ATABUAN

ATABUAN
UNGKAPAN RASA~ Atabuan.



Sebenarnya Kara tidak mengetahui kalo Ayahnya adalah anak dari orang kaya. Namun karenna tidak ada persetujuan orang tua dari Ayah Kara pada tindakan Lelaki itu meninggalkan Ibunda Rani demi, Bunda Kara. disitulah semua fasilitas baik itu atm, mobil, dan rumah semuanya di tarik oleh orang tuanya dan diserahkan pada Ibunda Rani atau Lia.


 


Mobil Reno berhenti di sebuah hotel mewah, di mana hotel itu adalah salah satu milik Cakandani atau paman Reno. Reno dan Kara turun dari mobil, pintu mobil Reno di buka untuk turun sedangkan Kara masih duduk merenungi nasibnya malam ini.


"Kar sini aku bantu kamu, kita sudah sampai", ucap Reno saat Ia membuka pintu mobil Kara dan membantu gadis itu untuk turun dari mobil.


Kara yang kaget mendengar suara Reno membuat dirinya menatap kosong Reno dengan pikiran di lain tempat.


"ahh....maaf aku....", Ucapan Kara terdiam saat Reno menyentuh pipinya dengan lembut lalu menatap Kara begitu dalam.


"Aku tahu. Kamu tidak perlu memberitahu aku", suara lirih Reno sambil melepaskan tanganya dan membantu Kara turun dari mobil.


Seakan air mata itu mau mengalir kembali Kara mengalihkan pandanganya dari mata Reno, lalu Ia ikut turun saat Reno memegang kedua pundaknya. Keduanya melangkah pelan masuk ke hotel awalnya, Kara menolak menginap di hotel itu, karena pasti biaya sewanya mahal sedangkan, uang sakunya pasti tidak cukup membayar uang sewa hotel itu. Akan tetapi karena paksaan dari Reno kalo Ia yang akan membayar uang sewanya, Kara terpaksa menurutinya walau sebenarnya Ia merasa tidak enak sama Reno.


Reno sengaja membohongi Kara kalo hotel itu bukan miliknya pada hal hotel itu adalah, salah satu milik pamanya atau ayah angkatnya.


Reno masuk ke meja resepsionis, pelayan resepsionis kaget melihat Reno, mereka mau menyebut nama Reno dengan sebutan Tuan muda tapi, karena kode mata Reno, yang tidak mau identitasnya terbongkar pada Kara yang lagi duduk menatap Reno dari kursi tunggu.


Dia sengaja memesan kamar yang ada di lantai dua, setelah pesan kamar Reno dan Kara pun memasuki lift dan menekan tombol panah naik, lalu klik nomor 2.


Tidak lama kemudian pintu lift terbuka Reno kembali menuntun Kara untuk keluar dan mencari-cari nomor kamar yang ditempati Kara. Setelah tiga puluh detik mereka menemukan kamar tersebut. Reno dan Kara memasuki kamar itu .


"Ini adalah tempat untuk sementara waktu kamu tinggal", tutur Reno saat Ia mengantar Kara masuk ke dalam sebuah ruangan kamar mewah.


Kara hanya diam dan mengikuti langkahan kaki Reno ke dalam kamar tersebut. Kara mulai mengambil bantal untuk dimasukan ke dalam sarungnya dan menyimpan barang bawaan ke lemari. Reno yang melihat Kara meperbaiki kamar itu dan merapikan kamarnya, Ia juga ikut membantu Kara merapikan barang bawaan gadis itu dan kamar tersebut.


Setelah keduanya merapikan kamar, Kara mengambil baju ganti yang ada di tasnya. Yah, sebelum mereka datang Kara sempat mengambil barang-barang keperluanya dari kamarnya yang ada di rumah sebelumnya, lalu gadis itu berpamitan pada Reno untuk membersihkan badanya.


"Ren. Aku mau membersihkan badanku, apa boleh?" kata Kara dengan pelan pada Reno.


"Boleh mari aku antar kamu", jawab singkat Reno sambil memegang kedua bahu Kara dan melangkah ke arah kamar mandi.


