ATABUAN

ATABUAN
Aku Tidak Tahu~ Atabuan.



Semua mata ikut melihat aksi Atan pada Kara. Tidak seorang pun ikut campur dalam masalah Atan, termasuk kelima sahabatnya itu.


Bagi anak-anak Universal Scoll ini adalah sesuatu yang sangat menyenyangkan. Sudah lama sejak mereka menantikan aksi Atan yang menganiaya anak-anak. yang mencoba berurusan dengan masalah pribadinya.


Sebelumnya Atan pernah menyakiti seorang anak laki-laki waktu sma kelas satu. Hal yang sama Ia berlakukan pada pria itu tapi bukan mempermalukan di lapangan sekolah. Namun di jalan gerbang utama Bahkan satu kata dari Atan saja sudah menendang keluar anak itu keluar dari sekolah ini.


Yang aneh bagi mereka adalah Atan melakukan pada seorang gadis, yang menurut satu sekolah tidak ada masalah sama sekali. Karena Kara memang dikenal sebagi gadis pendiam, dan sangat baik hati pada semua orang.


" Tapi", ucap Rio terbata-bata lalu kembali diam saat Atan kembali menatapnya dengan melototkan matanya.


" Kara Santika, gadis cantik, polos, pendiam, tapi Dalam hatinya sangat licik", ucap Atan dengan penuh tekanan sambil melangkah memutari tubuh Kara yang ikut melihatnya.


"Apa maksud kamu? Atan dengar....", ucap Kara namun secepatnya dihalang lagi oleh Atan.


"DIAM! Gue belum selesai berkata, lo tidak punya hak untuk berbicara kalo gue belum memberikan perintah"


" Ada hubungan apa lo sama Dion?Gue tidak peduli lo pacarnya atau siapun Dia, tapi ingat jika lo sudah berani membocorkan informasi pribadi gue pada seorang yang merupakan musuh terbesar gue"


"Maka lo tidak pantas untuk dihargain sebagai teman kelas Atan"


"Lo tahu akibat ulah lo banyak nyawa yang sangat penting dalam hidup gue, hampir terluka karena cinta lo yang bertepuk sebelah tangan itu",Ucap Atan dengan penjelasan yang di tekannka pada setiap kata yang keluar dari bibirnya.


"Atan dengar, gue tidak kenal Dion. Gue baru tahu namanya", ucap Kara sambil berdiri menghadap Atan yang sedang menatap tajam padanya.


"Terus apa itu ? lo semalam telponan ama temanya Okto.


"Telpon? Tan".


"Jangan panggil nama gue seperti itu! Lo bukan siapa-siapa gue!"


" Jika lo tidak akui kesalahan lo, maka tamatlah usaha jualan ikan paman sama bibi lo"


" Apa maksud lo Tan? Gue saja tidak tahu masalah apa yang lo bicarakan? kenapa lo harus mengusik keluarga gue?"


"Lo mau akui kesalahan lo atau satu kata dari gue maka usaha mereka bisa gulung tikar. Lo Kan pintar Bersandiawara dengan wajah topeng palsu lo, jadi lo pasti paham arti kata gulung tikar"


"Apa maksud lo? gue benar, benar tidak mengerti"


"masih menggelak? ok akan gue..."


"Baiklah, baiklah... Apa mau lo?", ucap Kara tanpa pikir panjang akan apa yang diucapkanya, karena bagi Kara keluarganya adalah hal paling penting dalam hidupnya.


" Akui kesalahan lo di depan semua orang kalo lo sudah membocorkan informasi gue. Dan Untuk menebus kesalahan itu lo harus menjadi Asisten Atan dan teman-temanya. Baik di sekolah atau di luar sekolah kapan pun diminta sama gue"


"Apa....? tapi....?"


"Tidak ada tapi-tapi, dalam hitungan ketiga, kata-kata yang baru ke keluar dari mulut gue sudah harus lo ucapkan ulang"


"Satu, Du...."


Aku Kara Santika dari kelas XI S2. Mengatakan kalo Akulah yang membocorkan informasi Atan pada...."


