ATABUAN

ATABUAN
Atan jatuh Cinta~ Atabuan.



Bibi Kara yang masih sibuk memasak di dapur yang juga di bantu oleh asisten yang di tugaskan oleh Atan untuk membantu Ana dan Kara. Selama mereka tinggal di rumah Atan. Walau sebenarnaya Kara sendiri menolak tapi karena Atan terus memaksa dengan mengatakan kalo Ia hanya kasihan jika Bibi Kara sendiri mengurus rumah pasti akan sangat capek dan lelah. Karena sebenarnya rumah yang di beli Atan lumayan besar dari rumah Kara sebelumnya dan tentunya sedikit mewah. Akhirnya dengan terpaksa Kara pun menerima tawaran Atan.


••••••••••


Atan dan Kara masih berdiri di bawah sebuah pihon rindang yang ada di taman rumah tersebut sambil mengobrol. Atan terus mengatakan pada Kara kalo Dia ingin selalu melindungi Kara dari ancaman apa pun itu, dan Ia juga terus mengatakan kalo Kara adalah orang yang sangat penting bagi Atan. Kara yang terus bingung dengan ucapan Atan akhirnya membuka suara atas pertanyaan yang dari tadi ada di otaknya.


"Maaf Tan. Aku kurang mengerti dengan maksud kamu barusan?" ucap Kara dengan sangat pelan sambil menatap Atan.


" Apa Dia ini bodoh atau apa sih? masih belum mengerti maksud aku?" batin Atan.


"Kamu itu selalu saja membuat aku mengulang kata-kataku, aku paling tidak suka jika harus menjelaskan ulang ucapanku, " ketus Atan dengan suara datarnya.


"Baiklah kita tidak usah bahas itu lagi. "


"Itu lagi apaan? Aku hanya ingin melindungi kamu, karena aku...? " Bingung Atan saat Ia ingin melanjutkan ucapanya. Sedangkan Kara masih fokus pada perkataan lanjutan Atan.


"Karena Aku sudah mulai menyukaimu, " batin Atan sambil membalas tatapan dalamnya pada Kara.


Karena terbawa suasana tangan Atan menyentuh lembut pipi Kara, Kara yang mengerutkan dahinya dengan sikap Atan, ingin menggeserkan posisi berdirinya dari tatapan Atan, namun tiba-tiba mata Kara terbelak lebar saat bibir Atan yang menempel di bibirnya. Jantung Kara kini berdegup kencang sangat kencang dari normal degupan jantung biasanya. Akan tetapi Atan menutup matanya dan masih ******* bibir kecil Kara dengan sangat lembut, ciuman itu berlangsung beberapa menit.


Atan yang merasakan perasaanya berbeda dengan dirinya lalu melepaskan ciumanya dari Kara. Gadis yang dari tadi berdiri tertegun di hadapanya itu hanya memasang wajah bingungya karena ini pertama kali Kara dicium dan ini adalah ciuman pertama bagi Kara.


Bibir Atan mengukir senyum saat melihat wajah Kara yang merah merona seperti semangka merah. Kedua tangan Atan menyentuh kedua pundak Kara dengan lembut lalu Ia mendekatkan tubuhnya pada tubuh Kara. Kini kepala Kara sudah tersandar di tubuh Atan. Kedua tangan Atan melingkar di punggung belakang Kara dengan sangat erat dan Atan memeluk Kara dalam pelukanya. Lalu Ia melanjutkan perkataannya pada Kara di kuping Kara dengan suara yang pelan.


Kini hati Atan sangat nyaman ini pertama kali Ia merasakan pelukan yang sangat nyaman, biasanya ia memeluk gadis lain di luar sana namun itu sangat berbeda saat dirinya memeluk Kara. Atan semakin mengeratkan pelukannya pada Kara sesekali Ia mencium pipi Kara yang menempel dengan pipinya itu.


Kara yang mendengar ucapan Atan melirik ke samping Atan dengan menyeritkan dahinya sambil berkata dalam hati,


"Apa ini benar? Lalu bagaimana dengan Rani? Dia, 'kan pernah bilang menyukai Rani dan mereka sedang pacaran? Oh Tuhan Kara kamu jangan egois Rani adalah teman yang baik. Kamu tidak boleh menghianati Rani."


"Terima kasih Tan atas ucapanmu, tapi aku tidak mau merusak hubunganmu dengan Rani," ucap Kara saat Ia yang tiba-tiba melepaskan pelukanya dari diri Atan.


"Soal Rani nanti aku yang urus, karena sebenarnya aku pacaran sama Rani karena taruhan," jelas Atan dengan menatap dalam Kara.


"Taruhan? Tapi, " ucapan Kara tertahan saat Atan menutup bibirnya dengan jari tunjuk Atan, di tempelkan pada bibir Kara dengan tatapan yang dalam.


"Shut.... aku tahu apa yang kamu kwatirkan tapi, aku sama sekali tidak menyukai Rani. Aku tahu yang aku lakukan itu salah namun aku melakukanya karena tekanan dari teman-temanku. "


" Mulai sekarang kamu hanyalah milik Atan seorang, " Atan pun kembali melingkar tangannya pelan di pinggul Kara dan memeluk Kara kembali dengan sangat lembut.


Pelukan antara Kara dan Atan berlangsung beberapa menit, kini hati Kara begitu bahagia namun bayangan Rani masih saja terbayang di pikirannya.


***Bersambung***.