
Atan mengengam lembut tangan Kara sambil menatap Kara dengan tatapan sendu dari kedua bola matanya. Tatapan Atan kali ini begitu berbeda dari sebelumnya seakan Ia merasakan apa yang di rasakan oleh gadis di hadapanya itu. Atan tidak peduli lagi pada seribu mata yang sedang menatapnya dengan banyak pertanyaan dari mereka, kini bagi Atan gadis yang ada di hadapanya ini lebih penting dari segalanya.
"Ikut Aku", Ucap Atan sambil mengengam tangan Kara begitu erat dengan tatapan dalamnya.
"Gue tidak akan biarin lo menyiksa Kara lagi!" suara nada tegas datang pada diri Reno saat Ia menatap tajam Atan sambil, mengengam tangan Kara yang satu dengan erat.
Reno menatap Atan begitu tajam begitu juga sebaliknya dari Atan. Dia kembali mengubah ekspresi wajahnya saat, melihat tangan Reno yang sudah menggengam tangan Kara. Rani, Sanya, Rika, dan Risa serta anak-anak yang lain sangat keget dengan sikap Reno dan Atan pada Kara. Tatapan dari keduanya terjadi dalam beberapa menit silam. Semua anak-anak gadis di sekolah itu sangat iri pada Kara tanpa kecuali Sanya dan Rindy teman kelas Kara yang cukup dekat dengan Kara.
Melihat kedua tatapan yang sebentar lagi akan bercekcok lagi, Kara segera mengeluarkan suaranya agar tidak terjadi lagi percekcokan dalam kelas.
"Atan ayo kita pergi. Maafkan aku Ren", suara Kara dengan melepaskan tangannya dari gengaman Reno sambil melirik ke wajah Reno yang sudah menatapnya.
"Kara...kamu tidak perlu melakukan hal itu, Pada mereka jika ini karena Bibimu maka aku akan....", belum selesai Reno berucap Kara segera memotong perkataan Reno dengan menatap kedua mata Reno yang juga menatap dirinya.
"Ren. Jika Atan melakukan sesuatu pada diriku, maka aku sendiri yang akan memberitahumu. Kali ini aku tidak mau melihat kamu terluka karena diriku", Jawab Kara balik dengan tatapan sendu sambil melihat wajah Reno yang sudah ada goresan luka di sana.
"Kara...", panggil lirih dari Reno.
Kara mengalihkan pandangan lurus ke depan saat Reno mencoba membujuk Kara.
Reno tahu kalo Kara dalam ketakutan, Ia bisa melihat kegementaran pada diri gadis itu dan keringat halus yang bercucuran di kening Kara. Reno mencoba terus menatap Kara dengan dalam sambil mengengam erat tangan Kara agar, gadis itu melihat dirinya tapi sayang Kara sama sekali tidak melihat Reno.
"Kara boleh kita bicara sebentar?" Ucap Reno lagi sambil menatap Kara.
Melihat sikap berlebihan Reno pada Kara Atan semakin kesal, dan kembali mengeluarkan suara tegas pada Reno.
"Apa kamu tuli? jangan halangin jalanku", Tegas Atan saat Reno mencoba membujuk Kara lagi.
Atan dan Kara pun melangkah melewati tatapan Reno sambil punggung Atan menabrak keras tubuh Reno. Saat kedua mata Reno yang masih menatap tubuh gadis yang ada di samping Atan. Terlihat kedua mata Reno sudah membendung tak, terasa kedua bola mata Reno mengeluarkan air. Untuk pertama kali dalam hidup Reno Ia harus menangis pada seorang gadis. Terakhir kali Reno menagis saat mengantar Jenazah Ayah dan Ibunya ke tempat peristirahatan terakhir.
Sejak kepergia kedua orang tua Reno, hari-harinya Ia jalan berlatih fisiknya dengan terus fokus pada kekuatan, perubahan pada tubuhnya dan sekolah di Amerika. Tanpa mengenal dunia luar. Setelah tumbuh dewasa Reno kembali ke Indonesia untuk, balas dendam kematian kedua orang tuanya. Reno ke Indinesia hanya satu tujuan yaitu Balas dendam pada sahabat kecilnya yaitu Atan. Dengan bekerja sama dengan Rani yang juga sama tujuanya menghancurkan Kara. Namun kini dirinya terjebak dalam lingkaran terlarang itu.
" Pertemuan kita adalah takdir, namun perpisahan dari kita adalah pilihan", Ucap Atan waktu dirinya berkenalan dengan Reno sambil menulis kata-kata itu di catatan komunikasinya.
Kata-kata yang di ucapakan Atan sangat benar. Pertemuan Atan dan Reno adalah takdir namun perpisahan seperti yang sekarang, terjadi adalah pilihan yang dibuat oleh Reno sendiri karena rasa dendam pada Atan.
Sambil menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya, Reno kembali berkata dalam hatinya saat melihat gengaman erat tangan Atan pada Kara.
" Kali ini aku tidak akan biarkan kau memilikinya, karena Dia adalah orang yang penting dalam hidupku", Batin Reno.
"Kali ini juga Aku takan biarkan wanita yang penting dalam hidupku harus menderita karena diriku", Batin Atan.
" Terima kasih kamu selalu ada di sampingku, kali ini aku akan ada di sampingmu Tan walau hanya dalam mimpi buruk", Batin Kara.
"Takan ku biarkan orang yang aku cintai di rebut oleh kau, anak dari wanita ******", Batin Rani. Tanpa Rani sadari Dia juga terlingkar dalam lingkaranya sendiri.
Pagi itu ke empat insan itu saling mengeluarkan isi hati mereka lewat kata hati.
Sambil memandang satu sama lain, Atan melirik ke Kara dengan sangat dalam, Kara membalas tatapan Atan dengan senyuman di ukir dari bibirnya saat keduanya melangkah menuju pintu.
Sedangkan Reno menatap gengaman tangan Atan pada Kara, dengan menghapus air mata dari pipinya, dan Rani menatap senyuman dari Kara dengan mengepal tangan pada jari jemarinya dengan sangat kuat dan pandangan Rani sangat tajam pada senyuman dari Kara.
***Terkadang seorang pria mencintai wanitanya dengan cara mereka sendiri, terkadang cinta juga bisa melukai orang\-orang yang kamu sayangi***.
Akankan Atan mampu melindungi Kara dari bahaya Eddy dan Cakandani? lalu bagaimana Jika Atan mengetahui kalo paman Kara ikut terlibat, dalam tragedi pembunuhan adik kesayangnya? Mampuhkah Cinta Kara melumpuhkan kemarahan Atan? semuanya terjawab dalam episode - episode selanjutnya.
Bersambung.
Jangan lupa vote, laike, saran dan komen terima kasihh🙏❤ buat yang sudah mampir🙏