
Atabuan Epispde 65.
Di sela - sela perdebatan Atan, Reno dan, Dody. Di sisi lain Rani terkejut dengan sebuah rahasia yang tidak diketahui oleh Rani, selama ini. Rani yang masih merasa kesal dengan sikap pamanya yang melarangnya melukai Kara. Bagi Rani ini adalah kesempatannya menghancurkan Kara, walau ia tahu alasan pamanya melarangnya menganiaya Kara, tapi tetap saja Rani tidak puas dengan sikap pamanya tersebut.
" *Walau pun rencana Paman sangat bagus dan menguntungkan buat diriku tapi tetap saja, aku sendiri belum puas menyiksa gadis sampah itu. "
" Ibu menderita di rumah sakit jiwa seperti, sekarang itu semua karena Ibunya, seharusnya paman membiarkan aku membuatnya menderita dulu, sama seperti yang ibu rasakan. Harusnya aku membuat dia merasakan apa yang ibu rasakan. Keluargaku yang dulu harmonis harus hancur pada akhirnya karena Ibunya, " gumam pelan Rani dalam hati*.
Rani yang bergumam pelan dengan ekspresi wajahnya yang saat ini sangat kesal. Sambil menatap lurus ke depan dengan wajah yang kesal. Rani yang masih kesal dengan sikap pamanya, tanpa sadar Rani tidak menyadari kalo Diko sekertaris pamanya sedang menatap Rani dengan sangat dalam, sambil tersenyum-senyum. Saat Rani melirik ke Diko Rani melototkan matanya saat melihat Diko yang tertawa dengan dirinya, seakan ada kelucuan di diri Rani.
" Ada apa kamu tertawain aku? apa ada yang lucu? " ketus Rani kesal pada Diko.
" Apakah kamu segitu bodohnya dibodohin manusia kejam itu? " jawab Diko dan kembali tersenyum dengan mengelengkan kepalanya.
" Apa maksudmu? aku dibodohi? " tanya Rani bingung.
" Hahaaaaaa...😂🤣 kamu sangat polos hingga dibodohin pun tidak kamu sadari. "
" Sebenarnya yang menghancurkan keluargamu, bukanlah ibunya gadis cantik tadi, tapi orang yang selama ini kamu percaya sebagai orang kepercayaamu. "
" Maksudmu? " tanya Rani yang semakin bingung.
" Maksudku Ibumu harus di rawat di rumah sakit jiwa, bukan karena dia depresi atau sakit, tapi dia diberi obat yang bisa meningkatkan depresinya dan juga diberi obat terlarang. "
" Mau kamu percaya atau tidak intinya bukan, Ibunda gadis cantik tadi yang menghancurkan keluargamu akan tetapi pamanmu sendiri yang melakukanya. "
" Tujuanya cuma satu merebut dan menguasai semua kekayaan ibumu, inilah fakta rahasia itu, " jelas Diko dengan nada penuh tekanan di setiap kata- kata yang dia ucapkan.
Rani yang mendengar semua fakta-fakta, ucapan Diko membuat Rani jatuh lemas di lantai. Sambil memegang rambutnya dengan air mata yang terbendung di dalam sana. Rani merasakan semua ucapan Diko seakan berulang kali, menggirang di kupingnya. Rasanya hati Rani dipermainkan oleh pamanya sendiri. Kini air mata yang terbendung itu mulai mengalir sedikit demi sedikit dan menjadi tangisan keras dari Rani.
" Ini tidak mungkin... tidak mungkin ... kamu bohong ... kamu bohong ...! "jerit Rani sambil kembali menangis dengan deraiaan air mata yang mulai mengalir deras di pipinya.
" Buat apa aku bohongi kamu? apa untungnya bagiku membohongimu? aku melakukanya karena aku kasihan sama kamu. Terutama gadis itu, seharusnya kamu tidak membenci saudara kamu seperti itu. "
Diko berucap dengan jelas lalu kembali, memutar tubuhnya melangkah pergi. Meninggalkan ruang jeruji besi bawah tanah dan menghampiri Dody, sedangkan Rani yang masih syok menangis di bawah sana sambil menatap punggung Diko yang sudah menghilang dari tatapanya.
" Jika yang diucapkanya benar maka nyawa, Kara dan Atan dalam bahaya. Sudah cukup Ibu yang menderita, sudah cukup keluargaku kau hancurkan, sudah cukup aku saja yang kau manfaatkan, kali ini tidak akan aku biarkan kau menghancurkan saudaraku sendiri, " batin Rani.
