ATABUAN

ATABUAN
PELUKAN~Atabuan.



Reno berlari sekencang mungkin sambil, menaiki anak tangga ke lantai dua dengan sangat cepat. Yang disusuli oleh ke dua temanya dari belakang. Semua mata di koridor lantai dua yang lagi heboh sendiri-sendiri dengan kompolotan mereka, diam dan fokus pada Reno saat melihat Reno. Yang melangkah cepat dengan wajah yang emosi dan kedua tangan yang masih di kepal. Tatapan Reno sangat tajam dan lurus ke depan.





Di sisi lain Rani yang bingung dengan kehebohan di kelasnya melangkah mendekati pintu sambil, bertanya pada komplotan cewe-cewe kelas saat lagi mengobrol dan menyebut nama Kara.


"Permisi...maaf, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semua pada heboh di sini?" Tanya Rani pada Risa and the geng.


"Si Kara lagi diimintidasi sama Atan karena, membohongi Atan kalo dirinya pacaran sama Reno", ucap cuek Risa sambil terus menatap ke dalam.


" What! My partner kamu hebat juga. Aku tinggal menambah sedikit bumbu biar lebih seru, soal vidio yang di rekam semalam akan seru jika aku edarkan sekarang", senyum miring ditarik dari bibir Rani saat batinya bergumam.


"Kasihan Kara kenapa Di selalu menderita?Ran tolong lo bujuk Atan mungkin Dia akan mendengarkan lo", tutur lirih Sanya dengan wajah yang sedih saat menatap Rani.


"Lo ngapain kasihanin Dia San? Dia pantas ko dapat ini. Siapa suruh Dia mau jadi mata-mata dari musuh Atan di luar?" tandas Rika yang tidak suka dengan sikap Sanya membela Kara.


"Tau tuh si Sanya. Bikin kesal saja", ketus Risa lagi.


Rani terdiam dengan suasana hati yang begitu bahagia seakan, kebahagiannya hari ini tidak bisa diganti dengan apa pun.


Saat Chiko yang melirik Rani melangkah mundur ke belakang dan menarik tangan Rani mendekati keempat temanya. Rani yang kaget mau berkata namun secepatnya di diamkan oleh Chiko.


Rika yang melihat Chiko melangkah ke arah mereka sesekali meriaas-rias rambutnya agar kelihatan cantik. Di depan Chiko karena sebenarnya Rika sudah lama memendam rasa pada Chiko.


Namum Chiko sudah menyukai gadis lain, yang tidak lain adalah Sanya sahabat Rika dan Risa. Chiko menyukai Sanya sejak pertama kali meledek Sanya yang meminta foto bareng sama Atan namun, ditolak oleh Atan bahkan Atan merusaki Ponsel Sanya. Chiko sesekali mencuri pandang pada Sanya yang lagi menatap Kara dengan wajah yang sedih. Sebenarnya Chiko mau bertanya namun baginya suasana saat ini, tidak memungkinkan untuk dirinya mendekati gadis yang dicintainya itu.


Chiko membawa Rani ke tengah-tengah keempat temanya sambil berkata pelan.


"Ran, gue mohon pada lo bantu kita hentikan sikap Atan ini pada Kara, Kasihan gadis itu", Ucap pelan Chiko sambil menatap Kara dengan rasa yang sangat Iba.


"Ya Ran, mungkin Atan akan mendengarkan lo, jika lo yang berkata soalnya, kita sudah mencoba membujuk Atan tapi, lo tahu sendirikan kalo Atan orangnya keras kepala. apa lagi ini soal urusan pribadinya", sahut Rio yang memohon pada Rani.


"Baiklah akan gue coba tapi, gue ngak bisa jamin kalo Atan mau mendengarkan gue, Lo semua saja tidak bisa bujuknya apa lagi gue!" jawab Rani sambil melangkah mendekati Atan dan Kara di mana tangan Atan sudah menjambak kuat rambut Kara.


"Lo beraninya menusuk gue dari belakang ha...!" teriak Atan yang semakin mencengkram rambut Kara dengan sangat kuat.


Yang membuat gadis di depanya meneteskan air mata pertama kali di depan Atan. Air mata yang sedari tadi ditahan oleh Kara, dan kini air mata itu mengalir begitu deras dari kedua kelopak matanya. Yang sudah menutup dan menahan rasa sakitnya baik dari fisik, masalah semalam yang masih membara di pikiran Kara, dan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang semakin sakit saat cengkraman Atan yang begitu kuat.


" Tuhan mengapa ini terjadi padaku? seorang yang sangat aku cintai di dunia ini, yang selalu membuat aku tegar dalam menghadapi semua. Masalah silih berganti. Kini sekarang Dia sangat membenci aku..., rasanya sakit, sangat sakit....", batin Kara dengan air mata yang berkata saat bibir tidak bisa di ucap.


