ATABUAN

ATABUAN
Sedang Bicara~Atabuan.



Kara yang sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap ke Sekolah. Karena hari ini Kara sedikit terlambat ke Sekolah, jadi Ia memutuskan untuk memberishkan badanya dahulu. Tidak lupa Ia membawa perlengkapan seragamnya ke kamar mandi, tinggal sepatu dan kaos kaki yang di tinggalkan di kamarnya.


Kebiasaan Kara mengikut sertakan semua, pakaiaan ke kamar mandi, cuma satu tujuan agar tidak dilirik oleh pamanaya, pada semua tubuhnya, jika dia keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk, maka kesempatan datang pada lelaki tua itu.


Dari dalam kamar mandi Kara mulai, M


mengantung pakaiaan di gantungan pakaian di balik pintu dalam kamar mandi. Tidak lupa Ia memasang tiga kunci dari balik pintu kamar mandinya, satu kunci di atas pintu, satu kunci di tengah pintu, dan satu gembok kunci di bawah pintu kamar mandi tersebut.


Dia juga sudah menyiapkan tripleks atau, papan yang ukuranya sesuai ukuran jendela kamar mandi di bawah, dan juga handuk yang di lipat kecil-kecil memanjang menututupi lubang-lubang pintu kamar mandi sesuai ukuranya, agar tidak bisa dilihat oleh siapa pun dari luar. Tujuan Kara melakukan ini adalah satu tujuan agar pamanya tidak bisa melihat apa yg ingin dilihatnya.


Saat Kara menyalakan sower air di kamar mandi, awalnya lelaki tua itu tidak terpengaruh sama sekali dengan bunyi air, di balik kamar mandi tersebut. Karena Ia tahu Istrinya atau bibi Kara sedang ada di rumah sekarang. Namun semakin Ia mendengar, bunyi air itu membuatnya duduk seperti cacing kepanasan di meja Makan. Mondar-mandir di dapur Hingga pada, ahkirnya Ia tidak bisa menahan dirinya lagi.


Memutuskan untuk melangkah pelan mengikuti pintu belakang dapur, menuju sebuah tangga yang sengaja di siapkanya untuk mengintip keponakanya tersebut. Lewat jendela kamar mandi atas. Karena Ia tahu semua pintu dan lubang pintu kamar mandi serta jendela kecil sudah ditutupi oleh Kara.


Lelaki Tua itu mulai aksinya menaiki anakan, tangga satu persatu, hingga tiba dirinya diatas jendela kamar mandi atas. Tinggi badanya yang kurang pas dan tangga yang dinaikinya juga kurang tinggi sesuai ukuran kamar mandi, dengan terpaksa lelaki itu menjinjit kedua kakinya agar bisa melihat ke bawah lewat jendela tersebut.


Dari balik di dalam kamar mandi Kara sudah, mematikan sower air, Ia sudah selesai mandi. Saat Ia memakai handuk untuk membersihkan sisa air yang masih tersisa di tubuhnya. Dia mulai mendengar bunyi, dari balik atas jendela kamar mandi. Secepatnya Kara menutupi handuk diseluruh tubuhnya. Arah jendela Kamar mandi atas tepat sama dengan cermin kamar mandi yang menggantung di tembok. Kara melangkah pelan mendekati cermin itu dan melihat.


" Paman! " suara Kara dalam hati saat melihat wajah lelaki tua itu ada di cermin. Dengan seluruh tubuhnya yang bergementar dan ketakutan membuat DIa sedikit mundur ke belakang.


" Ahhhhh!" teriak kesengajaan Kara dan sontak lelaki tua itu ikut kaget, lalu jatuh dari tangga. Yang membuat Bibi Kara pun ikut kaget dari dalam kamar, dan berlari keluar menghampiri Kara di kamar mandi.


" Kara.. kamu kenapa? sayang kamu baik-baik saja?" tutur wanita paruh baya itu di balik luar pintu kamar mandi.


Untungnya sebelum melihat apa yang ingin, di lihat oleh paman Kara, Kara terlebih dahulu mengenakan handuk. Jadi lelaki tua itu tidak bisa melihat apa yang ada dipikiranya. Walau ia sedikit melirik dari bawah kaki, paha dan punggung belakang Kara.


" Maaf Bi. Sudah buat bibi kwatir, " ucap Kara saat keluar dari kamar mandi dengan seragam sekolah yangg sudah lengkap.


"Apa yang terjadi sampe kamu berteriak segitu kencangnya?, " tanya Bibi Kara lagi.


" Oh.... itu... tadi.... aku ketemu tikus di dalam kamar mandi Bi, "Jawab Kara sambil menatap lurus ke pamanya.


" Tikus? sebesar apa? ko bisa ada tikus? datang dari mana, 'thu tikus?" tanya Bibi Kara lagi.


