
" Beraninya kamu melukai wanitaku...! " tutur Atan dengan tatapan tajam pada Eddy.
Eddy yang mendengar ucapan Atan tersenyum licik, ia pun menghentikan tanganya sambil menatap tajam Atan yang juga tidak kalah menatap tajam balik Eddy.
" Akhirnya pangeran Ceka Rayanin muncul juga, aku tida tahu kenapa si gadis sampah ini! "
" Eddy....! Jaga ucapanmu dari mulut busukmu itu! " teriak Atan menatap tajam Eddy.
" Hahahhaa... apa ucapanku menyakitkan buatmu? Oh aku lupa kalo dia gadis yang kamu cintai "
" Baiklah aku tidak akan berucap kasar lagi, tapi aku akan tunjukan sesuatu dari sisi gadis pujaanmu ini, " jawab Eddy dengan santai.
" Kenapa dia berucap dengan sangat santai begitu? Apa ada yang dia rencanakan? "tanya Fandi pelan pada keempat temanya yang lain.
Fandi berucap sambil menatap ke arah komplotanya yang juga bingung dengan sikap Eddy yang sama sekali tidak ada rasa ketakutan sedikit pun.
" Lo benar apa dia merencanakan sesuatu? " seru Rio.
" Kita lihat dulu apa maksud dan tujuan dari sikap santainya itu, " jawab Chiko mencoba menenangkan keempat temanya yang kwatir. Sedangkan Willem, dan Jonggky ikut menyetujui ucapan Chiko tanpa berucap lagi, walau sebenarnya mereka juga penasaran dengan sikap santainya Eddy.
πΌπΌπΌπΌ
Di lain pihak Rani dan Reno saling menatap satu sama lain, sebenarnya Rani sudah diberitahu oleh pamanya bahwa permata Atan akan diambil hari ini, namun paman Rani tidak menjelaskan mengapa mereka menyerang Atan dengan menjebak Kara dalam rencana mereka. Paman Rani hanya memutar fakta bahwa setelah permata itu diambil maka Atan akan menjadi manusia seutuhnya, dan itu pamanya lakukan agar keduanya, Rani dan Atan bisa menjalin hubungan tanpa halangan.
Alasan pamanya memilih Kara, ia menjelaskan pada Rani, memutar fakta bahwa dengan menjebak Kara dalam rencana mereka maka Atan akan membenci Kara karena faktanya bahwa paman Karalah yang membunuh adik Atan Viky.
πΊπΊπΊπΊπΊ Kembali ke cerita awal.
" Sebenarnya apa rencana paman? Kenapa Kara yang digunakan sebagai alat untuk kelemahan Atan? Apa paman tahu kalo Kara adalah gadis yang dicintai Atan? " batin Reno saat matanya menatap Rani yang ikut menatap baliknya.
" Paman rencanamu sungguh sempurna, " batin Rani.
Rani dan Reno saling membalas tatapan satu sama lain tapi mereka berada dalam pikiran masing-masing.
πΊπΊπΊπΊ
Di tempat lain Cakandani mulai aksinya memimpin para pasukanya, menuju rumah Kara. Dengan mengikutsertakan semua media sosial, polisi, dan masyarakat sekitar melalui internet soal artikel bahwa, Ceka Rayani memelihara seorang mahkluk monster yang sangat berbahaya bagi ketenangan masyarakat. Cakandani menjelaskan bahwa jika media ingin mengetahui lebih detail maka mereka semua harus ikut Cakandani pergi ke rumah istana Ceka Rayanin
Jelas berita tipu daya muslihat Cakandani ini membuat semua mendia heboh, apalagi Ceka adalah seorang yang sangat dihormati di kalangan masyarakat dan merupakan keluarga konglemerat nomor satu di jakarta.
Di sisi lain juga Cakandani menchat Ceka Rayani bahwa ia akan memberi Kanta hidup jika Ceka tidak ikut campur dalam urusan ini, cukup Ceka mengatakan bahwa Atan adalah manusia monster Singga.
π¦π¦π¦π₯π₯π₯π₯π₯
" Sini kamu gadis sampah.... " tarikan keras dari Eddy tepat di rambut Kara. Sambil dia menatap tajam Atan.
" Sakit paman... Ahhh.. " jerit Kara.
" Eddy aku perintahkan kamu hentikan ini! Jika tidak maka... "
Cakandani melangkah masuk dari pintu, Atan yang mendengar ucapan suara tidak asing di telinganya memutar tubuhnya menatap Cakandani yang melangkah santai menghampiri Atan dan komplotanya. Kedua bola mata Atan semakin melebar saat melihat semua media kamera dari berbagai satasiun televisi mengarah ke wajah Atan, kebingungan Atan semakin jelas saat melihat semua pasukan drigen black yang sudah mengarahkan pistol berbaris rapi bersama polisi dari lingkaran para warga di halaman rumah kontrakan Kara.
