ATABUAN

ATABUAN
TERULANG 3~ATABUAN.



Mobil yang masuk- keluar dari lobi Bandara begitu banyak dan ramai. Hingga telpon Kanta berdering lagi saat Saka yang mencari-cari Kanta di depan kantor satpam.


"Maaf Bu, saya sudah di depan , Ibu di mana?"


"Masuk ikuti semua mobil yang baru masuk dari kantor satpam. kami ada tepat di sebelah kanan depan pintu", ucap Kanta di balik benda pipih yang ada di telinganya.


"Baik Bu, suara dari balik benda pipih yang masih ada ditelinganya".


Kanta kembali memasukkan telpon tersebut ke dalam tasnya. Matanya masih melihat ke samping kiri dan kanan. Sedangkan Viky menatap mamanya dengan wajah yang kebingungan.


Tidak lama mobil honda putih besar dengan plat nomor polisi, B 1082 FR, sudah parkir di depan pintu lobi. Tanpa bertanya Kanta dan Viky masuk dan mereka lupa kalo barang bawaan mereka masih di Bandara. Yang memang sebentar lagi akan masuk ke dalam bagasi pesawat. Mobil pun melaju pergi meninggalkan Bandara.


"Maaf, pertama kita harus pergi ke kantor polisi dulu", ucap Kanta di tengah perjalanan saat di dalam mobil pada supir yang memakai serba hitam, topi hitam, jeket dan kaos dalam hitam, sarung tangan hitam, celana jeans hitam, dan sepatu bot hitam.


"Baik bu", jawab singkat supir misterius itu.


"Mama. kita mau ke kantor polisi? untuk apa ma?" tanya Viky polos.


"Nanti mama akan ceritakan. Sekarang kita fokus dulu ke jalanan", tegas Kanta pada Viky agar tidak banyak bertanya lagi karena Kanta dalam kekewatiran.


Dalam perjalanan Supir tidak berkata apa-apa, yang membuat Kanta bertanya-tanya mengapa supir ini diam sekali? lalu tidak lama kemudian lima mobil hitam kecil mewah mengkawal Kanta. Kelima mobil tersebut berjejeran malaju pelan-pelan, Dua di kiri, dua di kanan. Dan satu mobil kecil hitam itu di depan Mobil yang ditumpangi Kanta dan Viky, sedangkan mobil honda yang juga di tumpangi Kanta berada di tengah-tengahnya.


Awalnya Kanta berpikir kalo itu adalah anak buahnya di rumah. Tapi sayang itu adalah anak buah Cakandani Yang di tugaskan untuk mengkawal Kanta ke tebing akhir hayatnya.


Kecurigaan Kanta semakin menjadi saat mobil melaju ke jalanan yang sudah sepi. Tidak ada rumah, gedung-gedung tinggi atau mobil dan motor yang lewat. Hanya ada pohon-pohon rindang di jalanan.


"Maaf saya menyuruh Anda pergi ke kantor polisi? Kenapa Anda melewati Jalanan yang sepi ini?" Ucap Kanta yang sudah mulai curiga.


Supir itu diam membisu tanpa menjawab perkataan Kanta. Yang membuat Kanta semakin curiga.


"Hei kamu dengar sayang ngomong tidak?Hentikan mobilnya sekarang, Jika kamu tidak menghentikanya maka saya akan menelpon polisi sekarang", ancam Kanta yang sudah tidak tahan dengan sikap supir tersebut.


Viky sudah menangis histeris ketakutan sambil memeluk Kanta. Di sela perdebatan Kanta dan supir di dalam mobil.


Tiba-tiba mobil pun dihentikan oleh supir di tengah-tengah hutan dan sebuah Tebing yang sangat dalam. Supir misterius itu membuka topinya dan mengukir senyum di bibirnya.


Kanta yang merasa bersyukur dengan penurutan supir itu merasa lega. Namun saat wajah Kanta melihat tanda misterius seperti tato naga kecil di leher belakang pria itu. Lototan mata Kanta menjadi cemas dengan tato tersebut seakan Kanta mengetahui lambang tato tersebut.


