
Di pagi hari yang cerah seakan langit dan bumi menyatu, seakan hari ini adalah hari yang sangat Istimewa buat seorang lelaki bertubuh tinggi seperti jerapah. Hari di mana semua siswa yang masih terbilang sedikit di salah satu sekolah Elit Jakarta.
Memperhatikan pria tinggi yang mengenakan pakaiaan biasa namun, sangat cocok dengan dirinya. Kaos hitam, jaket putih Avila, celana jeans hitam dengan anting disamping kananya, sepatu bermerek merah, dan rambutnya yang sedikit acak-acak ke atas, tapi tetap kool dengan wajah tampanya itu.
Ditambah dengan kalung berwajah singa, yang dibiarkan digantung di lehernya. Dia adalah Atan Rayanin yang menjadi, perbincangan anak-anak Universal Scool karena, hari senin adalah pertama kali dalam sejarah hidup bagi seorang Atan datang ke Sekolah sepagi ini. Soal pakaiannya sudah biasa bagi anak-anak pasti suasana hatinya, lagi buruk atau sesuatu yang membuatnya mengenakan pakaiaan biasa.
Walaupun Atan tahu kalo peraturan Sekolah melarang setiap, siswa-siswi mengenakan pakaian biasa untuk datang ke Sekolah, karena sering kali Atan ditegur oleh guru-guru bahkan kepala sekolah pun turun tangan, untuk menegur Atan. Bukan Atan kalo Ia tidak membantah dan melawan setiap peraturan Sekolah itu.
" Tumben Atan datang sepagi ini, biasanya Ia paling malas mengikuti upacara Sekolah, " bisik pelan salah satu siswi ke temanya yang lain.
Mereka sedang berdiri di koridor Sekolah, lantai tiga yang memperhatikan Atan, yang sedang melangkah menuju Kelasnya.
" Kaya kamu tidak tahu saja, pasti ada sesuatu. Makanya Ia datang sepagi ini, " jawab siswi yang satu lagi.
Atan yang melangkah santai dari koridor, Sekolah melihat ke ratusan mata yang sedang memperhatikan dirinya dan saling membisik satu sama lain.
Atan yang sudah terbiasa dengan itu, namun keanehanya pada wajah Atan berbeda dari tatapan biasanya, dan raut wajahnya bisa ditebak kalo Atan lagi dalam suasana yang buruk.
" Ngapain lo pada lihatin gue, belum pernah, 'ya lihat gue di Sekolah ini? Ngak ada kerjaan bangat si lo, dasar cewek-cewek genit. "
" Bubar sana, muak gue lihat wajah kacangan dari lo semua, " tutur Atan dengan wajah yang datar dan nada tinggi pada ratusan mata, dan manusia yang meperhatikan dirinya seperti Idola baru.
Ratusan mata, dari siwa-siswi tersebut bubar satu per satu hingga tinggal seorang Atan sendiri di koridor Sekolah. Atan masih berdiri di koridor lantai tiga sambil berjongkok ke besi penghalang koridor Sekolah, seperti sedang menunggu dan mencari seseorang.
Dari kejauhan telingga tajam Atan dan dua, mata indranya mendengar dan melihat ada lima lelaki maco, yang sedang melangkah jongkok diam-diam untuk mengangetkan dirinya, siapa lagi kalo bukan anggota gengnya sendiri.
Mereka adalah Fandi, Rio, Chiko, willem, dan Jonggki atau biasa satu sekolah memanggilnya pink-pink. Karena pilihan warna pada mobilnya sportnya pink seperti cewek tapi, dirinya adalah seorang pria maco. Yang sangat tampan, yang menurut satu Sekolah sangat aneh, bukan hanya para teman Sekolahnya yang merasa aneh orang luar yang, melihat dan bertemu dengan dirinya pun merasa aneh.
Namun tidak dengan kelima sahabat smpnya, mereka tetap menerima jonggki sebagai sahabat mereka walau dunia menolak Jonggki. Karena bagi mereka Jonggki adalah yang terbaik dari seribu pria yang mendaftar masuk dalam anggota mereka.
" Jangan harap lo, lo pada bisa kagetin gue, " ucap Atan saat Ia memutar badanya menghadap ke kelima sahabatnya itu sambil tertawa lepas.
" Yah...dasar si kerong, percuma gue jongkok sampe leher gue rasanya mau patah eh malah ketahuan juga, " jawab Rio yang memegang lehernya dan melangkah mengikuti langkah kaki keempat temannya menyampari Atan.
" Itu derita lo sendiri, siapa suruh mau buat ide kaya gitu, " sahut Jonggki sambil menatap sinis Rio.
" Eh pinky ini bukan ide gue tapi thu manusia katak"
" We muka tempat nasi , lo bilang siapa yang katak, muka tampan kaya orang korea gini lo bilang katak, " seru Willem yang tidak terima dengan ucapan Rio pada dirinya.
Sedangkan Atan, Fandi dan Chiko hanya, mengukir senyum miring di masing-masing bibir melihat aksi lucu dari, sahabat-sahabatnya itu saat saling menyalahkan satu sama lain.
" Ngomong-ngomong kenapa si muka singga datang sepagi ini? " tanya Fandi menatap Atan.
" Gue tebak pasti mau tembak Rani, " tambah Jonggki dengan nada rendahnya.
