
Karena hari telah sore Kara yang membantu bibinya berjualan ikan di pasar, akhirnya Kara pamit ke ke bibinya untuk kembali ke rumah. karena Ia mau pergi ke kafe saat tadi janjian di sekolah dengan Atan, Rina dan Rio.
" Kara pulang dahulu ya Bi, " ucap Kara sambil membereskan barang-barangnya.
" Apa kamu mau pulang dengan bau amis ikan itu? lebih baik sana kamu ganti baju dulu di ruang ganti, mana ada lelaki di luar sana yang mau dekat sama kamu? "
"Bibi..., " panggil Kara saat melihat bibinya tersenyum dengan jahilnya pada keponakan tersayangnya itu.
" Sana ganti dulu! " ucap wanita paru baya itu lalu kembali berucap lagi,
" Kalo bau ikan masih menempel di seluruh tubuhmu ini maka para pria akan menjauhi kamu, " tutur Bibi Kara karena tidak tahan dengan seluruh bau badan Kara akibat membantu Ia menjual Ikan.
" Apa yang dikatakan bibimu itu benar Kar, kalo kamu harus ganti baju dulu, kamu bawa baju ganti, 'kan? " tambah paman Kara yang semangat sekali mendengar Kara harus mengganti baju.
Kara sebenarnya tidak mau mengganti baju, apalagi di ruang ganti kamar, yang jelas bisa dilihat oleh pamanya. Tapi karena paksaan dari bibinya Ia terpaksa harus ganti, tujuanya cuma satu agar bibinya tidak curiga dengan sikap Kara. Gadis itu tidak mau melihat bibinya sakit hati.
Saat Kara masuk untuk mengganti bajunya, Karena ruang ganti itu transparan dengan kacanya, yang belum dipasang gorden jadi lelaki tua yang tadinya berdiri di pojok penjualan Ikan sedikit menundukan kepalnya ke bawah. Seperti jongkok di mana ruangan ganti itu berhadapan dengan pojokan lelaki tua itu, Ia melihat dengan ekspos.
Di mana Kara mulai membuka bajunya, untungnya Kara hanya membuka baju namun Ia masih mengenakan baju dalaman putihnya. Jadi lelaki tua itu hanya melihat kedua kulit mulus dari bahu kara yang membelakanginya.
Tidak lama kemudian Kara mengenakan kembali baju kaos hitam rumahnya, dan lelaki tua itu kembali mengalihkan tatapanya ke pelanggan yang datang membeli Ikan. Saat Kara sudah keluar kembali dari balik pintu ruang ganti.
๐๐๐๐๐๐งก Di Sisi Lain,
Rio Rani, dan dua orang sahabat Atan mereka adalah, Fandi dan Chiko. Yang sengaja diundang Atan untuk berjaga-jaga karena Atan tahu kalo Markas salah satu musuhnya ada di dekat Kafe milik papanya itu.
Saat mereka tiba di Kafe mewah milik papanya Atan, Kafe yang sudah ada lampu-lampu kecil dihiasi di pohon-pohon. Dan berbagai kursi yang di susun memanjang sesuai dengan meja panjang pelanggan. Membuat keindahan kafe itu tersendiri, dengan di hiburi hiburan musik band -band kafe. Berbagai macam menu makanan, minuman serta harga yang terpapar di poster kafe dan buku-buku menu. Terlihat para pelayan sibuk melayani pelanggan yang sudah berdatangan memesan tempat duduk dan makanan sesuai menu makanan yang sudah ada.
Karena Kepala Pelayan diberi tahu oleh Atan bahwa ia dan temanya akan makan malam di kafe, jadi mereka sudah menyiapkan segala sesuatu sesuai rencana Atan, serta meja khusus bagi tamu istimewa Atan. Mereka mengetahui persis sikap Atan yang sangat cuek dan angkuh itu jika tidak mengikuti pewaris bos Ceka, Maka tamatlah status pekerjaan mereka.
" Ri. ko Atan belum datang? " tanya Rani karena sudah menunggu hampir satu jam. Namun Atan belum datang-datang. Sambil mengambil jus jambu yang sudah disediakan pelayan di meja mereka.
" Sabar putri, si bos biasa.... kamu, 'kan. Tamu istimewanya jadi wajar kalo Dia mau berpenampilan sedikit berbeda, " goda Rio pada Rani.
" Ini si Kerong ko belum datang-datang ya?" batin Rio bergumam sambil melihat pintu masuk Kafe.
" Woi Cicak si Kerong wa lo tidak? dari tadi gue telfon, wa, sms, tidak ada balasan."
" Chikooooo... bukan cicak, kesal Chiko diledek oleh Rio. Dasar muka tempat nasi. "
" Dari pada lo Cicak kecil, " seru Rio balik.
" Dia wa lo tidak badut?"
" Sotoi lo, ngakk, 'Kan, biasanya Lo berdua yang akrab, sama kita mha si bos paling mau...?" suara Chiko berhenti saat tahu kalo ada Rani, hampir saja Ia keceplosan sikap kenakalan Atan di luar sekolah.
Lototan mata dari Fandi dan Rio ke mata, Chiko dan Fandi memberi kode dengan jari tunjuknya ditarik dari lehernya, yang artinya kalo Atan tahu bakal habis Chiko sama Atan.
