
Atan yang mencengkram kuat leher pria itu, yang membuat pria tersebut tidak bisa bernafas, pria itu hanya berusaha memukul-mukul tangan Atan yang ada dilehernya. Namun semakin dia memukul tangan Atan membuat Atan semakin bersemangat mencengkramnya lebih dalam. Ceka yang melihat aksi Atan berusaha menghentikan tindakan Atan namun sayang Atan sama sekali tidak mendengar ucapan Ceka.
Di sisi lain Rani masih menangis dengan, keras saat memeluk tubuh Kara yang kini terbaring kaku di bawah sana. Rani terus memanggil - manggil nama Kara berharap adiknya itu bisa sadar. Tapi sayang Kara masih tidak membuka kedua matanya, di sela-sela tangis Rani, Reno datang menghampiri Rani.
" Apakah air mata itu, air mata ketulusan? atau air mata palsu? " ucap Reno menyindir Rani.
" Aku tahu kamu belum percaya sama aku, dan aku akui aku sangat menyesal. "
" Aku berharap dia membuka kedua matanya, agar aku bisa mengucapkan kata-kata penyesalan ini, " jawab Rani.
Rani menjawab ucapan Reno, dengan sikap yang masih menatap dalam Kara yang saat ini ada di pangkuannya dengan penyesalan yang mendalam.
" Dan aku harap kata-kata yang barusan keluar dari mulutmu itu sungguh sebuah ucapan penyesalan. "
" Kain putih yang bersih akan indah jika tidak ada bekas noda, jika ada bekas noda akan tetap terlihat indah. Namun keindahan itu sudah tidak sama dengan keindahan semula. Karena bekas noda itu masih ada di sana, walau kita berusaha menghilangkan noda itu tetap saja jejak noda pada kain itu tidak berubah.
" Sama seperti kepercayaan, walau dirimu berusaha menjelaskan pada dunia kalo kamu berubah dan menyesal, mungkin dunia akan percaya namun tetap saja keraguan pada dirimu masih ada. "
Reno berkata sambil menatap dalam Kara, yang terbaring kaku di bawah sana. Kedua bening butir yang sedari tadi di tahan oleh Reno kini mengalir begitu deras saat dirinya menatap tubuh Kara yang sama sekali tidak ada pergerakan.
" Kini kamu paham, ' kan maksud aku, mengapa aku dan Atan jatuh cinta sama Kara? Karena kemurnian hati yang dimilikinya. "
" Aku harap kamu paham maksud aku ini, " jawab Reno dan kembali menatap Rani.
Reno yang menatap dalam Rani dengan, tatapan yang penuh isyarat, sedangkan Rani terus menerus menangis, dengan tangisan penuh penyesalan. Di sisi lain Ceka yang melihat aksi Atan semakin gila akhirnya Ceka berucap dengan nada kencang, Ceka sengaja berucap dengan nada kencang agar menghentikan Atan yang ingin menodai tanganya.
" Atan hentikan! Jika kamu membunuhnya itu akan membuatmu bahagia, namun darah pembunuh sudah ada ditanganmu. "
" Apa bedanya dirimu dengan dia yang sudah menembak Kara. "
" Biarkan anak buah ayah yang mengurusnya, lebih baik sekarang kamu urus Kara karena luka tembakan pada tubuh Kara bukanlah luka biasa, " seru Ceka.
Ceka berucap sambil menatap tajam Atan, Sedangakn Atan yang mendegar ucapan Ayahnya, tiba-tiba menghentikan tanganya yang tadi berusaha mencengkram kuat leher pria itu, kini tangan Atan terlepas dari leher pria itu, pria yang tadinya hampir kehilangan nyawanya kini berbatuk-batuk sambil memegang lehernya.
Saat Atan yang kembali meneteskan air mata, tiba-tiba Kara tersadar dari pingsanya. Kara menatap dalam Atan yang ikut menatapnya, Reno dan Rani yang melihat kedua bola mata Kara terbuka langsung memegang tangan Kara,
" Kara...! " syukurlah kamu sadar, " ucap Rani yang langsung memeluk tubuh Kara lagi ke dalam pelukannya.
Reno yang tadi ingin memeluk Kara, kini ia harus mengurungkan niatnya karena ia tahu Kara mencintai Atan begitu pula sebaliknya. Walau hati Reno saat ini hanya ingin memeluk Kara, ia tidak peduli lagi dengan perasaan Kara atau Atan, Reno berusaha menahan niatnya dan berusaha seolah dirinya tidak kwatir dengan Kara. Saat Kara menatap air mata yang menetes di pipi Reno, Kara mengerutkan dahinya.
" Apa kamu baik-baik saja? " tanya Kara pelan saat melepaskan pelukannya dari tubuh Rani sambil menyadarkan kepalanya ke tubuh Rani.
" Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu kwatirkan diriku, " jawab singkat Reno sambil mengalihkan tatapanya dari Kara.
" Aku tidak baik-baik saja Kara, ingin rasanya aku berteriak dan memeluk tubuhmu, memelukmu sekuat-kuatnya tanpa ada ruang bagi angin yang lewat, " batin Reno menahan tangisnya.
Kara yang merasa aneh dengan sikap Reno, saat Kara yang ingin berkata lagi, tiba-tiba Atan datang mendorong tubuh Rani dari tubuh Kara dan tangan Atan langsung menahan tubuh Kara yang hampir terjatuh, tanpa peduli dengan Kara yang hampir jatuh Atan langsung memeluk tubuh Kara dengan sangat kuat, sambil menangis dipelukan Kara dengan tangan Atan yang terus mengelus-elus rambut Kara lembut.
" Terimakasih...terimakasih.... sudah kembali, Aku mencintaimu...benar-benar mencintaimu. " ucap Atan saat dirinya memeluk erat Kara.
" Beginikah rasanya...saat melihat cinta yang selama ini kita inginkan namun sudah ada cinta lain dalam hatinya? " batin Rani.
" Semua baik-baik saja Reno...baik-baik saja, namun mengapa sesakit ini Tuhan? " batin Reno mengalihkan tatapanya ke arah langit, agar tangis air matanya tidak dilihat oleh Rani atau pun Kara.
Di balik pelukan romantis dari Atan dan Kara, di balik ada luka dua hati saat ini, tidak ada yang tahu kalo tubuh Kara semakin lemah, racun itu sudah menyebar ke mana-mana termasuk saraf otak Kara. Sebenarnya Kara menahan sakit itu sejak dirinya siuman tadi. Kara berusaha tersenyum dan kuat agar orang-orang yang ia sayangi tidak kwatir, namun semakin lama rasa sakit itu semakin menjadi.
" Deg... "
" Deg... "
Bersambung.