" Apa maksud kamu membawa wartawan ke sini?" tanya Atan menatap heran Caka.
" Pertanyaan yang sangat bagus. Apa kamu lupa ini bulan apa? " ucap Cakandani dengan senyuman miring diukir dari bibirnya.
" Bukan jawaban itu yang aku tanyakan. Jangan mencoba mengalih...!"
" Apa kamu benar-benar lupa? Bukan, ' kah hari ini kamu akan berubah wujud, semua warga, media, dan hukum sudah mengetahui kalo kamu itu adalah monster, " ucap Cakandani tersenyum dan menatap Atan.
Ucapan Cakandani sontak membuat Sanya, Kara, Ana dan para warga sekitar sangat syok. Kara mengerutkan dahinya dan menatap ke arah Atan yang juga menatap Kara.
Atan yang mendengar ucapan Cakandani menatap sekilas ke arah Cakandani sambil berucap.
" Apa maksud kamu? apa bukti..! " ucapan Atan lagi-lagi di cegat oleh Cakandani.
" Lepaskan kalung singa di lehermu itu, aku dengar itu adalah jimat melindungi kamu untuk tidak berubah, " jawab Cakandani menatap tajam Atan.
Atan yang mendengar ucapan Cakandani sontak terkejut Karen ia tidak menyangkan kalo Cakandani mengetahui kelemahanya, Atan tidak mungkin melepaskan kalung singa itu dari lehernya, ia tahu benar hari ini adalah sabit bintang, yang terjadi delapan tahun sekali, jika ia melepaskanya maka wujud Atan akan berubah dan rencana Cakandani merebut permata merah di tubuhnya pasti akan terjadi.
" Sepertinya ini adalah jebakan Cakandani, aku tahu benar dia sudah mengetahui kalo Kara adalah gadis yang aku cintai, bodohnya aku terjerumus dalam jebakan Cakandani, " batin Atan.
" Lepaskan kalung itu, jika kamu benar seorang manusia, " suara Cakandani lagi.
" Sepertinya ini siasat paman, benar dugaan aku, kalo paman sudah mengetahui Kara adalah gadis yang dicintai Atan, " batin Reno.
" Aku harus menolong Atan dari jebakan ini. "
Reno yang masih bergumam dalam hati, namun diluar kesadaranya semua warga mulai berteriak heboh secara bersama mendesak, Atan untuk melepaskan kalung singa dari lehernya, Kara yang syok bangkit berdiri bersama dengan bibinya menatap lurus ke arah Atan yang masih kebingunan. Sedangkan kelima teman Atan mulai aksi mereka menarik perhatian para warga namun rencana mereka gagal karena polisi datang mengahadang mereka.
Di sisi lain Eddy mulai tersenyum licik sambil berdiri di samping Cakandani, yang lagi menatap langit yang mulai menjadi gelap, dan di langit sudah mulai ada bintang berbentuk sabit yang sedikit demi sedikit mulai bersinar seperti mentari.
Karena terlalu lama menunggu Atan melepaskan kalungnya, polisi mulai menghampiri Atan untuk memaksa Atan melepaskan kalung tersebut. Atan yang berusaha menghalang pelepasan kalung singa dengan tangan polisi tiba-tiba, kalung tersebut terlepas dari leher Atan bersamaan dengan bintang sabit yang bersinar terang di tengah-tengah awan dan langit yang diliputi kabut seakan terjadi pergantian malam di siang hari itu.
Deg....
Deg....
Deg...
Suara denyutan jantung dari Kara yang, menatap serius ke arah Atan yang sudah diliputi dengan angin yang kencang. Seakan badai hujan besar akan datang, bukan hanya Kara yang penasaran dengan wujud Atan, Sanya, Ana warga dan media televisi juga ikut memperhatikan tubuh Atan. Terkecuali Cakandani, komplotan Cakandani, polisi bayaran Cakandani, Reno, kelima teman Atan dan Rani yang tidak terlau penasaran karena sebenarnya mereka sudah mengetahui siapa Atan sebenarya.
Sebuah angin ****** beliung membeliung kencang tubuh Atan, menjadi putaran kencang di tengah-tengah banyak orang di rumah Kara, dan tiba-tiba rumah semua warga berubah dalam seketika menjadi hutan lebat.
Warga yang terkejut berteriak keras, dengan perubahan di luar nalar mereka, Kara masih berdiri menatap lurus ke arah putaran angin di tubuh Atan.
Bersambung.