"Terima kasih Ren", bisik Kara dengan pelan sambil membungkukan kepalanya ke bawah saat Ia sudah ada di pintu kamar mandi.


"Sama-sama. Aku buatkan kamu teh hangat?" jawab Reno sambil tersenyum dan memutar badanya ke dapur. Sedangkan Kara masuk ke dalam kamar mandi mengunci pintu untuk mandi.


Dari dalam kamar mandi Kara membuka jaket Reno dari tubuhnya saat Ia menghadap cermin. Lalu Kara mulai melihat seluruh tubuhnya di cermin di mana kedua pipinya bengkak ada bekas tangan pamanya, lehernya ada tanda darah hitam mebekas akibat cengkraman pamanya, bibirnya berdarah karena cengkraman keras di mulutnya. Pergelengan tanganya ada bekas tangan pamanya yang membuat kulit pada kedua tanganya menjadi biru belau, semua ingatan perlakuan kasar pamanya masih jelas di ingatan gadis itu.


Tidak teras air mata itu mengalir deras di kedua pipi mulus gadis itu, saat Ia melihat luka di kedua pundaknya di mana tangan kasar pria itu mensobek paksa bajunya.


Kara sengaja menyalakan kerang air di wastafel kamar mandi, agar suara tangisnya tidak di dengar oleh Reno. Gadis itu tersungkur ke lantai kamar mandi dan terus menerus menangis dalam tahan suara agar tidak membesar.


"Uhuuuuu....uuuuuu.....Bunda.....Ayah....", tangis isyak Kara dalam kamar mandi dan kerang air di wastavel yang sengaja di bukanya mengalir terus menerus.


Musik sedih mengiringi tangisan Kara dalam kamar mandi.


Setelah menyeduh teh di cangkir, Reno membawa teh tersebut ke dalam kamar Kara dan meletakan di depan meja rias yang ada di kamar Kara. Reno merapikan semua barang-barang Kara ke dalam lemari. Kara yang selesai mandi ke luar dengan kaos putih lengan panjang bergambar dora emon di depan, dan celana tidur panjang hitam, rambut yang terurai di belakang pungungnya. Kara melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan sendal jepitnya.


"Tok...tok...", ketukan pintu dari luar.


Reno melangkah ke depan pintu lalu memegang pegangan pada pintu dan membuka pintu kembali, di mana Kara yang lagi berdiri di depan pintu. Reno membuka pintu lebar dan Kara ikut melangkah pelan masuk ke kamar dengan memasang senyum paksaan dari bibirnya.


Reno sejenak meperhatikan punggung Kara saat gadis itu melangkah melewati dirinya.


"Gadis ini begitu sederhana walau banyak luka di wajah dan tubuhnya namun, itu tidak mengurangi kecantikanya", Puji Reno pada Kara dalam hati.


Kara menaruh bokongnya duduk di ujung ranjang dan Reno pun mengikuti Kara duduk di ujung ranjang walau keduanya duduk dengan jarak yang berjauhan.


"Apa ini kamu yang menyeduh?" tanya Kara saat melihat cangkir yang beriisi teh hangat di dekat meja rias. Yang tidak jauh dari ranjang kamar yang di dudukinya.


"Terima kasih Ren, terima kasih", jawab Kara dengan senyuman dan tatapan mata yang sendu pada Reno.


"Kamu hari ini terlalu banyak berterima kasih sama aku. Kara aku sudah bilang aku melakukan ini karena aku tidak bisa melihat kamu di sakiti"


"Kamu tahu, sejak pertama bertemu dengan kamu awalnya, aku pikir itu hanya sebuah pertemuan kebetulan saja. Namun saat aku melihat senyummu aku merasakan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu?" ungkapan perasaan dari Reno tanpa Ia sadari sambil menatap dalam Kara.


"Maksud kamu?" tanya Kara dengan alis yang sedikit di angkat ke atas.