Suasana kembali diam setelah becandaan dan ledekan serta ancaman dari Fandi ke Chiko. Kini semuanya terdiam dalam beberapa menit.
Di ruang rahasia atau markas besar Drigen Black, masih terlihat para ninja sang pembunuh itu, mengawasi setiap komputer mereka dan layar lebar mereka yang berisi rekaman cctv rumah Ceka Rayani.
" Sebentar lagi anak monster itu akan berubah wujud, " ucap Saka yang masih memperhatikan serius rumah Mewah Ceka lewat komputer mereka dan layar lebarnya.
Di malam yang gelap bintang mulai bersinar menghiasi langit. Tapi salah satu bintang sangat terang, berbentuk seperti bulan sabit. Namun sangat kecil yang ada di tengah-tengah bintang yang lain. Atan yang sudah bersiap-siap ke Kafe mengenakan kaos putih polos, celana jeans biru dengan model robek kecil di bagian lutut kaki kiri dan kanan.
Sepatu putih lalu ia mengenakan jaket agak abu-abu. Dengan rambut yang diacak-acak tapi tetap kool dan tampan. Saat Atan hendak melangkah, tiba-tiba Atan merasa seluruh tubuhnya sakit , kulit wajahnya menjadi seperti retak-retak kecil, dibagian kiri bola matanya berubah menjadi merah seperti mata singa.
Semua tubuhnya mengeluarkan otot , kukunya menjadi panjang seperti kuku monster, suara Atan menjadi berubah seperti suara monster. Atan sendiri takut akan semua yang terjadi pada dirinya saat Ia melihat dirinya di cermin. Angin yang kencang, dan badai ombak di laut menjadi tak terkendali. Bahkan Atan bisa mendengar setiap kata-kata orang-orang baik yang jauh atau dekat, langkah kaki dan bunyi mobil serta motor di mana-mana.
" Apa ini....? " kaget Atan saat melihat wajah tampanya berubah. Semua tubuhnya mengeluarkan otot yang bukan seperti manusia biasa, dan dibagian bidan dada Atan menyala sebuah permata merah yang bersinar. Membuat semua lampu rumah jadi padam dan sontak badai hujan menguyur kota jakarta.
" Atan...? " ucap Kanta yang lagi ketakutan karena seluruh lampu di rumah padam. Kanta yang hendak ke luar memberi perintah pada asisten rumah, menyalakan Gengset di kagetkan dengan suara aneh dari kamar Atan.
" Bundaa...., " tangis Viky di kamarnya yang ketakutan dengan kegelapan rumah. Kanta memerintahkan beberapa asisten rumah pergi menengok Viky di kamar. Sedangkan Ceka belum pulang karena masih meeting dengan klien dari luar negri jadi kemungkinan pulang kemalaman.
*Hu...aaaaaaaa..... ATABUAN, denting musik...yang meneyeramkan membuat suasana malam di rumah Atan menjadi seram.
ย Dari tempat Kafe Ganji*,
Rio dikagetkan dengan kedatangan Segerombolan pria yang memakai kaos hitam, jaket kulit hitam dengan lambang tengkorak di belakang jaket dan kaos depan mereka. Rio, Chiko dan Fandi pun melototkan mata mereka saat melihat lima mobil sport hitam parkir di depan parkiran Kafe, lewat jendela lantai satu.
" Loh. Ko mereka tahu kita di sini?" tanya Fandi yang kebingunan.
" Di mana si Atan? " bisik Fandi pelan pada, Rio karena takut diketahui oleh Rani yang duduk berhadapan dengan Rio. Belum Rio menjawab pertanyaan Fandi tiba-tiba suaranya terpotong oleh Rani.
" Kalian lagi bisik apa sih? kenapa Atan belum datang? mana hujan lagi, " tanya Rani dengan kekesalanya pada Atan.
" Ni si Kara di mana lagi? " ucap Rio mengalihkan perkataan Rani sambil melihat sekeliling Kafe dan pintu masuk agar tidak dicurigai oleh Rani.
" Kara tidak datang, Bibinya tidak ijinin, " jelas Rani.
" Dia tadi sudah wa gue. "
"Jika dalam lima belas menit Atan ngak datang, gue balik, papa gue sudah suruh supir jemput, " tutur Rani lagi.
" Ok. lebih baik lo pulang sekarang, kayaknya Atan lagi dalam masalah di jalan, dia baru wa gue katanya, mobilnya mogok dan harus di bawa ke Bengkel.
"What? Dari tadi gue tunggu sekarang bilang mobilnya mogok? Salam saja buat bos kalian, " seru Rani dengan nada kesal.
Rani yang kesal mendengar penjelasan Rio, langsung pergi dari Kafe tanpa pamit sama Rio. Dengan berdiri menghentakkan kakinya di lantai sambil ke luar dan menghilang dari pintu Kafe. Rio sengaja menyuruh Rani pergi karena dia tidak mau terjadi sesuatu pada Rani, apalagi sekarang mereka sedang dikelilingi musuh di parkiran.
***Bersambung.
Jangan Lupa laike, saran, dan bintang serta komen yang membangun. terima kasih๐๐๐โค***