
Pelukan Atan pada Kara seakan menjadi pelukan yang sangat-sangat romantis, hingga Atan tidak menyadari kalo saat ini Kara sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya. Reno dan Rani yang masih dalam pikiran mereka masing-masing karena saat ini hati, mereka lagi hancur melihat cinta yang mereka inginkan tidak bisa dimiliki satu sama lain. Di sela-sela suasana bisu itu saat bersamaan Kara mulai menjerit kesakitan dan darah di bagian tubuh Kara yang tertembak kini kembali bercucuran di mana-mana.
" Ahhhhh...! " jerit Kara dalam pelukan Atan.
Kara menjerit kesakitan dengan, sambil mencengkram kuat tubuh Atan dengan kedua tanganya. ucapan Kara dengan bercucuran air mata dan keringat halus di dahi Kara. Atan yang melihat Kara yang sedang menahan sakitnya sambil menangis diam itu, membuat Atan sangat kaget dan cemas sambil bertanya,
" Kara... Kamu tidak apa-apa, 'kan? " tanya Atan kwatir.
Atan bertanya dengan melepaskan pelukanya dari tubuh Kara, dan kedua tangan Atan langsung menyentuh kedua pipi Kara dengan lembut.
" Kara kamu...! " ucapan Reno yang ikut kawatir tiba-tiba langsung di potong oleh Ceka yang sudah memesan mobil ambulance rumah sakit sejak tadi.
Sebenarnya Ceka mengetahui kalo Kara tertembak peluru beracun yang mematikan, namun karena tadi tidak sempat mengurus Kara ia masih harus fokus pada Atan yang ingin menodai dirinya, karena hal itu membuat Ceka lupa kalo Kara tertembak peluru beracun.
" Jangan banyak tanya kalian bertiga, sekarang kita bawa Kara ke rumah sakit. k
Karena peluru yang ditembakkan pada tubuh Kara, bukan peluru biasa tapi peluru beracun mematikan, " ucap Ceka sambil menyampari Atan dan Kara di bawah sana.
" Apa maksud papa? " tanya Atan bingung.
" Sudah papa bilang jangan banyak tanya, papa akan jelaskan semua saat dirumah sakit nanti, sekarang bawa Kara ke mobil ambulance secepatnya. "
Atan yang semakin cemas dengan kondisi Kara tanpa bertanya lagi, Atan langsung menggendong tubuh Kara yang sudah pingsan sedari tadi dimana itu saat masih terjadi perdebatan antara Atan, Reno, dan Ceka. Setelah Kara diletakan di atas kasur rumah sakit, yang sudah disediakan di dalam mobil sesuai fasilitas rumah sakit dalam rangka kebutuhan gawat darurat. Setelah itu Atan pun ikut menemani Kara dengan duduk di samping Kara.
" Bertahanlah Kara, pliss...aku mohon bertahanlah, " kata Atan dengan suara lirih sambil mengengam kuat salah satu tangan Kara dengan kedua tanganya yang sangat lembut dan erat.
Atan mengengam eratt tangan Kara sambil, ditempelkan pada pipi Atan yang saat ini sedang menangis keras, yang mengisyaratkan kalo Atan takut kehilangan Kara.
Setelah mobil ambulance kembali melaju pergi ke arah rumah sakit, Rani yang terus menerus meneteskan air mata, merasa cemas, menyesal, dan kwatir, kini Rani ditenangi oleh Reno yang juga ikut menangis melihat kondisi Kara yang semakin memburuk. Dan mereka berpelukan selama beberapa menit. Setelah berpelukan Reno pun kembali Mengajak Rani untuk menumpang sementara di mobil Reno. a
Akhirnya keduaya pergi menyusul Atan. Sedangkan Ceka dan para anak buahnya ikut menyusul Atan juga, tanpa Atan sadari kalo Kanta sudah ditemukan oleh Ceka dan sekarang Kanta sedang bersama Ceka.
Perjalanan menempuh rumah sakit sekitar satu jam, setelah sampai di rumah sakit bukan Ceka Rayanin kalo semua pihak rumah sakit tidak langsung menangani. Kedatangan mobil ambulance yang ditumpangi Atan dan Kara langsung mendapatkan perhatian khusus dari pihak rumah sakit. Kara pun langsung ditangani oleh tiga dokter terkenal di Jakarta yang sudah dikhusukan buat mengobati luka tembak Kara.
Dan pecalah tangisan seorang Atan, saat melihat Kara lewat kaca jendela UGD yang saat ini sedang ditangani dokter-dokter dari ruang operasi.
Atan yang melihat kedua mata, mulut, tangan dan kaki Kara yang terbaring kaku di sana, hati Atan begitu sakit dan hancur. Entah mengapa Atan merasa sangat-sangat terpuruk saat ini dan kehilanga. Pikiran Atan, hati Atan semuanya kini difokuskan pada kara. Dan Atan kembali mengingat semua memory sikapnya yang selama ini pada Kara, mau dibilang sikap Atan selama ini selalu menyakiti Kara, dan saat Atan sadari kalo Atan jatuh cinta pada Kara, saat itu penyesalan yang kembali membaluti hati Atan saat ini.
Dan saat Atan menyadari hal itu ia kembali teringat akan kata-kata Kara, saat pertama kali menghapus air mata Atan,
" Saat kamu terpuruk...saat itulah butiran-butiran bening ini yang akan mengisyaratkan isi hatimu, saat bibirmu tidak bisa berucap. "
Musik sedih korea (Sam Kim~ Breath) membaluti tangisan Atan saat membayangkan kembali memory masa lalunya bersama Kara.
πΆπ΅ Gieokhalge neowa usdeon sugnan,
( aku akan mengingat saat aku tertawa. bersamamu),
Nan gieokhalge neowo ango isseossdeon sigan \( aku mengingat saat aku bepelukan dengamu\),
Geuriwohalge eodiseodo nan neoreul ( aku akan merindukanmu dimana pun aku berada),
Geuriwohamyeo gidarigo ttk gidarilge neol,
(aku merindukanmu dan aku akan menunggu, menunggumu lagi).
Haruga mujaro swigo too swieossda dasi saenggakhae, (aku beristirahat satu hari, dan beristirahat lagi dan memikirkanmu lagi)
Neowa hamkke han sungan geu modeun geot hanahana kkaji, ( saat bersaamu satu persatu di saat itu, setiap hal hingga semuanya),
Deo saenggakhalge geurowjimyeon jilsurok neoreul, ( semakin aku memikirkamu, semakin aku merindukanmu)....
" Huuuu... ππ, " suara tangisan Atan
Bersambung...