Rani bergumam dalam hati sambil menyeka, air matanya yang terus mengalir di kedua pipinya. Rasa sakit yang Rani rasakan lebih sakit saat ia kembali mengingat dirinya yang dibesarkan penuh kasih sayang oleh pamanya, diberikan kemewahan di setiap hidupnya, orang yang selalu Rani andalkan saat dirinya lemah namun sayang semuanya hanyalah kemanfaatan belaka, buat menjalankan rencana dan mewujudkan impianya.
Di sisi lain Atan kembali melangkah, untuk mengeluarkan permata merah dari tubuhnya dengan cara mengikuti ucapan Dody yaitu berdiri di dibawah sinaran rembulan dengan memancarkan sinaran permata pada cahaya bulan. Agar permata itu ke luar dari tubuh Atan, saat Atan yang melangkah pelan sambil melirik ke arah Kara yang juga menatapnya dengan mimik wajahnya yang mengisyaratkan kalo Kara tidak menyetujui pendapat yang Atan lakukan sekarang.
" Maafkan aku untuk kali ini Kara, kamu sangat berarti bagiku. Jika sesuatu terjadi padamu karena kebodohanku ini, maka aku sendiri yang akan hancur, " batin Atan.
Atan terus melangkah menuju sinaran, rembulan yang ada di dekat patung besar markas Cakandani itu. Sedangkan Reno, Dody dan para pasukan anak buah Dody menatap serius ke arah Atan. Walau sebenarnya Reno masih sangat kwatir akan keputusan yang Atan ambil saat ini. Atan yang menghentikan kakinya dan berdiri di hadapan patung besar yang ada di markas Cakandani itu. Baru Atan mengangkat tubuhnya yaitu bagian bidan, dadanya dimana itu ada cahaya permata merah. Atan yang ingin menyodorkan tubuh ke arah cahaya rembulan, tiba...tiba...
" Prutttttt.... Pruttttt.... pruttt..., " suara tembakan pistol dari berbagai arah menyerang markas Cakandani. Siapa lagi kalo bukan Ceka Rayanin, sekertaris Han dan para pasukan Ceka.
" Beraninya dirimu mempertafuhkan nyawa menantuku untuk mewudukan impianmu! "
" Habisin dia dan pasukannya. Lindungi Atan dan kekasihnya, " ucap Ceka dengan tegas sambil terus menembak dengan melangkah menghampiri Dody dan pasukannya.
Atan yang sadar akan bantuan Ayahnya ikut, membantu menyerang pasukan ayahnya untuk bertarung. Sedangkan Kara sudah dilindungi oleh pasukan Rayanin. Pertempuran penembakan terjadi di mana-mana. Manusia monster Atan dan Reno langsung mencabik-cabik dan merusak tubuh para pasukan Dody dengan kuku panjang mereka berdua dan kekuatan mereka berdua.
Dody yang melihat pertempuran sengit itu, memundurkan diri ke belakang sambil di kawal oleh beberapa pasukannya. Dody memerintah anak buahnya untuk menjalankan misi mereka yang terakhir yaitu serangan penembak jitu dari atap gedung di pojok markas Cakandani, dengan penembak ahli yang sudah di bayarnya. Tanpa Atan dan yang lainnya sadari bahwa peluru yang digunakan adalah racun mematikan untuk melemahkan tubuh monster Atan atau pun Reno.
Atan yang sudah selesai membantu Ceka, melemahkan para pasukannya. Kini Atan memutar tubuhnya menatap Kara yang ada hadapanya, dengan jarak lima jengkal dari tubuh Kara. Atan menatap Kara begitu dalam kini terlihat jelas di mata Atan bahwa ia baru merasa lega saat melihat wanita yang di cintainya itu tidak kenapa-napa. Atan kini melangkah ke depan dengan tatapan lurus ke dan tubuhnya yang masih dalam wujud monster serta tanganya yang masih berlumuran darah.
Sedangkan Kara terus menangis keras sambil melangkah dengan tubuhnya yang lemah, yang berusaha menghampiri Atan. Atan yang tadinya melangkah pelan kini, ia berlari kencang untuk menghampiri Kara. Saat tiba di hadapan Kara , Kara membuka kedua tangannya yang artinya ia ingin dipeluk Atan.
Tanpa Kara beri pun pria monster itu akan, tetap memeluk Kara. Saat kedua tangan Kara dibuka lebar, Atan langsung memeluk tubuh ramping Kara ke dalam pelukanya dengan sangat erat. Pelukan yang begitu erat dari Atan semakin lama semakin Atan eratkan pelukannya pada gadis yang sangat ia cintai itu dan sangat di rindukan oleh Atan. Kara yang sudah ada di pelukan tubuh monster Atan menumpahkan semua deraiaan tangisan air mata yang semakin keras.
***Bersambung..
Ayo komen sesuai episode kali ini ya😍😍💜🙏***