ATABUAN

ATABUAN
Pecat~ Atabuan.



Atan yang sudah kembali ke dalam restoran akhirnya menganbil jasnya yang tertinggal dikursi. Lalu Atan memutar tubuhnya untuk pergi, saat Atan hendak melangkahkan kakinya ke depan salah satu pelayan di bagian kasir restoran memanggilnya.


"Maaf tuan, anda belum membayar bilnya," ucap pelayan tersebut sambil menyampari Atan.


Atan memutar tubuhnya menghadap pelayan tersebut. Dan terlihat semua mata di restoran tersebut terfokus pada Atan yang berdiri berpakaiaan jas mewah menatap Atan dari ujung kaki sampai kepala. Namun hal tersebut sudah biasa bagi Atan Ia mencueki setiap tatapan dan pikiran dari para pelagan itu.


Lalu Atan menatap pelayan itu dengan wajah datarnya sambil mengukir senyum tipis di bibirnya, lalu Ia kembali memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya, namun tetap saja pelayan tersebut memanggil nama Atan dengan suara yang keras dengan nada yang sedikit tinggi.


"Maaf Tuan bayar dulu bilnya, apa tuan tidak bisa berbahasa indonesia?" ucap pelayan itu lagi sambil memasang wajah kesalnya pada Atan.


Kaki Atan terhenti mendengar ucapan pelayan tersebut Atan memuatar tubuhnya dengan wajah yang sudah geram lalu berkata pada pelayan tersebut.


"Apa kamu pelayan baru di sini?" tanya Atan dengan nada kesal.


Pelayan tersebut melonggo matanya karena ia tidak percaya kalo Atan mengetahui dia pelayan baru di restoran tersebut. Ia baru mulai kerja satu minggu empat hari di restoran tersebut. Saat pelayan itu ingin berucap lagi kepala manajer kafe datang menyampari Atan dan pelayan tersebut.


"Ada apa ini?" tanya sang manejer.


Menejer tersebut bertanya sambil melangkah menghampiri Atan dan pelayan tersebut, dan wajahnya berubah seketika saat melihat Atan yang menatapnya dengan tajam. Lalu Atan pun berkata pada manejer tersebut dengan suara datarnya,


"Urusin Dia, beritahu dia siapa aku dan ajarin dia bersikap sopan saat berbicara. Jika tidak pangkatmu yang akan aku turunkan, " suara datar Atan dengan wajah dinginya pada majer tersebut dengan tatapan yang sangat tajam.


"Baik Pangeran, maafkan atas ketidak nyamanan ini pangeran, " seru manejer sambil membungkukan tubuhnya sedikit ke bawah.


"Kali ini aku maafkan kamu dan dia, jika lain kali terjadi seperti ini lagi maka kamu aku pecat," ketus Atan pada manejer lalu Ia melangkahkan kakinya ke depan dan pergi meninggalkan kafe tersebut. Pelayan itu hendak berkata lagi namun secepatnya ditahan oleh menajernya.


"Dia adalah anak bos besar kita, pemilik restoran ini. Kamu lain kali kalo mau berkata atau memarahin pelanggan, tanya dulu pada kariawan yang bekerja lama di sini."


" Untung hari ini muutnya lagi bagus kalo tidak wajah poles bedak tebalmu itu, sudah di kasih kecap olehnya, " kata manejer kafe tersebut lalu memutar tubuhnya menghadap ke para pelanggan di kafe yang masih menatap mereka sambil berkata lagi.


"Maafkan atas ketidak nyamanan ini, anak muda tadi adalah putra pertama perusahaan besar kami Ceka Rayanin, silakan dilanjutkan makan malamnya," tutur manajer kafe.


Setelah manejer kafe berkata semua para pelanggan kafe menganguk-anggukan kepala mereka sambil kembali memakan makanan mereka seperti semula. Walau ada si A, b, c dan d lagi berbisik-bisik satu sama lain. Bahkan ada yang menggeleng-geleng kepala sambil kembali fokus pada makanan mereka masing-masing.