Pria itu terus tersenyum melihat ketakutan dan kecemasan di wajah Kanta lewat kaca spion dalam mobil yang ada di atas mobil tersebut.


"Kenapa? Anda kaget? saya adalah supir pengantar kematian Anda dan anak anda, suara pelan tapi sangat menakutkan keluar dari pria serba hitam itu, dengan tapan tajam ke depan. Ketakutan pada diri Kanta sudah menjadi cemas.


Viky terus menangis di pelukan Kanta. Sedangkan Kanta dengan berani Dia membuka suara lagi.


"Hentikan! Aku tidak takut sama ancaman kamu, Karena aku memiliki bukti kejahatan kalian".


"Silakan saja kamu mau tunjukan bukti. Karena aku tidak pernah main-main dalam ucapanku,tambah Saka sambil menurunkan mobil kaca memberi kode mata pada anak buah drigen black untuk, mengeluarkan Kanta dan Viky dari dalam mobil. Saka adalah orang kepercayaan Cakandani. Bukan hanya kepercayaan Cakandani tapi, Dia adalah seorang pembunuh berantai yang sudah di kenal oleh banyak orang. Caka merupakan Ketua dari Drigen Black.


Lima lelaki serba hitam itu pun datang membuka pintu mobil kanan di mana itu Kanta dan Viky duduk.


"Ayo keluar!" teriak salah satu pengawal tersebut sambil menarik kasar lengan Kanta dan Viky.


"Hei apa yang mau kalian lakukan? lepaskan anakku dan aku", bantah Kanta sambil menarik tangan pria itu dari lengan Viky.


"Keluar!" teriak Saka yang sudah emosi dengan keras kepada Kanta".


Para anak buah drigen black menarik lengan Kanta dan Viky. Yang membuat Viky ketakutan dengan perlakuan kasar mereka. Saat Kanta dan Viky sudah turun dari mobil. Para lelaki yang serba hitam itu mulai memisahkan Kanta dan Viky. Viky di bawa ke arah timur dekat tebing, dengan di kawal oleh dua pria dewasa yang berbadan kekar. Sedangkan Kanta di pisahkan dari Viky ke arah barat yang juga di kawal oleh dua pria juga.


Sedangkan Para anak buah Saka Yang lain berdiri mengelilingi Kanta dan Viky. Saka berdiri menyandar dirinya di mobil dengan santai kedua kakinya dibentuk huruf X.


Saka memberi kode mata pada beberapan anak buahnya untuk maju dan memberi sedikit makanan pada Kanta.


Lalu dengan siap tiga pria serba hitam itu maju dan mulai melakukan aksi mereka, menjambak rambut dan menampar keras pipi Kanta yang mencoba melawan.


"Lepasin anakku, jangan sentuh Dia, Jika kamu berani menyentuh anakku aku pastikan hidup keluarga kalian akan hancur...."


" Beraninya kamu...mengancam anak buahku? Kamu pikir kamu siapa? Berani sekali kamu", seru Saka sambil menjambak rambut Kanta sangat kasar dengan melihat ke atas langit.


Bibir Kanta mengeluarkan darah, sedangkan Viky terus memangil nama Kanta saat melihat mamanya di perlakukan kasar oleh Saka.


"Mama....jangan kasar sama mamaku....siapa kalian?" ucap Viky mencoba lari menghampiri Kanta tapi di tahan oleh kedua pria berbadan kekar dan tinggi di hadapanya. Tangan keduanya mencengkram lengan dan ketek Viky dengan sangat kuat.


"DIAM....anak kecil, sumbatin mulutnya dengan sapu tangan!" potong Saka pada perkataan Viky dengan lototan mata pada kedua pria yang lagi memegang keras lengan Viky dekat tebing.


"Jangan sentuh anakku...., Aku.. te..."