"Musuh-musuh Atan, akibat dari ulah Aku membuat Nyawa teman - teman Atan dalam bahaya"


"Dan Untuk menebus kesalahan itu, Aku rela jadi Asisten bagi Atan", ucap Kara dengan menatap keseluruh seribu mata yang melihat dan mendengarnya.


"Apa Asisten? Bukankah itu trik yang kita lakukan di smp?" gumam pelan Jonggky sambil melototkan matanya pada keempat temanya.


"Sedangkan Atan dan teman-temanya yang lain tersenyum puas mendengar jawaban Kara", walau Rio sendiri masih tidak percaya akan pernyataan Kara.


"Ok. kepada semuanya kembali bubar karena apa yang gue mau sudah gue dapatkan", seru Atan kepada seribu mata lalu, kembali memandang Kara yang jarak dengan dirinya satu jengkal saja.


Semua anak-anak ikut bubar sambil si A, B , C, D dan seterusnya. Saling membisik-bisik satu sama lain dan menjadi perbincangan gosip hangat bagi mereka di pagi hari itu.


"Atan gue lakukan ini bukan berarti gue salah, tapi ini demi paman dan bibi gue, tapi perlu kamu tahu kalo aku tidak ada hubungan sama Dion atau musuh kamu"


"Lo bisa diam tidak, mulai sekarang dan seterusnya panggil gue BIG BOS", ucap Atan sambil melempar tasnya ke tubuh Kara yang masih berdiri dengan kebingungan akan sikapanya..


" Bawa ke kelas!" perintah Atan


lalu melangkah santai, menyembunyikan kedua tanganya dalam saku celana, dan ikut disusuli oleh kelima temanya.


Walau Rio sendiri masih melirik sebentar pada Kara yang masih beridiri menatap punggung Atan yang pergi dengan senyuman tipis di bibirnya.


" Belum selesai tekanan batinku pada Setiap gerak-geri paman, dan sekarang aku sudah di hadapkan pada sikap orang yang selama ini selalu diangan- anganku sebagai pelindungku, Tuhan Engakaulah yang melihat dan mendengar, Aku tidak salah dalam hal ini"


" Apa aku memang tidak pantas memiliki cinta seperti dongeng cinderela...? Entahlah apa yang terjadi sekarang, dan apa dipikirkan Dia itulah yang ada di pikiranya dan dirasakannya. Aku akan membuktikan kalo aku tidak salah dalam hal ini", bisik Kara lalu melangkah mengikuti langkahan Atan dan komplotanya.


" Akhirnya apa yang aku inginkan sudah terjadi tanpa campur tangan dari Gue sendiri. Terima kasih my partner", ucap gadis cantik yang beridiri di sudut atap sekolah. Dengan seragam yang lengkap saat Ia dari tadi menatap aksi Atan pada Kara, lalu melangkah menuruni anakan tangga untuk kembali ke kelasnya.


Jangan Pernah mendendam karena jika kamu mengenal cinta maka tembok kebencian dalam hatimu itu sedikit demi sedikit akan dihancurkan olehnya.


"Menurut lo benar ngak sih?, kalo Kara yang melakukan itu?" ucap Sanya pada Risa saat keduanya duduk bergosip di tempat duduk di kelas XI. SI.


Sanya, Kira, dan Risa satu kelas dengan Jonggki dan Willem dan Chiko.


" Ngak tahu, emang gue peduli? lebih baik gue pikir cara gimana dapatin hati Atan kembali", jawab Risa yang tidak terlalu peduli seperti anak-anak yang lainya.


"Ris. Ko lo jawabnya gitu? gue emang ngak terlalu kenal Kara tapi gue?"


"Bisa diam tidak sih lo, tuh pak Mus sudah masuk pelajaran siap dimulai", seru balik Kara pada Sanya yang masih meringkan tubuhnya.


"Sebenarnya gue kasihan sama Kara, karena gue tahu kehidupan Kara yang selalu tertekan saat kembali ke rumah, Batin Sanya bergumam. Dan kembali fokus pada Pak Mus, yang sudah mulai proses belajar mengajarnya yaitu Ekonomi.


Bersambung.