
"Hei nona, siapa namamu?" tanya seorang pria.
"Namaku Kara", jawab singkat Kara.
"Kara...saya mau minuman kamu. Tapi, saya mau kamu yang duduk bersama dengan saya di sini", goda pria itu dengan senyuman jahil dibibirnya sambil melangkah pelan mendekati Kara. Reno yang melihat aksi temanya itu secepatnya menghalangi langkah pria itu dengan kakinya yang satu di hadang di depan jalan.
"Ren....apa maksud dari ini?" tanya temanya Reno tersebut saat melihat kaki Reno.
"Maaf Saji, Dia adalah temanku", ucap Reno sambil berdiri menghadap Kara yang lagi tersenyuman tulus dari bibirnya.
"Oh....maaf bos, aku pikir.... Dia kariawan baru di sini", jawab pria itu lalu kembali duduk di kursinya.
"Tidak apa-apa, maaf sebelumnya aku tidak menjelaskan kalo Kara adalah tamuku", Potong perkataan dari Reno pada temanya itu.
"Kar... Kamu boleh ikut aku sebentar", pegangan tangan Reno pada lengan Kara sambil tersenyum, yang membuat Kara semakin gugup dan sedikit melirik dengan kerutan di dahinya pada wajah Reno dengan kebingungan.
Saat Reno hendak melangkah keluar bersama Kara, Atan bangkit berdiri secepat mungkin dari kursinya dan melangkah ke arah Kara dan Reno. Secepatnya tangan Atan pun menyentuh tangan Reno yang masih ada di lengan Kara.
"Maaf...bisa Anda lepaskan tangan Anda dari lengan kariawanku?" ucap Atan dengan tatapan tajam pada Reno.
Atan memang tidak mengenal sosok Reno karene mereka berpisah pada umur sembilan tahun, bagi Atan yang namanya masa lalu tidak perlu diingat lagi. Akan tetapi Reno masih sangat mengenal wajah Atan hingga sekarang.
Dalam gengaman antara Atan dan Reno terasa sekujur tubuh Atan merasakan suatu sengatan kekuatan seperti listrik. Kedua mata mereka saling menatap dengan tajam. Perubahan terjadi pada mata Reno, kedua bola matanya berubah warna kuning, sedangkan Atan kedua matanya berubah warna biru dan merah.
Kalung Atan menyala sangat terang yang membuat mata Reno sakit dan tangannya seperti berjabat tangan dengan api. Akhirnya Reno secepatnya melepaskan tanganya dari lengan Kara. Karena tidak tahan dengan rasa sakit yang dirasakan dari ujung jari, pergelangan tangan hingga bahunya.
"Sial...gue harus kesetrum sama kekuatan permata itu lagi", batin Reno kesal.
"Maaf saya hanya ingin menolong kariawanmu dari teman-teman saya", ucap Reno dengan berpura-pura tidak mengenal Atan.
"Apa anda bos di sini? biarkan Dia melakukan tugasnya", suara Atan dengan sedikit tekanan pada Reno.
"Maaf saya rasa, Anda salah mengartikanya. Dia adalah gadis baik-baik menurut saya. Jadi...."
"Kara. Lanjutkan tugasmu sesuai perintah dari saya!" jawab balik Atan dengan nada suara yang sudah berbeda lalu melirik tajam ke Kara yang lagi bergementar di kedua tanganya.
Saat Kara hendak melangkah lagi Reno secepatnya kembali menghalang Kara dengan berdiri di depan Kara.
"Kara keluarlah! ini bukan pekerjaan yang cocok untukmu"
"Maaf saya rasa, gadis seperti kamu tidak perlu melakukan hal ini untuk mengikuti perintah bosmu. Yang sama sekali tidak menghargai dirimu", sindir Reno balik sambil melihat ke mata Atan.
"KARA! LAKUKAKAN...PERINTAHKU!"
"JANGAN NONA KARA".
"Kamu pikir kamu siapa, beraninya", suara kesal Atan sudah terlihat, tapi Ia masih berdiri santai dengan tatapan tajam pada Reno.
" Saya adalah manusia, saya adalah pengagum rahasia Kariawanmu, KARA, Sudah jelas jawaban saya?"
"Hei kau...beraninya!" nada tinggi Atan lagi menarik kerak baju Reno dengan tatapan yang sangat tajam.
Reno masih tersenyum miring di bibirnya dengan melihat perilaku Atan yang menurutnya sangat tidak sesuai dirinya.