"Maksud aku.... mulai sekarang dan seterusnya aku yang akan melindungi kamu. Karena aku....", ucapan Reno terdiam sebentar. Namun Ia kembali melanjutkan kata-katanya sambil menatap Kara, dengan sangat dalam di mana, tatapan balasan dari Kara dengan wajah penuh kebingunan dan sangat serius mendengar ucapan Reno. Keempat bola mata itu saling bertemu satu sama lain.


Reno menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan perkataanya.


"Karena Aku mulai menyukaimu"


"Deg...."


"Deg...."


Sontak perkataan Reno membuat Kara terdiam dengan perubahan pada mimik wajahnya. Kara sengaja berbatuk-batuk saat meminum teh hangat. Lalu Kara sengaja mengalihkan perkataan Reno dengan meminta air putih.


"Uhuk...uhuk..."


"Kar. kamu baik-baik saja?" suara kwatir dari Reno sambil mengambil tissu di depan kamar dan mencoba menghapus air teh yang belpotan di bibir Kara. Tapi sayang Kara menolaknya dan secepatnya menghapus sisa-sisa air yang ada di mulutnya.


"maaf Ren biar aku saja. Terima kasih", Ucap lirih Kara sambil mengambil tissu dari tangan Reno.


"Ren. Aku boleh minta air putih?" Sambung Kara lagi.


"Boleh. Tunggu sebentar di sini", seru Reno sambil melangkah cepat ke luar dari pintu kamar.


Kara menarik nafasnya dalam-dalam sambil mengusap dadanya, tidak lama kemudian Reno membawa air putih di gelas tinggi kaca. Reno menyodorkan gelas kaca tinggi berisi air putih pada Kara saat Ia sudah ada di hadapan gadis itu. Kara membalas tanganya dengan menerima dari tangan Reno.


"Terima kasih Ren. Maaf merepotkamu lagi", sambil menerima gelas yang ada di tangan Reno.


"Sama-sama Kar. Gue rasa hari ini kata terima kasih tidak lepas dari ucapanmu", ucapan Reno membuat gadis itu sedikit tersenyum tipis.


Kara kembali meminum air putih yang ada di gelas, di tanganya lalu, kembali menyimpan di meja yang ada di dekatnya, sebelum Reno berucap untuk bertanya soal ucapanya tadi, Kara terlebih dahulu memotong perkataan Reno.


"Ren. walau ini tidak boleh aku ucapkan lagi tapi, aku akan ucapkan terima kasih, terima kasih banyak", suara tulus Kara dengan tatapan yang tulus pada Reno.


"Kar.... Aku..."


"Ren. Aku mau istrahat, sekali lagi terima kasih", potong ucapan Kara pada ucapan Reno.


Reno terdiam sebentar saat melihat Kara yang mulai merebahkan tubuhnya di kasur kamar dengan posisi tubuh miring menghadap ke tembok kamar.


Reno melangkah pelan untuk mematikan lampu kamar. Tanpa menjawab perkataan Kara karena Ia tahu kalo Kara sengaja menghindari pertanyaanya.


"Kar. Soal ucapan gue tadi, gue serius mengatakanya. Gue menungu jawaban lo", pinta Reno sambil melangkah mendekati pintu kamar.


"Selamat malam, semoga mimpi indah", ucap Reno dan melangkah ke luar dari kamar.


Kara membuka kedua matanya yang sengaja tadi Ia tutup sambil, melihat ke arah pintu yang sudah tertutup. Kara menarik nafas dalam-dalam menutup kedua matanya kembali dengan ucapan Reno. Namun Kara merasakan bahwa persaanya sangat biasa saja, Ia tidak merasakan perasaan yang sama seperti saat ada didekat Atan.


Kara bangun dari tidurnya ia bersandar diri di tembok dekat ranjang kamar. Kara kembali menatap langit lewat jendela kamarnya dengan tatapan kosong tidak bisa di pungkiri bening butir air itu kembali mengalir dari samping kedua mata gadis ini.


*Jangan lupa like, komen, saran, dan kasih bintang sebanyaknya di ceritaku ini.


terima kasih buat yang sudah mampir🙏🙏