
Atan yang melangkah dengan air mata sambil, menatap dalam Kara di bawah sana, saat Atan sudah sampai di hadapan Kara yang ada di bawah sana, tubuh Atan pun ikut jatuh berlutut di hadapan Kara, Kedua lutut Atan tertempel di aspal jalanan.
Atan yang menatap Kara yang juga ikut, menatap Atan dengan sangat dalam dari tatapan bola mata kedua insan itu. Tangan Atan yang dari tadi kegementaran di sana kini Atan memberanikan diri Atan untuk, mengangkat pelan tubuh Kara ke atas tumpuan kedua paha Atan. Tangan Atan menyentuh lembut pipi Kara yang menatap Atan dengan air mata masih mengalir di kedua pipinya.
Kara yang melihat air mata Atan terus, berjatuhan membasahi kedua pipi Kara tanpa ada ucapan sepatah kata pun keluar dari mulut Atan. Akhirnya Kara memaksakan dirinya tersenyum lebar dengan air mata yang ikut mengalir di pipi Kara sambil berucap,
" Aku tahu saat ini kamu sedang terpuruk, saat kamu terpuruk maka genangan butir-butir bening ini yang akan mengisyaratkan isi hatimu. "
" Jangan menangis... A.. Ku baik-baik saja, hemm..., " ucap Kara sambil berdehem dengan suara lembut.
Kara berucap dengan suara yang terbata- bata, karena ia merasa kesakitan di punggung belakang akibat bekas Luka tembakan peluru beracun itu. Tangan gadis cantik itu kembali diangakat ke atas dan kedua tangan Kara menyentuh lembut pipi pria yang saat ini stengah monster manusia. Kara menyeka butiran bening yang berjatuhan di pipi Atan, dengan kedua jari jempolnya. Dengan sangat lembut Kara menghapus butiran-butiran itu sambil menatap dalam Atan dengan senyuman lebar dibibirnya.
Saat Kara yang dari tadi berusaha menahan, sakit dan berusaha kuat di hadapan Atan, kini tubuh Kara semakin lemah, semua racun peluru itu sudah menyebar di semua anggota saraf tubuh Kara. Racun peluru itu tidak ada obatnya, efek samping dari peluru racun itu mulai beraksi Kara kini meremas kuat pergelangan tangan Atan dengan menutup kedua matanya, sedangakan keringat halus mulai terlihat di kening Kara dan wajah Kara mulai memucat.
" Kara... Kamu baik-baik saja, ' kan? " tanya Atan kwatir.
" Kara....! " teriak Atan.
Rani, Reno, dan Ceka yang melihat Kejadian, tersebut menatap ke arah Atan yang sudah menangis di sana. Sedangakan Rani mendekat ke arah Atan dan Kara sambil menangis keras di bawah sana.
" Kara...bangunn.... Aku belum sempat mengucapakan kata maaf, " tangis penyesalan Rani.
Atan yang meremas jari-jemarinya menatap, tajam pria yang tadi menembak ke arah Kara, dengan tatapan yang sangat kejam. Pria itu kini ketakutan karena ia tidak bisa turun dari loteng itu, dimana di bawah loteng itu sudah dikelilingi anak buah Ceka yang akan menangkapnya, Atan mengangkat tubuh Kara dipindahkan ke pangkuan Rani.
Atan pun melangkah dengan kekuatan, anginnya Atan langsung melompat naik ke atas. Saat Atan yang sudah di atas, Atan mencekik leher Pria itu dengan tangan kekarnya sambil mengangkat tubuh pria itu ke atas. Sedangakan pria itu tidak bisa berucap kini ia hanya berusaha memegang tangan Atan untuk tidak membunuhnya.
Emosi Atan semakin membara yang membuat emosi Atan tidak bisa dikontrol. Ceka yang berusaha menghentikan Atan , namun semua sia-sia saja.
Beraninya dirimu....! " ucap Atan saat mencekik leher pria tersebut.