Setelah berucap pada para pelanggan kafe sang manejer kembali menatap sang pelayan yang sudah ketakutan di belakangnya, karena sikapnya pada Atan barusan dan dia diam seribu kata tanpa berucap sepatah kata pun. Lalu manajer kafe tersebut berkata padanya,


"Ikut aku ke ruangan!" seru manajer kafe sambil menatap pelayanya dengan wajah kesalnya. Dan kembali melangkahkan kakinya ke depan. Tanpa mejawab perkataan sang bos, pelayan tersebut langsung melangkah kakinya mengikuti manejernya dengan wajah yang penuh kegelisahan.


Atan yang masih dalam perjalanan pulang menekan tombol pangilan ke salah satu temanya yaitu Rio, namun saat Atan ingin menelpon sahabatnya itu pangilan masuk datang dari sekertaris kepercayaan Ceka. Atan berhentikan mobilnya di pinggiran jalan lalu ia mengambil headset khusus panggilan di telinga, setelah itu Atan menjawab pangilan dari sekertaris Ayahnya itu sambil menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi.


"Halo pangeran, apa anda bisa mendengar saya?" suara dari sekertaris di balik headset Atan.


"Ya saya mendengarkanmu sekertaris han, ada apa kamu menelpon saya?" jawab Atan dan terus fokus menyetir pada jalanan.


"Pangeran harus pulang sekarang juga ke rumah! Ada hal penting yang ingin dikatakan bos besar pada pangeran," tutur sekertaris Han masih dibalik headset Atan.


"Kenapa Ayah ingin berbicara sama aku? Bilang ke Ayah aku banyak urusan. Aku masih mau....," suara Atan terpotong oleh suara sekertaris Han.


"Ini masalah menyangkut Nyonya besar dan L


Pangeran kecil, saya tidak bisa menjelaskan masalah ini lewat telpon pangeran, jadi pulanglah sebelum anda menyesal."


"Apa maksud kamu Han? Ada apa sama bunda dan Viky?" tanya Atan dengan nada yang kwatir.


"Pulanglah jika pangeran ingin mengetahuinya, sampai bertemu di rumah," jawab sekertaris Han dan mematikan telponya.


Atan yang bingung dengan ucapan sekertaris Han ingin berkata lagi, namun suara pangilan dari Han sudah diputuskan. Atan memukul stir mobilny dengan keras sambil berkata sendiri dalam mobil,


"Ada apa sama Bunda dan Viky, ini lagi si Han kenapa memberi kabar yang belum jelas seperti ini? apa ini akalan Ayah untuk menyuruhku pulang? tapi suara sekertaris Han terdengat sangat serius? AHAHHHH....., " kesal Atan sambil memukul-mukul stir mobil.


Atan pun memutar kembali mobilnya untuk pulang ke rumah tadinya Atan ingin menghampiri teman-temanya di tempat biasa mereka kumpul dan megajak kelima sahabatnya itu bertamu ke rumah Kara, namun rencana harus gagal. Dengan terpaksa Atan melajukan mobilnya ke arah jalan pulang menuju rumahnya kembali.


•••••••


Kara dan Bibinya menyiapakn makan malam dengan beraneka menu makanan yang di masak oleh Ana. Kara dan Bibinya sengaja memasak banyak karena, sebelum bertemu Rani Atan menchat pribadi pada Kara bahwa Dia dan kelima sahabatnya akan bertamu di rumah Kara malam ini.


Karena itulah Kara membantu Bibinya memasak banyak. Setelah semua makanan sudah siap dihidangkan di meja Kara ke luar ke teras deoan rumah sambil melihat ke halaman rumah besar mewah yang ada di seberang jalan berhadapan dengan rumahnya Rumah itu adalah rumah Ceka Rayanin. Kara menatap rumah itu dengan tersenyum- senyum sendiri saat matanya menatap sebuah mobil suport merah yang tidak asing baginya


Kara marapikan rambutnya namun raut wajahnya berubah saat mobil itu tidak memasuki halaman rumahnya melainkan mobil tersebut memasuki halaman rumah besarnya Dia adalah Atan.


Kara melihat lurus ke depan sebelum pintu gerbang besar itu di tutup kembali, terlihat jelas di mata Kara Atan di sambut oleh para pelayan dan pengawalnya seperti seorang raja. Kara melihat Atan yang turun dari mobil dengan pakaiaan sangat rapi dan Kara melihat sedikit demi sedikit saat pintu gerbang hendak ditutupi Atan melangkah kakinya seperti seorang yang terburu-buru.


Bersambung.