"Dengan sikap anda seperti ini, maka Anda menunjukkan diri anda bukan seorang yang pantas di sebut bos, jawab santai Reno"
"Be....raninya Kau....!" Emosi Atan semakin menjadi.
"Ada apa lagi sama Atan?" tutur Willem sambil melihat ke arah empat temanya.
"Gue rasa ini ada hubungan sama Kara lagi, kelihatan dari sikap kasar Atan pada pria itu", Suara Rio.
"HENTIKAN! Gue akan...."
"Sampai kapan lo harus siksa Dia? Lo jelas tahu arti dari gadis membagi minuman di klub INI....?" nada tinggi dari Reno dengan kembali membalas tarikan kerak pada baju Atan dengan tatapan yang tidak kalah tajam dari Atan.
Keduanya saling menatap satu sama lain. Suasana dalam klub kembali diam karena kini semua mata tertuju pada mereka bertiga.
"Jangan coba melindungi Dia, lo tidak tahu apa-apa!" ucap Atan.
Dan Tiba-tiba listril klub padam. Perubahan pada fisik Atan terjadi lagi, begitu pula dengan Reno. Keduanya sudah berubah dalam wujud asli mereka masing-masing. Atan perubahan belum seutuhnya karena ia masih mengenakan kalung. Jadi Ia hanya berubah dalam stengah manusi monster singa. Begitu pun sebaliknya dengan Reno yang juga berubah stegah manusia harimau.
Kedua tatapan dari mereka seakan ingin saling menyerang satau sama lain. Tapi tiba-tiba Kara memegang tangan Atan agar menghentikan perkelahian mereka. Di situlah perubahan normal terjadi kembali.
Perubahan normal kembali terjadi saat lampu kembali menyala. Yang sengaja dinyalakan oleh seseorang berseragam serba hitam. Semua mata melihat ke arah mereka dan saling berkata.
"Tadi kalian dengar suara singa dan harimau Jangan....jangan ada....aaaaa....", semua pengunjung klub berlarian seperti terkejar setan berlari satu per satu mencari keselamatan. Tinggal Atan, Kara, Reno dan kelima teman Atan serta keempat teman Reno yang masih ada di klub.
"Dasar manusia sinting", bagaimana bisa , malam begini di tempat yang ramai ada harimau atau singa", tutur Jonggky sambil melihat para pengunjung yang sudah kosong di klub.
"Rio bawa Kara keluar dari sini! Gue masih ada urusan sama Dia", perintah Atan sambil terus menatap Reno.
"Apa lo buta? lo lihat Dia lagi ketakutan"
"Hentikan!" nada tinggi Atan dengan emosi yang meluap. Saat mendengar suara Reno yang kembali menghentikan langkah kaki Kara.
"Rio...tatap Atan pada Rio dan keempat sahabatnya yang lain".
"Baiklah", jawab singkat Rio.
"Lo berempat juga keluar dari sini!" tambah Atan kembali. Sedikit melirik Fandi, Chiko, Willem dan Jonggky.Reno pun ikut memberi perintah pada Keempat temanya itu.
"Kalian berempat keluarlah! Tunggu aku di luar!" seru Reno pada teman-temannya.
"Tapi bos, bagaimana dengan suara harimau dan sing..."
"Keluarlah!" perintah Reno lagi.
Keempat teman Reno pun diam saat menatap mata Reno yang memberi kode untuk ke luar. Dengan terpaksa mereka ikut ke luar tanpa bersuara dan bertanya. Walau hati mereka masih penasaran dengan suara monster singa, harimau yang mereka dengar.
"Bos jangan sampai bertengkar dengan hal yang tidak penting", tandas Saji lagi.
" Siapa Kamu Sebenarnya?beraninya ikut camput urusanku", ketus Atan.
"Siapa Aku nanti kamu juga akan tahu, karena sebentar lagi kita akan bertemu setiap hari. Yang jelas Aku adalah musuh terbesarmu BANGSA ATABUAN", ucap Reno dengan suara datar dan penuh tekanan di kalimat akhir, tatapan mata antar Reno dan Atan pun kembali berubah.
"Apa maksud dari ucapan kamu itu?"
"Lo sama gue sama, sama-sama bukan dari dunia manusia, jadi jangan sok **** di depan gue"
"Oh ya Gue rasa gue tertarik sama Kara, mulai sekarang Kara adalah milik gue", tegas Reno dengan tekanan lalu melangkah untuk pergi.
Bersambung.