ATABUAN

ATABUAN
Pergi~ Atabuan.



Setelah makan di rumah Kara dengan Bibinya kini tiba bagi Atan untuk pamit pergi dari rumah Kara. Kara di perintah oleh Bibinya untuk mengantar Atan ke depan gerbang rumah yang tidak jauh itu. Kara sedikit menolak namun karena paksaan dari Ana terus menerus akhirnya Ia pun pergi mengikuti langkah kaki Atan yang sudah lebih dulu melangkah.


Saat sudah ada di depan gerbang Kara berdiri diam tanpa bersuara, Atan yang sudah berdiri di depan pintu mobilnya kembali memutar tubuhnya menghadap ke Kara. Ia melihat sikap Diam Kara Atan mengukir senyum di bibirnya lalu melangkah mendekat ke arah Kara.


" Ummmaa...," satu kecupan dari Atan tepat di puncak kepala Kara.


Kara yang merasa hangat di keningnya melototkan matanya seakan kedua mata tersebut ke luar dari matanya. Atan kembali menatap pipi merona Kara lalu Ia mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya mengeluarkan ponselnya sambil memberikan pada Kara dengan berkata,


" Ini ponselku, aku berikan padamu, karena aku tahu kamu tidak memiliki ponsel." Atan menatap Kara dengan dalam sambil menyodorkan benda tipis itu ke hadapan Kara


" Tidak Tan. Aku tidak mau..."


" Sudah aku bilang ini aku berikan padamu karena aku nanti kesusahan jika mau berkomunikasi denganmu. "


" Aku pergi dulu semua kontak di sana sudah aku blok dan hapus, nomor di sana hanya punya Bibi dan aku. Nanti malam aku akan kembali aku ada urusan sebentar di luar, " tutur Atan.


Atan tersenyum pada Kara yang menatapnya dengan wajah mengemaskan dari Kara, Atan lalu mengacak-acak rambut Kara dengan tanganya lalu Ia membuka pintu mobilnya, kemudian Atan masuk dan duduk di tempat nyetirnya. Sebelum pergi Atan berpesan lagi pada Kara lewat kaca mobil depanya. Yang sengaja di turunkanya. Atan mengelurkan kepalanya sedikit saat kaca mobilnya di turunkan dan menatap Kara untuk berkata.


Atan: " Tunggu aku sebentar malam, aku mencintaimu, aku pergi dulu, " tutur Atan.


Setelah berucap tanpa menununggu jawaban Kara, Atan kembali menutup kaca mobilnya dan kembali Mesin mobil dinyalakan Atan. Lalu dia pun melajukan mobil pergi, sedangkan Kara menatap Atan dengan kesal saat rambutnya di acak-acak oleh Atan. Saat mobil Atan sudah menghilang dari tatapan Kara, Kara kembali memutar tubuhnya dan melangkah masuk kembali ke halaman rumah. Ana yang dari tadi menatap Kara dan Atan hanya tersenyum mengeleng-geleng kepala saat melihat aksi Atan mengacak-acak rambut krponokanya dengan gemas. Ana Kembali melangkah masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh Kara dari belakang.


Dalam perjalanan pulang Atan berhenti mobilnya di salah satu mol milik Rayani. Atan tidak masuk melainkan menunggu seorang kariawan datang mengantar belanjaan Ponsel di tas kertas putih, karena sebelum Atan memberikan ponselnya pada Kara Ia sempat mengirim pesan pada manejer di salah satu mol milik papanya untuk mencari ponsel keluaran baru yang paling mahal lalu dibelikan untuk Atan.


"Misi Tuan muda ini adalah ponsel terbaik dari semua koleksi hp di sini yang kami pilih khusuk untuk tuan muda," ucap pelayan tersebut di balik kaca mobil Atan yang diturunkan.


"Berapa harganya?" tanya Atan.


"Harganya dua puluh juta rupiah pangeran."


"Baiklah. Terima kasih, apa ini sudah di kasih kartunya, 'kan?" tanya Atan.


"sudah Tuan."


Jawab singkat pelayan tersebut. Setelah mengobrol dengan Atan, setelah mengobrol beberapa detik Atan kembali menyalakan mesin mobilnya untuk kembali ke rumahnya.


Sang pelayan pun kembali masuk dan memulai pekerjaanya seperti semula.


Saat dirumah Atan yang menghafal nomor Rani Ia pun mengabari Rani untuk bertemu di restoran malam ini jam tujuh malam. Atan sengaja mengajak Rani bertemu agar Ia mau memutuskan hubunganya dengan Rani. Rani yang mendapat kabar dari Atan sangat bahagia karena ia sebentar lagi akan bertemu dengan Atan, Ia tidak menyangka kalo Atan lebih dulu mengajak dirinya.


Kini Rani sudah jatuh dalam lingkaran laranganya itu semakin dalam, Rani mengakui dirinya kalo Ia jatuh hati sama Atan, awalnya Ia pikir dirinya tidak mungkin jatuh cinta dengan Atan tapi semakin lama ia menjalin kencan dengan Atan di saat itu pula Rani terpesona dengan ketampanan Atan.


Bersambung