
Di tengah\-tengah Kara yang masih menangis melihat Bibinya yang di siksa oleh Eddy. Kara mengabil pecahan kaca botol yang tadi sempat Bibinya mau memukul kepala Eddy dengan botol itu tapi tidak jadi. Kini Kara yang mengambil pecahan itu langsung Kara tatap tajam Eddy sambil berteriak.
" Aku bilang jangan siksa Bibiku......! " dengus Kara keras.
Deg...
Degg....
" Ahhh...., " rengis Eddy.
Eddy meringis saat tanganya yang kiri di lukai oleh Kara, dengan sebuah beling tajam dari pecahan kaca botol. Eddy yang tadi masih bermain dengan Ana kini harus berhenti karena luka tusukan keras dari Kara tepat di tanganya.
" Beraninya kau melukaiku! sini kau.... " ringis Eddy dengan tatapan tajamnya pada Kara.
Ucap Eddy menatap tajam Kara dan kembali melangkah ke arah Kara yang sudah ketakutan. Kini Kara yang ketakutan dengan tangan yang bergementar sambil melangkah mundur ke belakang terus menerus.
" Mau ke mana kamu... Sini gadis sialan, " ucap Eddy lagi dan kembali melangkahkan kakinya ke depan sambil menatap tajam Kara.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Di sisi lain Ana yang masih lemas tubuhnya di belakang Eddy. Tidak bisa berbuat apa-apa karena kini Ana sangat lemah, ia ingin membantu Kara tapi tubuhnya tidak bisa dipaksakan untuk bangun.
Eddy yang melangkah tepat di hadapan Kara di mana Kara yang melangkah mundur, namun kini tubuhnya di tembok karena tidak ada tempat lagi. Eddy yang ada di hadapan Kara tersenyum miring di bibirnya dengan tatapan tajamnya pada Kara. Eddy melihat sedikit ke arah tanganya yang terluka bekas goresan beling dari Kara.
" Beraninya kau melukaiku, sini akan aku ajarkan kamu bagaimana caranya melukai musuhmu. "
" Lepaskan aku.... Paman... Lepaskan aku..., " ringis Kara.
Kara yang berteriak karena kesakitan saat tangan, Eddy menjambak rambut panjangnya dengan sangat kuat. Eddy yang tidak peduli dengan teriakan Kara kini mendorong keras tubuh Kara ke lantai yang membuat Kara jatuh dan tersungkur kembli di lantai. Di sela-sela sela Eddy yang masih di bawa rasa emosi. Saat Eddy mengangkat tanganya yang ingin diayungkan ke wajah Kara tiba-tiba suara tidak asing di dengar di telinga Kara.
" Dasar gadis cialat, bukanya berterimakasih padaku, kamu malah melukaiku, " ucap Eddy.
" Yah... " teriak Eddy dengan tangannya satu diangkat ke atas atap sambil membuka lebar telapak tanganya yang siap di ayungkan ke wajah Kara.
Kara yang ketakutan kini menutup keras kedua matanya, dengan butir-butir air mata yang mulai mengalir di kedua pipinya. Saat Eddy mau menampar Kara, tiba-tiba suara seorang pria menghentikan tangan Eddy.
Atan yang berteriak di pintu dengan tatapan tajam pada Eddy, sontak ucapan Atan mengagetkan Eddy dan Kara. Kara yang memutar tubuhnya sambil membuka matanya secepat mungkin dan menatap tajam Atan dengan penuh pertanyaan. Kara semakin melebarkan matanya saat melihat Atan yang tidak sendiri. Melainkan di sana sudah ada Atan, Reno, Kelima teman Atan, Rani dan Sanya.
Atan, Reno dan kompolatan Atan serta Rani mengetahuinya saat Sanya yang tadi tidak sempat mengikuti Kara di area sekolah, karena rasa kwatirnya pada Kara, Sanya berlari keras ke kelas sambil ngos-ngosan dan berteriak memangil nama Reno. Reno yang tadi melihat Kara menangis ia tidak sempat menghampiri Kara karena ia dikagetkan dengan pesan pamanya Ceka bahwa mereka akan mendapatkan permata merah itu hari ini juga.
Reno yang penasaran dengan pesan pamanya langsung pergi ke tempat halaman sekolah, yang lain untuk menelpon Cakandani dan meninggalkan Kara serta Sanya. Jadi ia tidak melihat situasi yang terjadi pada Kara.
Sontak teriakan Sanya mengangetkan banyak pihak termasuk Atan, Rio, Rani dan Fandi serta anak-anak yang lain. Atan pun menanyakan pada Sanya mengapa Sanya berteriak begitu keras, Sanya akhirnya menjelaskan apa yang terjadi di halaman belakang sekolah. Mengetahui hal itu Atan kembali teringat Eddy kalo Eddy belum tertangkap oleh polisi sampai sekarang, dugaan Atan benar bawha Eddy ingin berbuat jahat pada Kara. Dengan cara Atan mengetahui melalui mata batin sinar permatanya itu.
•••••••••••••••
" Beraninya kamu melukai wanitaku, " ucap Atan menatap tajam Eddy lagi.
Rani, Sanya, Reno dan komplotan Atan yang mendengar ucapan Atan kaget, dan semuanya sontak menatap heran Atan tanpa terkecuali Rio dan Fandi yang sudah mengetahui maksud ucapan Atan tersebut. Rani yang mau bertanya apa maksud ucapan Atan secepatnya dicekal oleh Sanya.
" Jangan berkata sepatah kata pun, ini bukan waktu yang tepat, " tutur Sanya menatap Rani.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
" Sinyal permata telah masuk perangkap kita, saatnya kita tuntaskan permainan ini, " ucap Cakandani pada komplotanya di markas saat mereka melihat Gps yang di pasang di ponsel Eddy untuk melacak keberadaan Eddy.
Sebenarnya ini adalah rencana Cakandani, karena mereka tahu dari mata-matanya bahwa wanita yang di cintai Atan adalah Kara bukan Rani. Jelas ini adalah kelemahan terbesar seorang Atan. Bagi Cakandani untuk merebut permata itu yang hari ini akan mengubah wujud Atan sebenarnya. Karena hari ini muncul sebuah tanda bintang sabit berbentuk bulan di langit di mana bintang itu yang akan menunjukan diri Atan untuk menyinyari permata merah di tubuh Atan. Di mana itu perubahan sebenarnya pada Atan.
" Sabit bintang akan muncul, kekuatan permata merah itu akan bereaksi di tubuh Atan, bila saat itu tiba maka kita akan merebutnya dari Atan. "
" Inilah puncak untuk aku, kini dunia menjadi milikku.... Milik Cakandani, haahaha, " ucap Cakandani dengan tawa keras dari dalam sana.
Saka, paman Rani serta para anak buah Cakandani lainya yang ada di markas ninja hitam, kini semuanya sudah bersiap dengan s
pistol yang lengkap yang berarti mereka siap untuk bertarung sekarang.
Bersambung.