
Ibu Mira yang sudah berjalan menuju ruang kepala sekolah akhirnya tibalah Ia di depan ruang kepala sekolah tersebut. Awalnya Ibu Mira ingin mengeluh tentang sikap Atan padanya barusan, namun niatnya diurungkan. Saat Ia melihat sepuluh pengawal dan salah satu bos perusahaan tempat suaminya bekerja melangkah masuk ke ruang kepala sekolah. Ibu Mira yang awalnya mau mengeluh berbalik sembunyi di tembok samping ruang kepala sekolah itu.
"Saya tahu atas ketidaksengajaan Ibu Mira, Dia adalah guru lama di sekolah ini, tapi soal Atan mungkin Dia tidak tahu lebih", Ibu mira yang menguping kaget dengan jawaban Bapak kepala sekolah.
" Sebenarnya Siapa Atan? Mengapa Kepala Sekolah sampe tunduk pada anak kurang ajar itu?" batin Mira.
"Baikalah saya mengerti Penjelasan Bapak, tapi kalo sampe Bos besar kami tahu sikap Mira yang tidak sopan sama Pangeran Atan maka tamatlah pekerjaanya"
"Saya mengerti maksud Anda, Lain kali hal seperti ini tidak akan terjadi lagi"
" Kepala sekolah ini ko ikutin perkataan orang itu? ' Ko, bisa tunduk sama anak tidak tahu aturan itu?" suara hati Mira kembali bertanya.
"Kalo begitu kami permisi dulu, tolong dijelaskan secara detail mungkin pada Bu Mira. Agar kesalapahamanya pada pangeran Atan bisa dimengerti, saya harap ini yang terakhir kali pak"
"Apa? Pangeran Atan? "tutur batin Mira.
Ibu Mira kembali bersembunyi di balik tembok saat pintu utama ruang kepala sekolah terbuka. Dan keluarlah bos perusahaan suaminya kerja. Setelah mereka pergi, Ibu Mira pun membatalkan niatnya menemui Kepala Sekolah.
Dia kembali memutar tubuhnya mengarah ke arah pulang ke kelas Atan. Sambil melangkah dengan banyak pikiran pertanyaan yang selalu muncul tentang Atan di otaknya.
Hingga akhirnya Dia mengambil ponselnya dari tasnya. Lalu mencari tahu keluarga Ceka Rayanin di gugle. Berita tentang Ceka pun muncul di halaman Branda gugle dari berbagai akun blog artikel, Mira membaca dengan sangat teliti sambil melongo dengan tulisan. CeKa Rayanin adalah Bos besar dari cabang perusahaan. Yang berbeda bisnis di asia dan ada Beberapa perusahaanya yang tersebar di eropa. Yaitu perusahaan Teknologi. Dia sudah bergabung dengan perusahaan terbesar di dunia Eropa.
"Gila ini benaran keluarga anak perusuh kelas itu? Sangat Kaya, bukan kaya tapi orang kaya, pantas saja kepala sekolah tunduk", gumam Ibu Mira saat Ia duduk membaca serius di kelas tentang berita artikel Atan dari salah satu akun blog. Artikel Keluarga Atan.
Lonceng kelas pun berdering menadakan pergantian jam pelajaran. Ibu Mira pun kembali bangun dari kursi untuk mengajar di kelas selanjutnya.
"Ok semuanya, karena waktu saya selesai maka tugas dilanjutkan di rumah. Besok kumpul pagi-pagi. Selamat pagi", tutur Bu Mira dan melangkah pergi meninggalkan kelas XI .SI.
Rani yang malas mengikuti pelajaran ke dua, memutuskan untuk bolos mengikuti Atan.
"Kar. Gue malas ikut ekonomi nanti lo pinjamin gue catatan ekonomi, celoteh Rani sambil berbalik tubuh menatap Kara"
"Tapi kenapa kamu bolos Ran? tanya polos Kara.
"Kar lo kaya ngak tahu saja, Atan lagi nungu gue di taman. Nih dia lagi wa gue, tunjuk layar ponsel berupa chatan wa dari Atan pada Kara"
"Ran. Keluar sebentar, Lo bolos saja dari Kelas ke dua, Gue tunggu Lo di belakang kelas kita. Ada yang ingin gue bicarakan sama Lo", Whatsap dari Kontak Atan pada layar ponsel Rani yang ditunjukkan pada Kara.
"Oh ya. Gue ikut prihatin ya soal masalah lo sama Atan, 'Kar. Gue percaya ko sama lo", Nanti gue coba bicara sama Atan.
