
Setelah pak Baji ke luar. Atan melangkah masuk menutupi pintu kaca balkon pelan. Atan menarik gorden sedikit menutup pintu kaca balkon. Lalu melangkah mengambil buah yang tadi di letakan di meja. Dan melangkah mundur menjongkok bokongnya untuk duduk di sofa. Setelah duduk Atan mulai mengambil garpu kecil yang ada di piring dan mulai memasukkan beraneka ragam buah-buahan tersebut ke dalam mulutnya sambil memencet tombol pembuka remote pada tv.
Satu persatu buah-buahan itu di masukkan ke dalam mulutnya dengan meluruskan dan mengangkat kakinya, yang satu di atas tumpuan kaki yang lain di meja, hingga buah-buahan tersebut habis.
Atan yang bosan menonton acara di tv, mematikan kembali tv, dengan memencet tombol merah pada remote.
Lalu Atan mengambil jaketnya dan ke luar mencari angin di luar balkon. Entah mengapa Atan ingin sekali menemui Kara, hatinya begitu merindukan Kara. Tanpa pikir panjang Atan masuk kembali ke dalam kamar, sambil mengambil jaketnya dan memakai sendal kamar yang sudah di siapkan oleh Pak Baji di kamar. Membuka pintu lalu kembali menutup pintu kamar. Dan Atan melangkahi kakinya untuk turun dari anakan tangga satu persatu hingga tiba dirinya di lantai satu.
Saat Atan melangkah kakinya mendekati pintu sambil, bersiul-siul dengan santai, dengan kedua tanganya di sembunyikan dalam saku celananya.
" Maaf Pangeran. Pangeran muda mau ke mana?" tanya Pak Baji yang di percayakan Kanta sebagai mata-mata di rumah Rayani, selama Kanta pergi, Dia di tugaskan menjaga gerak-gerik Atan.
Saat Ia melihat Atan yang sudah bersiap rapi walau hanya mengenakan pakaiaan biasa saja. Namun ketampanan Atan sangat cocok dengan semua baju dan celana yang Ia kenakan. Pak Baji melihat kaki dan sendal kamar Atan masih menempel di kaki Atan. yang hendak melangkah mendekati pintu utama.
"Aku ke luar sebentar, mungkin pulang agak malam. Jika Ayah pulang beri tahu Ayah", ucap Atan dan terus melangkah santai menuju pintu utama.
"Tapi pangeran jika bos..."
"Biarkan saja nanti aku yang jelaskan", bantah Atan lalu melangkah keluar dari rumah besar tersebut. Pak Baji hanya diam menarik nafas dalam-dalam sambil, membungkukan kepalanya ke bawah saat Atan melangkah pergi.
Para satpam yang bertugas menjaga rumah Rayanin semua ikut berdiri saat Atan berdiri di hadapan mereka. Atan meminta salah satu supir mengantarnya pergi.
Salah satu supir tersebut di tunjuk oleh Atan untuk mengantar Atan. Mesin mobil viralel hitam di nyalakan dan Atan sudah masuk ke dalam mobil tersebut sambil berduduk santai di kursi penumpang pertama. Sedangkan para anak buah Ceka yang bertugas menjaga di rumah hanya, diam seperti patung tanpa bersuara saat Atan ke luar.
Mobil pun melaju pergi meninggalkan rumah Rayanin.
"Maaf Pangeran kita mau ke mana?" tanya supir di selah-selah perjalanan.
" Kamu ada gugle maps kan? nanti aku wa alamatnya ke kamu, ikutin saja alamat yang tertera di hpmu", jawab Atan singkat.
Tidak lama ponsel supir pun berdering yang menandakan pesan masuk wa Atan atau, kontak supir tertera tulisan pangeran rumah. Supir tersebut membuka pesan wa tersebut sambil melihat sebentar tanpa bertanya lagi mobil pun di lajukan kembali dan kecepatan sedikit dipercepat.
Supir pun melajukan mobil mengikuti arahan dari gugle maps tersebut. Alamat yang tertera di gugle maps tersebut tidak lain adalah alamat Kara. Atan sengaja pergi melihat Kara entah mengapa hatinya begitu merindukan Kara. Yang membuat sinaran permata terus bersinar di dada Atan.
Dalam perjalann menuju rumah Kara suasana dalam mobil memang selalu sepi seperti biasanya.
Hanya ada suara bising mesin dan suara motor serta mobil lain yang lalu lalang di luar. Atan hanya fokus bermain game di ponsel sedangkan supir fokus pada penyetiran dan jalanan.
:
:
:
Di lain sisi Terlihat dua orang tampan dan cantik turun dari mobil lomoringi hitam. Mereka berdiri di depan gerbang sebuah rumah mewah yang tidak lain adalah rumah Rani.
"Lo suka sama Kara Ren?" tanya Rani saat Reno mengantarnya pulang dari beskem the black. Saat mereka berdua turun dari mobil Reno tepat di hadapan rumah Rani.
"Apa maksud lo?" menyeritkan dahi dengan alis kiri diangkat ke atas~ Reno.
Rani menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan ke udara malam itu, Kembali berucap.
"Maksud gue lo suka sama Kara? sebenarnya aku tidak mau ikut campur soal urusan pribadi lo, tapi saat pertama kali aku lihat kamu di sekolah, tatapan kamu begitu dalam sama Kara?"
Rani hanya mengangukan kepalnya pelan dua kali ke bawah yang artinya Dia mengerti ucapan Reno. Tapi Rani melihat mata Reno berkata lain.