"Pakk...pakkk", tamparan ke dua kali datang dari tangan Saka lagi yang melayang di pipi kiri dan kanan Kanta saat, kedua tangan Kanta yang sudah di cekal sangat kuat oleh kedua pria berbadan kekar yang merupakan anak buah Saka.


Tidak terasa air mata Kanta mengalir deras dari kedua bola matanya karena merasa kesakitan, di kedua tangan dan pipinya yang merah. Di sana sudah ada tanda kelima jari Saka.


"Aku bilang jangan berani mengancam! Kamu terus mengelak ya, jika kamu mau putramu tidak jatuh ke dalam tebing itu, cepat rekam suaramu dan katakan pada Atan untuk memberikan permata merah itu tanpa harus melawan kami, kamu pasti tahu kalo sebentar lagi Atan akan menguasai permata itu"


"Apa Dia yang merintah kamu? jika Ceka mengetahui perbuatanmu maka tamatlah keluargamu"


"Soal itu nanti akan di urus juga nyonya Rayanin, sekarang kwatirkan nasib anakmu dan kamu", Saka menyodorkan suatu benda agak panjag berupa spiker kecil yang sudah di masukkan memory di dalamnya. Alat tersebut berfungsi sebagai alat perekam suara.


"Tidak akan terjadi, karena apa? karena aku tidak mau mengikuti perintahmu", Bantah Kanta sambil menepis kasar tangan Saka dari wajahnya. Yang membuat benda perekam suara di tangan Saka jatuh melayang ke tanah.


"Mundurkan satu langkah kaki mendekati tebing!" Perintah Saka pada kedua pria. Yang ada di hadapan Viky.


Kedua kawalan Viky berjalan pelan dengan wajah seram dan benda tajam berupa pisau yang sedang di pegang, di tunjukkan ke hadapan Viky yang ketakutan sambil berjalan mundur satu persatu langkahan kakinya ke belakang dengan tatapan lurus penuh ketakutan.


"Dasar kamu pria tidak ada hati"


"Aku tidak ada hati? hahaha.... Jika kamu ingin anakmu selamat, dalam hitungan ke tiga ambil benda yang kamu jatuhkan itu dan rekam suaramu, lanjutkan langkahan kalian"


"Satu....Dua....", hitungan Saka tertahan di hitungan ke dua sambil melihat Kanta dengan, senyuman miring. Kanta terus menatap Viky dengan kecemasan dan rasa kebimbangan.


Sedangkan Viky terus berjalan mundur ke belakang yang sebentar lagi mendekati ujung tebing sambil terus menangis histeris.


"Hentikan. Baiklah akan aku rekam tapi tolong bawa anakku menjauh dari tebing itu"


"Rekam suaramu dulu, maka kami akan membawakan Dia menjauh dari tebing"


Kanta mengambil benda kecil panjang itu. Lalu Ia menekan tombol perekam suara yang ada pada benda tersebut.


Kanta mulai mengeluarkan suaranya sesuai apa yang di katakan Saka. Rekaman suara berjalan selama lima menit. Setelah merekam Kanta mengatakan pada Saka kalo Dia akan memberikan alat perekam itu asalkan Viky di bawa ke hadapanya.


"Kembalikan anakku maka akan ku berikan ini padamu"


"Apa? berikan , jika tidak"


"Bawa anakku ke hadapanku! Baru aku akan memberikan ini padamu"


"hahaa....kamu pikir aku bodoh? tiga..."


"Bun...da.... ",teriak Viky saat kedua pria itu memajukan tubuh Viky ke dalam tebing.


"Ti ...dakk...Vi...ky", tangis histeris Kanta sambil tersungkur di tanah menangis histeris.


"Ambil benda itu, ikat semua kaki dan tanganya lalu, bawa ke mobil menuju markas!" perintah Saka pada anak buahnya.


"Dasar lelaki tidak punya hati"


"Pakk...tamparan ke tiga kali mendarat lagi di pipi Kanta, yang membuatnya jatuh pingsan"


jangan lupa like dan kasih komen yang membangun. terimakasih