" Atan bunuh saja aku....aku tidak sanggup jika harus dibenci sama kamu seperti ini....", air mata yang terus berbicara saat hatinya hancur (kara).


"Atan hentikan ini kasihan Kara", ucap hati-hati Rani.


" Senang sekali Dia jika aku bela. Semoga Atan tidak mendengarkan ucapanku, dan terus menyiksa Kara", Batin Rani.


Saat Atan kembali menjambak rambut Kara dengan semakin kuat bahkan, leher Kara juga ikut terangkat ke atas. Karena switer yang di kenakan Kara lehernya tidak tertutup jadi kulit lehernya ikut terlihat oleh Atan. Kedua bola mata Atan melototot dengan tatapan terkejut saat, melihat kulit leher Kara yang sudah ada bekas cengkraman tangan. Di sana terlingkar warna biru belau mengelilingi leher gadis itu.


Atan menatap mata Kara yang sudah menangis dengan suara isyak, di tahanya di mana Kara yang sedang menutup kedua matanya. Entah kenapa hati Atan begitu hancur dan sakit saat melihat kara yang menangis di hadpanya seperti ini. Persaan yang tidak tega.


Di sela-sela Atan yang menatap air mata Kara, bersamaan dengan itu juga Reno masuk menerobos kerumunan di depan pintu. sambil mengucapkan nada tinggi dan melayangkan satu kakinya begitu keras ke Punggung Atan yang masih, membelakangi dirinya. Kemarahan Reno semakin menjadi saat melihat Kara yang sudah menagis dengan suara tangisan tahan dari dalam hati.


"Atan...dasar Keparat!" Teriak Reno sambil melayangkan kakinya dengan keras ke punggung Atan yang, membuat Atan tersungkur di lantai keramik kelas.


"Reno!" sebut Kara sambil membuka ke dua matanya di saat Atan yang dari tadi sudah melepaskan cengkraman rambut Kara dari tanganya.


Semua anak-anak yang ada di sana, kaget baik itu komplotan Atan, Rani, dan semua mata yang menutup mulut mereka melihat tendang keras Reno pada Atan.


"Kara kamu tidak apa-apa kan? Maafkan aku karena datang terlambat", nada suara kwatir dari Reno sambil menatap dalam Kara, dengan menyentuh lembut kedua punggung Kara.


"Ren. Kenapa kamu.....ahhhh...", kaget Kara saat satu tendangan balasan dari Atan tepat di pipi kiri Reno. Yang membuat semua orang berteriak mengikuti suara Kara termasuk Rani. Pagi hari itu seakan terjadi gempa semua siswa yang ada di kelas XI. S2, berteriak seperti melihat hantu.


"Beraninya kau...menyentuh aku karena gadis ****** pujaan hatimu ini, kau.....sini", teriak Atan sambil menarik kerak baju Reno dengan gigitan kuat pada giginya yang sebentar lagi rontok semua.


"Pang...."


"Reno...!" teriak Kara yang melihat Reno tersungkur ke lantai saat, satu tangan Atan di layangkan di wajah Reno.


"Bos...", teriak Jefrri dan Saji yang mau mencoba masuk ikut berkelahi dengan Atan namun ditahan oleh Reno.


"Jangan coba-coba ada yang ikut campur masalah ini. Atau hari ini akan terjadi perang di sekolah ini", teriak Atan dengan nada tinggi dan penuh tekanan.


Reno bangkit mengambil salah satu kursi dan mau dilayangkan ke tubuh Atan saat, Atan yang memberi peringatan ke pada semua anak-anak di kelas itu dengan tatapan tajam.


" KAU....Yeahhh..."


"Atan...awas....!" teriak Rio saat melihat Reno sudah mengacungkan kursi yang akan menimpal kepalanya.


Deg..


Deg...


"Reno...., jangan lakukan ini...ku mohon. Bawa aku pergi dari ruangan ini pliiss. Tapi jangan berkelahi seperti ini..." pelukan erat dari Kara dengan kedua tangan melingkar di perut Reno saat melihat pria yang, mencoba menolongnya itu mau mendaratkan kursi di tanganya ke kepala pria yang dicintainya.


"Ku mohon plis...", tangis isyak Kara di bawah sana.


Rasa lega datang di kelima sahabat Atan dan Rani serta semua kerumanan manusia yang ada di sana. Walau mereka kaget dengan sikap Kara yang memeluk Reno.


**Jangan lupa lieke, komen, saran, dan kasih bintang di ceritaku ini.


Terima kasih bagi yang sudah mampir🙏😊🤗**