" Berharap bangaet Lo, ngak akan gue bujuk Atan, balas dendam gue baru di mulai", Batin Rani berkata sambil tersenyum paksa sejadi mungkin di bibirnya agar tidak dicurigai Kara.
"Gue pergi ya", Rani kembali memutar tubuhnya merapikan buku-bukunya yang berantakan di meja kembali ke dalam tas. Lalu mengeser kursinya mundur agar Ia bisa keluar. Lalu Rani melangkah untuk pergi dari kelas. Sedangkan Kara hanya melihat pungung belakang Rani saat Ia keluar dari pintu kelas.
"Kita juga ikut bolos saja lagian gue mau jadi saksi jadianya Atan sama targetnya ini", bicara Rio pada Fandi saat melihat Rani yang sudah menghilang dari kelas.
"Kar. Nanti kita berdua pinjam catatan lo 'ya", ucap Fandi saat mampir sebentar di bangku Kara sebelum melangkah mengikuti Rani ke luar kelas.
"Oh....ya. Tapi setelah gue salin semuanya di catatan Atan. Upps maksudnya Big Bos", singkat Kara dengan senyum singkat di bibirnya sambil, menutup mulutnya karena salah menyebut nama Atan tidak sesuai perintah Atan.
" Yah gak pha-phapa 'ko, Thanks 'ya Kar", jawab Fandi lalu menarik tangan Rio melangkah pergi ke luar dari kelas. Kara hanya memandangi pungung kedua sahabat itu yang semakin jauh dan menghilang dari tatapanya.
Seperti mimpi di musim panas,
Rasanya takdir cinta seperti Cinderela tidak akan pernah aku dapatkan. Dia terlihat dekat tapi sangat jauh jika mawar ini ingin miliki.
"Seperti fajar sang mentari yang akan terbit dan menghilang jikat tiba waktunya. Sama seperti diriku dimata Atan yang akan dibutuhkan jika diperlu, dan menghilang jika tidak dibutuhkan. Ada lorong pintu dan dunia Atan yang tidak bisa di tembus oleh Kara, tulisan tinta hitam Kara pada buku harianya bersampul biru.
"Tak terasa embun di mataku mulai menetes disetiap tulisan indah ini, bagiku Cinta Cinderela hanyalah mimpi dalam musim hujan", hapusan air mata dikedua pipi kara saat ia kembali membayangkan setiap perlakuan Paman pada dirinya, dan Sikap orang yang sangat dicintanya. Seperti kejadian hari ini, Atan.
Rumput dan pepohona di belakang taman kelas menjadi saksinya. Hari yang tak terduga datang pada dua insan yang saling mengutarakan hati mereka walau dari mereka perasaan sebenarnya belum terlihat. Atan dan Rani duduk mematung dengan jarak dua jengkal dari kursi panjang yang ada di taman tersebut.
Keheningan terjadi pada keduanya selama beberapa menit. Suara dari komplotan Atan salin berbisik melihat keheningan yang terjadi di taman itu.
" Sebenarnya bos mau tembak ngak sih? lama amat", tutur penasaran dari mulut Jonggk. Saat Ia dan kelima temanya ikut berjongko di balik pohon rindang yang besar ada di teman sekolah.
"We pinky kita lihat saja dulu, lo pikir. Nembak cewek kaya lo minta makan", sahut balik Rio pada jonggky saat keempat sahabatnya itu bersembunyi di salah satu pohon yg lumayan besar di taman itu.
"Berisik amat si lo pada, bisa diam tidak"
"Nanti ketahuan sama si Kerong", timpal Fandi mendukung ucapan Rio.
Dari jendela luar lantai dua Kara bisa melihat samar-samar ungkapan cinta akan terjadi di anatara Atan dan Rani. Kara menarik nafas dalam-dalam lalu Ia menghembuskan pelan, saat kedua matanya tak berkedip pada suasana di luar jendela kelas yang di lihatnya itu.
Karena laporan dari sekertaris Ceka tentang Atan di sekolah, Ceka menelpon salah satu bos yang tadi diperintah oleh Atan menemui sekolah beratas namakan dirinya, Ceka langsung memarahi bos tersebut. Setelah memarahinya Ceka menelpon Kepala sekolah untuk memberikan hukuman pada Atan seberatnya di sekolah karena telah melanggar aturan sekolah dan Rani yang ikutan bolos dari jam pelajaran di sekolah yang juga di perintah oleh paman Rani.
*Bersambung*.