
Di markas Drigen Black sedang ada pengeskusian hukuman bagi seseorang yang merupakan hal terpenting bagi bangsa Atabuan. Dia adalah Sigas yang selama ini dianggap sudah meninggal dari buku misteri Atabuan.
" Sebenarnya apa yang kamu rencanakan Cakandani? belum puas kamu menghukum keluargaku? membunuh Adik kamu dan istri pertamaku?", ucap Sigas atau Ayah yang dianggap sebagai Ayah kandung Atan. Wajahnya penuh luka-luka rambut tidak terurus, semua tangan dan kakinya dipasung dengan besi seperti pria yang sakit jiwa pada hal tidak.
" Yang aku lakukan cuma satu tujuan memguasai Dunia? jika kamu tidak membuat adikku menikahi kamu dan jatuh cinta sama kamu maka mungkin ini takan terjadi, anggap saja kita impas"
"Apa kamu bilang? Aku yang salah jelas ini salah kamu sendiri", mata Sigas menatap Ceka penuh keberanian.
"Kamu mulai berani menjawab Aku? Hahhhh...Lihatlah dirimu sekarang mau makan saja mesti butuh bantuan, Tapi Sok berani", ucap Cakandani dengan lotototan mata. Sambil melangkah dan mendekati Sigas, Lalu Ia mengangkat dagu Sigas sedikit menatap ke wajahnya dengan ukiran senyum di bibirnya yang sudah di tumbuhi bulu-bulu halus disekitar wajahnya.
"Sigas, Sigas, ....PAK...", Ayunan tamparan dari Cakandani tepat di pipi kanan Sigas yang membut bibir Sigas mengeluarkan darah.
"Jangan sok berani di depan gue, lo ysng sekarang bukanlah tandingan gue"
"Dengar Caka....jika tujuan lo mendapatkan permata merah itu, jangan harap lo bisa miliki itu, kerena cepat atau lambat Ceka Abang kamu akan merebutnya"
"Diam! Lo tahu di mana Permata merah itu berada"
"Gue tahu Caka"
"Apa maksud lo tahu? dari mana lo tahu? SIAPA yang memberi tahunya?" ucap Cakandani sambil melotot mata, dan nada suara yang penuh tekanan pada semua anak -anak buahnya yang lagi berdiri siaga mengelilingi dirinya.
"Lo pikir gue ***** apa bodoh? Cakandani dengar gue memang lemah tapi soal itu gue tahu lebih dulu, sebelum lo tahu, Jika lo pikir pemilik permata itu anak gue maka lo salah besar, karena sebenarnya ANAK PEMILIK PERMATA ITU ADALAH ANAK ABANG Lo sendiri"
"PEMBOHONG!" teriakan suara Cakandani.
"Soal ini gue tidak tipu, Jika lo tidak percaya silakan lo tanyakan pada Ceka, sebelum Dia menikah dengan Kanta apakah Dia pernah menjalin hubungan dengan Imel?"
"Apa sebenernya maksud perkataan kamu itu? Jika kamu pikir kalo At...."
"Atan adalah ANAK KANDUNG Ceka Rayanin, yang sekarang adalah putra angkatnya, Keponokan kamu", Potong pembicaraan Sigas.
" Dan Lo harus tahu jika, Reno mengetahui kalo yang sebenarnya membunuh ibunya adalah pamanya sendiri, pasti akan lebih seru jika gue tonton permainan lo itu".
"Dasar ******, Lanjutkan penyiksaan kalian padanya, Buat Dia tunduk, hingga Dia Bilang kalo yang dikatakan itu tidak benar!" perintah Cakandani pada anak buahnya karena merasa kesal dengan perkataan Sigas.
Dengan siagap para pasukan Drigen Black yang bertugas di markas Drigen Black, dibagian pengeskusian Ruang rahasia mereka. Dimana itu tempat mereka menyembunyikan Sigas. Penyiksaan pun dimulai dengan siraman menyikuti ular-ular kobra yang semata-mata hanya menakuti Sigas, lalu diikuti pukulan-pukulan bergantian dari keenam pasukan itu yang membuat Sigas babak belur dan tak berdaya.
:
:
:
Susana Sekolah kembali sepi, dalam arti semua murid-murid sudah masuk kembali ke kelas mengikuti pelajaran seperti biasanya. Setelah tontonan mengejutkan datang dari seorang Atan Rayanin pagi tadi.
Di pagi hari yang cerah mungkin sebagian siswa yang sama sekali tidak menyukai pelajaran matematika. Apa lagi jam pertama. Hanya bagi siswa-siswi tertentu saja yang bisa dibilang menyukai pelajaran matematika. Bukan berati semua siswa tidak menyukai Matematika, namun bagi anak-anak yang memilih ilmu hafalan pasti sedikit saja yang menyukai matematika.
Ibu Nirma mulai menjelaskan materi semester dua di depan.
Salah satunya adalah Fungsi Invers.
Namun mata dan nada suaranya menjadi berubah saat melihat salah seorang siswa yang sudah tiduran di meja belajar di bagian deretan pojok belakang yang satu tempat duduk dengan Kara.
"Fungsi Invers adalah fungsi yang berbalikan. Misalnya...."
"Buat yang lagi tiduran mohon fokus", ucap Ibu Nirma melototkan kedua bola matanya, pada siswa yang lagi tiduran di meja sambil meletakkan Buku yang di gengamnya di meja.
Ibu Nirma adalah salah satu guru yang paling ditakuti anak-anak di sekolah. Karena peraturan saat belajar, Ketegasanya, serta kedisipilinanya saat mengikuti pelajarannya di kelas. Bagi anak-anak menatap mata Ibu Nirma seperti menatap mata Harimau. Makanya sering kali anak-anak memanggilnya mata Harimau.