"Ren. Makasih kamu sudah antar aku pulang. Sebagai teman yang selalu mendukung setiap rencanamu maka, aku berikan ini alamat rumah Kara. jika kamu membutuhkanya silakan temui Dia", ucap Rani sambil menyodorkan sehelai kertas yang sudah tertera tulisan Alamat Kara di sana dan alamat dagangan bibi dan pamanya di pasar.
Reno menyiritkan keningnya kembali, dengan kedua alis ke atas saat matanya menatap wajah Rani dengan wajah Reno yang bingung. "Apa maksud pemberian alamat Kara? alamat tempat penjualan paman dan bibi Kara juga?"Batin Reno.
Reno membuka mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu. Tapi Sebelum Reno berucap, Rani lebih dulu melangkahkan kakinya ke dalam halaman rumah dan gerbang rumah di tutup kembali. Mulut Reno kembali tertutup dan hanya menatap pungung belakangnya. Reno sedikit berpikir soal sikap Rani hari ini yang sedikit ada keanehan bagi Reno, seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Reno kembali mengangkat kedua bahunya sambil masuk kembali ke dalam mobil. Ia melirik sebentar ke tulisan tinta hitam yang tadi di serahkan Rani padanya. Tiba-tiba hati Reno meronta-ronta untuk menemui Kara seakan hatinya begitu merindukan gadis itu. Tanpa pikir panjang Reno menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobilnya pergi meningalkan rumah mewah yang tidak lain adalah rumah Rani.
Rani yang sudah di dalam rumah dan kamarnya kembali membuka tirai jendela kamar yang ada di lantai dua. Di mana letak jendela kamar Rani itu berpapasan dengan jalan raya yang ada di depan rumah Rani. Entah mengapa hati Rani begitu sakit saat melihat mobil Reno yang sudah melaju pergi begitu saja tanpa pamit pada dirinya.
Rani kembali menutup tirai jendela dan merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya yang besar sambil berpikir sejenak.
"Rani kamu itu wanita cantik, ingat fokus ke tujuanmu jangan peduli dengan cinta, karena sekali kamu mengenal cinta maka tamatlah semua rencana kamu".
:
:
:
"Paman.... Ku mohon jangan lakukan ini... Ku mohon paman....ahhh sakit, paman....", suara tangisan Kara saat dirinya sudah direbahkan oleh tubuh kekar pria tua itu di sofa. Di mana sofa itu adalah ruang tamu. Kara masih mencekal keras tangan Ediy atau tangan pamannya itu, saat pria itu mencoba membuka kancing baju Kara dengan tangannya yang satu, sedangkan tanganya yang lain sudah menjambak rambut Kara.
Ediy melakukan hal buruk itu bukan pertama kali tapi, dia selalu melakukanya berulang-ulang, akan tetapi selalu gagal.
Saat malam ini Dia mengetahui istrinya yang menginap di tempat jualan di pasar maka, lelaki tua itu memutuskan pulang ke rumah, dengan alasan pada istrinya menjaga Kara karena Kara masih gadis virgin.
Lain dari pikiran Bibi Kara lelaki itu sudah berencana untuk memiliki keponakan kesayanganya itu malam ini juga. Yang lebih parahnya lagi Dia sudah di perintah oleh Rani untuk menyuji setiap hal yang Ia perbuat pada Kara.
Karena sebelumnya Rani menyuruh salah satu mata-mata kepercayaanya mencari tahu tentang keluarga baru Kara yang sekarang di tinggal oleh Kara. Sang mata-mata pun memberi tahu Rani soal sikap pamanya pada Rani.
Dari situlah Rani memanfaatkan Lelaki tua itu untuk menghancurkan Kara dengan membuat virgin Kara direnggut oleh Omnya sendiri, dan Membuat Atan membenci Kara dengan cemoohan kalo paman Kara yang membunuh Viky.
"Dasar munafik, di depanku kau sengaja suci, tapi di luar kau sudah memberikan tubuhmu pada pria kaya di luar sana".
"Pakk.... Kau pikir aku bodoh.... Haa....( suatu tamparan keras melayang dari tangan kekar Eddy tepat di pipi polos Kara. Saat Kara yang sudah menangis isyak di bawah tubuh Eddy). Jika kau bisa memberikan tubuhmu hanya karena uang, maka ambilah uang ini dan layani aku sepuasnya....", teriak Eddy. Semua uang itu melayang dan berserakan di udara dan jatuh tak beraturan di mana- mana.
"Lepaskan bajumu....", paksa Eddy dan kembali mencium tubuh Kara seperti anak kecil yang lagi yang kelaparan eskrim, tetap saja di tahan oleh tangan Kara dengan tatapan berbendung air mata di bawah tubuh Eddy".
"Paman.... Ku mo....hon....jan...gan....", ucap Kara sambil terus mengeluarkan butir-butir itu keluar deras membasahi kedua wajahnya dengan isyak tangisnya.
"Kau.... Sok polos di depanku. Baikalah akan aku tunjukan pada cara bermain yang bagus", mencengkram tangan Kara dengan kuat hingga gadis itu merasa kesakitan dan sulit bergerak.
Kemudian Eddy mulai menarik menarik paksa baju putih Kara hingga, baju itu terbuka dari bahu kiri Kara. Yang membuat Eddy menelan ludahnya saat kaos dalam Kara terlihat dengan kulit mulusnya .
"Pa....man.... Ku... Mohon....", suara tangis Kara lagi.
"Pak....pak....", tamparan berulang-ulang dari tangan Eddy pada pipi Kara yang membuat, pipi gadis itu membengkak dan bibirnya sudah mengeluarkan cairan merah.
Jangan lupa like, komen dan kasih bintang terimakasih❤🙏🙏🙏🤗