" Ya tikus Bi. Sangat besar, aku juga tidak tahu dari mana datangnya tikus besar itu? " ucap Kara pada bibinya sambil menatap dalam, pamanya yang ada di hadapanya dengan wajah yang sedikit ketakutan dan grogi. "


Suasana sekolah yang sudah ramai berbagai, warna kulit, jenis rambut dengan seragam lengkap dari anak-anak Sma Universal Scool, sudah memenuhi lingkungan Sekolah, setelah libur melewati hari minggu dan sabtu.


Sekarang saatnya bagi mereka untuk mempersiapkan diri menerima pelajaran di hari pertama Sekolah. Berbagai merek mobil sudah memenuhi parkiran di lobi khusus untuk mobil, sedangkan yang membawa motor memarkir di area khusus motor, dan yang membawa sepeda memarkir khusus di area sepeda. Karena setiap hari Kara pergi ke sekolah menggunakan angkot jadi dia selalu turun di depan gerbang utama Sekolah , baru melangkah memasuki Lingkungan Sekolah.


Kara yang sedang sedih dengan setiap masalah yang Ia hadapi melangkah, memasuki lingkungan Sekolah dengan berpikir sejenak,


" Kara anggap saja semua masalah yang terjadi hari ini, sebagai berkat buatmu untuk lebih sabar itulah , kemaunan Tuhan untuk menguji setiap manusia, " gumam Kara dalam hatinya. Sambil menghirup udara segar di pagi hari di Lingkungan Sekolah. Saat Ia melangkah kakinya di tengah-tengah lapangan Sekolah tiba-tiba,


Langkah kaki berlari menuruni anakan tangga ke lantai satu, hingga Kaki Atan pun berhenti di tangga terakhir yang jaraknya, Sepuluh jengkal dari Kara, yang masih berdiri mematung dan menatap Atan dengan kening berkerut, sambil mengengam kedua buku di kedua tangan yang mendekap dalam dadanya. Sedangkan di belakang Atan sudah berdiri kelima teman Atan yang saling menatap satu sama lain. Dan dikelilingi anak-anak yang ikut menuruni anakn tangga.


" Gue gak nyangka, seorang di Sekolah berlagak polos dan pendiam tapi nyatanya di belakang seperti?"


" IBLISYANG MEMATIKAN, " ucap Atan dengan tekanan pada setiap kata yang diucap.


Sambil menatap Kara begitu penuh amarah. Dan langkahan kakinya mengikuti setiap kata yang diucap dari mulut yang penuh tekanan itu, secara pelan tapi pasti, hingga dirinya tiba di hadapan Kara yang jaraknya dua jengkal saja. Kara yang masih bingung dengan ucapan Atan lalu ia melihat ke belakang, berpikir kalo Atan sedang berbicara dengan orang lain di belakangnya.


" Gue sedang bicara sama lo. Jadi tidak usah melihat sana sini, " tutur Atan.


" Oh... Gue pikir lo..."


" Tidak usah berlagak seperti orang bodoh, yang tidak tahu apa yang sedang gue bicarakan"


"Apa maksud kamu Tan, Aku sama sekali tidak mengerti"


" Lo tidak mengerti? Baiklah akan gue tunjukin, " ucap Atan sambil melangkah mendekati, Kara dengan tatapan tajam. Kini jarak mereka setengah jengkal saja, Kara mencoba memundurkan kakinya ke belakang karena merasa tidak nyaman, namun tiba-tiba tangan kiri Atan dikeluarkan dari saku celanaya.


"IKUT GUE, " tarikan tangan kasar Atan di lengan Kara.


Lalu melangkah menuju lapangan Basket Sekolah, terlihat seribu mata dari semua siswa di berbagai penjuru melihat dan mengikuti langkahan kaki Atan dan Kara. Sedangkan yang di atas lantai dua, tiga, empat dan lima dari setiap sudut koridor Sekolah seribu mata dan mulut ikut berbisik dan saling melihat satu sama lain.


" Tan gue tidak tahu masalah apa yang lo bicarakan? tapi plis lepasin tangan gue, lo tidak"


" DIAM... TADI LO BERTANYA, 'KAN? Apa masalah LO SAMA GUE? NIH GUE TUNJUKIN DERAJAT LO DI SEKOLAH INI, " sebuah lepasan tangan kasar dari Atan yang membuat Kara jatuh tersungkur di lantai Lapangan Basket Sekolah.


" Atan... lebih baik kita bicarakan baik-baik saja, tidak seharusnya penganiyaan kita di waktu Smp, harus lo berlakukan di Sma juga, apalagi Dia seorang...., " ucap Rio terpotong saat Ia mencoba menenangkan Atan.


" Gue sudah bilang Ri, JANGAN IKUT CAMPUR!"


" Atau lo suka sama dia?" ucap Atan dengan nada penuh tekanan pada Rio sambil, tersenyum miring menatap Kara yang masih bingung dengan sikap kasar Atan padanya.


" Ini bukan masalah suka atau..."


" Lo dengar tidak, ' sih Rio ! " nada suara Atan mulai kesal.


" Kalo lo masih sahabat gue, berdiri di sana dan lihat saja PERMAINAN yang gue mainkan, " tambah Atan Lalu kembali menatap tajam Kara.


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan saran terima kasih untuk yang susah mampir.