"Woi kerong...bangun si mata harimau lagi tegur lo", bisik Rio dari samping deretan yang tempat duduknya bersampingan dengan Atan dan Kara.
"Berisik lo, tempat nasi", ucap Atan sambil mengangkat kedua tanganya di atas seperti orang yang baru bangun tidur.
"Siapa yang Anda bilang tempat nasi?" seru Ibu Mira.
"Teman Aku Bu", jawab santai Atan yang kembali menatap pemandangam lewat jendela luar, tanpa peduli dengan Ibu Mira yang berbicara denganya.
"Kenapa Anda tiduran, semalam Anda tidak tidur, Anda tahu sekarang adalah jam pelajaran sekolah, ini bukan rumah Anda?" bentak Ibu Mira pada Atan.
"Gue tidur, gue juga tahu kali ini sekolah, jadi tidak usah ingatin saya", seru Atan balik pada Bu Mira yang membuat Ibu Mira semakin melototkan matanya. Seakan kedua bola matanya seperti meloncat keluar.
"Hei...nada tinggi Bu Mira. Jangan jawab pertanyaan saya, Anda pikir Anda siapa?" Senyuman miring di ukir dibibir Atan mendengar ucapan Bu Mira.
"Apa Ibu, guru baru di sekolah ini? Ibu tidak tahu siapa saya? 'ok. Baikalah saya perkenalkan..."
"Saya tahu Anda siswa perusuh sekolah ini, siswa yang sok paling berkuasa, tidak peduli siapa Ayahmu. Apa jabatanya yang namanya aturan sekolah tidak bisa Anda ubah seenak kemanjaan di rumah Anda. Atan Rayanin, Anda pikir ini sekolah Anda, seenaknya saja mengubah aturan sekolah"
"Anda ini benar-benar ya.Anda sudah tahu kalo sekolah melarang berpakaiaan biasa , kenapa Anda Langgar?" tanya Bu Mira saat Ia melihat Atan yang memang sengaja mengenakan pakaiaan biasa.
"Yah itu hak gue dong, baju, baju gue kenapa Ibu yang sewot"
"Oh Tuhan... Anda benar-benar kurang ajar ya", kesal Bu Mira sambil mengeraskan suaranya lagi.
" Anda pikir ini sekolah Anda? Cih...."
"Memang ini sekolah saya, oh ya pelajaran matematika itu bukan kesukaan saya, jadi boleh saya keluar?"
"Hei....Atan Rayanin mau kamu suka atau tidak..." suara Bu Mira diam saat Atan berdiri dan hendak melangkah keluar dari tempat duduknya.
"Atan duduk, saya sedang bicara sama kamu", ucap Bu Mira yang sudah terpancing emosi melihat sikap keculasan Atan.
"Atan", pegangan tangan Kara di Lengan Atan, Ia sengaja melakukanya karena ketakutan dari tadi dengan suara Ibu Mira. Tujuan Kara hanya ingin Atan sedikit menghargai Ibu Mira yang lebih tua darinya.
Atan berbalik menatap Kara yang lagi duduk. Kedua mata mereka saling bertemu beberapa detik, namun bukan Atan jika Ia tidak memarahi Kara apalagi mengengam ujung jarinya itu.
"Lepasin gue, lo tidak punyak hak ikut campur, Lo hanya babu sekolah gue bukan pacar gue", ucap Atan dan melepaskan kasar lenganya dari gengaman Kara. Rani yang mendengar ucapan Atan berbisik sebentar sambil tersenyum.
"Mampus lo Kara, ini baru awal lo lihat saja apa yang bakalan terjadi sama lo. Gue akan buat orang yang lo cintai membenci lo seumur hidup sama seperti yang Ibu gue rasakan", Batin Rani.
"Maaf Bu, saya malas berdebat. Lebih baik saya keluar saja , itu juga yang mau diucapakan Ibu 'kan? dari pada anak-anak yang lain terganggu dengan perdebatan Ibu dan saya", Atan melangkah keluar dengan santai yang membuat Ibu Mira merasa tidak dihargai dan seluruh teman-temanya saling melempar mata satu sama lain. Sedangkan Ibu Mira kembali bersuara.
"Atan saya akan laporkan Anda ke kepala sekolah karena sudah berani kurang ajar sama saya"
Langkahan kaki Atan terhenti di depan pintu kelas, Ia pun kembali bersuara dengan tubuh membelakangi.
"Silakan, saya tidak takut, asalkan Ibu tahu satu kata dari saya sudah membuat Ibu berhenti mengajar di sini"
"Oh ya Kar. catatin semua catatan pelajaran hari ini dicatatan matematika gue, setelah pelajaran. Setelah jama istirahat nanti gue mau semua materi sudah lengkap di catatan gue", Perintah Atan pada Kara yang membuat Ibu Mira semakin kesal dan kaget mendengar perintahnya. Baru Ibu Mira mau bersuara lagi Atan lebih dulu berkata.
"Jangan ikut campur dalam urusan saya yang ini, Ingat Bu jika Ibu masih mau bekerja di sekolah ini, Atan melangkah keluar dari kelas yang membuat Ibu Mira diam seribu kata dan teman-teman kelasnya ikut saling membisik satu sama lain. Lalu Ibu mira pun hanya memberi tugas pada anak-anak untuk dikerjakan sedangkan dirinya keluar kelas melangkah pergi ke ruangan kepala sekolah.
"Maafkan Saya Bu Mira, maafkan saya", Batin Atan.
*BERSAMBUNG*