tidak jelas", Suara Pinky.
Suara kelima sahabat ini kembali Diam saat melihat Kara yang menangis histeris pada Atan. Seperti tangisan seorang yang takut kehilangan seseorang.
"Atan...pliss bangun! Pliss Tan...!" tangis histeris dari Kara yang membuat teman-teman Atan dan Reno saling melihat satu sama lain, dengan tangisan ketulusan dari Kara pada Atan.
"Kenapa kalian diam? tolong lakukan sesuatu pada bos? kita bawakan ke rumah sakit" tandas Kara pada kelima mata dari komplotan Atan.
" Kenapa dia menangis? seakan takut kehilangan Atan?" bisik Jonggky pelan pada Chiko.
"Nanti saja penjelasannya, ini masalah nyawa Atan", dengus Chiko balik.
" Jangan menangis Kar. Ayo semuanya kita bawakan si bos ke rumah sakit!, tutur Chiko"
"Baiklah, Ayo! Ajak Rio kembali pada kedua temanya yang masih bingung dengan sikap Kara"
Mereka membawa tubuh Atan yang tergeletak di lantai ke luar dari ruangan. Jonggky dan Chiko di kepala Atan, sedangkan Willem dan Fandi di kaki Atan. dan Rio mengkawal Kara dan teman/temanya tersebut ke mobil pribadi Fandi.
"Di mana bos Reno? ko dia tidak ada?"tanya Saji pada ketiga temanya.
"Saj. lo lihat semua ruangan ini berantakan total, bahkan lo lihat retakan pada tembok itu? Bagaimana mungkin manusia biasa bisa meretakkan tembok ?" tanya jeffri salah satu komplotan Reno pada Saji saat mereka mengelilingi setiap kebobrokan baik dari kursi, meja, dan semua tembok-tembok.
"Soal itu nanti kita tanyain pada Reno pas di beskem, sekarang telpon anak buah lo untuk urusin semua masalah di kafe ini! nanti baru kita minta ganti rugi pada Reno saat pindah sekolah", ucap Saji kembali.
:
:
:
Di sisi lain Kara terus menangis melihat Atan yang tidak sadarkan diri dari tadi, walau tidak ada luka pada Atan. Tapi Kara tetap saja menangis dengan kekewatiranya.
Rio, Jonggky, Willem, dan Chiko hanya diam memperhatikan kesedihan mendalam dari Kara. Seakan Kara begitu takut kehilangan Atan. Sedangkan Fandi tetap fokus pada penyetiranya di jalan.
"Kara 'Nih", pemberian tissu dari Chiko pada Kara yang tidak tega melihat kesedihan dari Kara.
suasana dalam mobil kembali sunyi hanya ada suara dari mesin mobil Fandi, sedangan Chiko, Willem, Rio, dan Jonggky memilih diam. Mereka tidak mau ikut campur dalam tangisan Kara. Bagi mereka hal pribadi yang terjadi saat ini wajar, walau ada sedikit kelebihan dari sikap Kara.
Saat suasana kembali dalam diam, tiba-tiba jari kelingking kiri Atan bergerak, dan kedua matanya pelan-pelan terbuka dengan tatapan buram. Namun saat mata Atan membuka sedikit demi sedikit Ia menatap sosok yang ada di hadapanya walau masih dalam tatapan yang belum jelas. Saat tatapan Atan sudah jelas Dia kaget melihat wajah orang yang sangat Ia benci, Dia adalah Kara.
Kara kembali menatap Atan saat, Ia tadi masih mengatakan ke Fandi agar lebih mempercepat kecepatan mobil namun, Kara kaget saat melihat kedua bola mata Atan yang sudah terbuka dengan tatapan sangat tajam pada dirinya.
"Bo...s? Ka....u?" suara Kara terhenti saat Atan memotong perkataanya.
"Lepasin gue ngapain lo pangku kepala gue di tubuh lo ", Ucap Atan yang emosi pada Kara karena memberikan kedua pahanya sebagai dsebagai tumpuan untuk kepala Atan.
"Kerong...lo sudah sadar? Syukurlah gue pikir lo sudah di ajal tadi", canda Jonggky sambil melototkan mata atas sikap Atan pada Kara.
"Kenapa si babu mangku gue?", Ucapan Atan terdiam saat Kara yang duduk dekat dengan dirinya langsung mengangkat kedua tanganya melingkar di lehernya. Dan memeluk Atan. Di mana Atan saat itu berbalik karena bertanya pada kelima temanya. Saat Atan berbalik kembali menatap Kara, tanpa pikir panjang Kara langsung memeluk Atan. Kedua tangan Kara semakin dieratkan di leher Atan.
"Terimakasih sudah kembali big bos.Terimakasih", seru Kara di balik pelukannya pada Atan sambil menghapus air matanya.
"Aku janji Aku tidak akan membantah perintah kamu, Aku pikir aku sudahhh....?" suara Kara terhenti karena Dia ingin mengutarakan perasaan sesungguhnya.
"Untuk sekejap perasaan itu mau aku utarakan padamu Tan, batin Kara".
Tak sengaja Fandi memutarkan musik romantis mememani mereka.Yang mengiringi pelukan erat dari Kara. Serta keterkejutan Atan dan Kelima sahabatnya itu dengan sikap Kara saat ini dan lototan mata dari masing-masing mata.
๐ต๐ถ I Miss You....I Miss you...
Bicausu I love you...
Allow me.... allow me....
๐ต๐ถ To live in your heart...
Although only in a dream....
ย
Bersambung.
ย
gimana ceritanya? bagus tidak jangan lupa like dan vote sebanyak yang kamu bisa, dan tinggalkan jejak yang membangun. hehhehe... terimakasih untuk semua yang sudah mampir๐๐.
ย
***Salam manis dariku sildaโค๐๐๐
maaf ya kalo chapternya yang ini agak pendek hehehhee๐๐โคโค๐๐***