" Tapi bukanya semalam lo sudah nembak si cantik Rani?" berarti taruhan kita berhasil dong?"
"Hahhhha... Dasar si pingky kalo tidak tahu ngak usah omong asal-asalan, " jawab balik Chiko.
" Lo... lo pada pikir gue pria apaan tembak, cewek di tempat umum kaya gini, apa lagi ini
Sekolah men, gue gila kalo lakuin hal itu. "
" Gue emang suka sama Rani tapi bukan suka, dari hati melainkan taruhan dari lo semua, ' kan, " seru Atan.
" Gue datang sepagi ini, karena Gue ingin memberi pelajaran buat si patung mati, " ucap Atan.
" Bukan, ' si manusia robot yang sudah berani mata-matain gue dan memberi informasi gue ke luar Sekolah, " tambah Atan lagi.
" Maksud lo Kara?" ucap Fandi menatap ke, wajah Atan yang kedua tanganya sudah meramas besi koridor Sekolah dengan kencang, dan tatapannya masih melihat ke arah lantai satu lapangan Sekolah.
" Tan lo kenal Kara sejak sma kelas satu, 'kan? mana mungkin Kara mau berbuat seperti itu, " seru Rio .
" JANGAN BELAIN DIA RIO!" nada tinggi Atan lalu menghadap ke wajah Rio dan keempat temanya yang lain.
" KITA LIHAT SAJA NANTI, " ucap Atan dengan tatapan penuh emosi yang meluap, hingga gigitan pada giginya berbentuk tulang pelipis di kedua pipinya.
"Tunggu dulu, bukanya semalam kalian pergi dengan Kara? lagian Dia teman kelas lo berdua, ' kan? ko Jadi mata-mata? apa maksudnya coba? Gue gak ngerti? " oceh Willem dengan kerutan di dahinya.
Yang juga diisususuli oleh Jonggki yang, berdiri melipat kedua tanganya sambil menghadap Atan dengan mendehem.
" Heem..."
" Silakan ditanyakan pada mereka bertiga, Gue pergi dulu, " jawab Atan balik lalu melangkah pergi sambil melewati tengah-tengah Willem dan Jongki dan meninggalkan keempat temanya itu.
" Sebenarnya apa yang terjadi Kerong? " kepo Jonggki.
" Nanti Kita jelasin pas kumpul di beskem, " jelas Rio dan mengikuti langkah kaki Atan yang sudah cukup jauh dari dia dan teman-temanya. Lalu disusuli oleh Fandi, Chiko, dan kedua temanya yang bingung akan perkataan Rio.
Keempat temanya Atan hanya mengikuti, langkah kaki Atan, walau Rio sediri masih menolak perkataan Atan. Mereka tidak berani mencegah Atan. Sudah jelas kemarahan yang ada pada wajah Atan seperti singa yang kelaparan akan berdampak buruk untuk mereka jika dicegah. Saat Atan melangkah di koridor lantai dua dengan pikiran yang masih kacau, komplotan geng cewe-cewe kelas menghampirinya.
" Atan boleh tidak kita minta foto bareng?" Ucap sanya sambil menyodorkan ponselnya pada Atan yang sedang menatap dengan wajah yang datar.
" Foto?" Ucap Atan sambil mengambil ponsel Sanya dari genggamanya lalu Ia tersenyum nakal.
" PRA...A...A....k, " lemparan keras ponsel, Sanya ke lantai Sekolah dari tangan Atan, yang membuat Sanya dan teman-temanya membuka mulut dengan sangat kaget.
" Foto sana dengan lantai, maaf gue gak sengaja, " ucap Atan lalu kembali melangkah, menabrak punggung ketua geng cewe-cewe kelas alias Risa yang masih berdiri dan mematung diam.
" Hahahhh.... sudah tahu si bos lagi dalam mut yang buruk, eh malah gangu, " ucap Jonggki dengan suara tawa yang ledek, sambil melangkah mengikuti keempat temanya yang juga tersenyum saat melihat sikap Atan.
"DIAM.... Pink-pink birisik lo, " seru Risa yang emosi akan sikap Jonggki dan teman-temanya itu.
" Upss....🤭😊 ada yang lagi dalam api kemarahan, ' nih, "seru Willem.
" Muka kaya gini mau berharap foto sama Bos, foto ama gue saja, " tambah Willem yang masih tertawa dengan reaksi para cewe-cewe kece itu dengan reaksi lucu Sanya dan Rika.
" Ayo kita pergi, dasar manusia monster, " dengus Risa kesal sambil menarik kedua, tangan sahabatnya lalu pergi meninggalkan Willem, Jonggki, Fandi, dan Rio yang masih menatap mereka dengan senyum yang masih membara di bibir masing-masing.
" Tapi bagaimana dengan ponsel gue yang rusak? " ucap Sanya sambil melirik ke Jonggki.
" Woi suka ama gue!" teriak Jonggki saat Ia menatap curian pandan dari mata Sanya.
Tanpa jawab Risa dan gengnya langsung melangkah kembali untuk, pergi hingga menghilang dari hadapan keempat pria maco tersebut.
BERSAMBUNG.
Jangan lupa like, komen, saran dan kasih bintag makasih buat yang sudah mampir🙏🙏