
Dalam perjalanan kebisingan datang pada Kara dan Atan dalam beberapa menit Keduanya diam tidak saling berkata sepatah kata pun. Hingga suara datang dari Kara memecahkan keheningan mereka berdua.
"Kita mau ke mana Tan?" Tanya Kara pada Atan sambil menatap pria yang ada di sampingnya tersebut.
"Ke rumah sakit", jawab singkat Atan dengan pandangan lurus ke jalan.
"Untuk apa? kita pergi ke rumah sakit?" tanya Kara yang melirik ke Atan dengan mengerutkan dahinya.
"Nanti juga lo tahu", seru culas Atan.
"Lalu bagaimana dengan sekolah?"
"Lo bisa diam tidak sih 'Kar. Lo mau kita kecelakaan?" kesal Atan.
Kara terdiam saat melihat wajah Atan yang sudah kesal. Sebenarnya Kara ingin bertanya lagi tapi Ia mengurungkan niatnya. Keduanya diam dalam perjalanan, sesekali Atan melirik ke Kara yang sedang menyandarkan ke kepalanya di kepala kursi dengan pandangam ke luar mobil. Keduanya terdiam kembali setelah perdebatan tadi, Hanya suara mesin mobil yang menemani keduanya selama perjalanan hingga mereka tiba di rumah sakit Jakarta Eye Center Kedoya.
Setelah tiba Atan melepaskan sabuk pengaman dan menatap ke Kara yang masih menatap kosong ke luar mobil seakan gadis di samping Atan ini memikirkan sesuatu. Atan memecahkan keheningan dengan sikap dinginya tersebut.
"Kita sudah sampai, mau turun sendiri? atau mau aku perintah suster datang membantu kamu turun?" Ucap Atan sambil menatap ke Kara.
Sontak perkataan Atan mengangetkan Kara yang dari tadi memikirkan keadaan Bibinya di rumah. Gadis ini begitu kwatir akan Bibinya hingga Ia lupa kalo mereka sudah sampai di rumah sakit Kedoya.
"Tidak perlu. Maaf Bos aku bisa turun sendiri", Jawab Kara sambil mencoba membuka sabuk pengaman yang masih tempel di tubuhnya.
Atan pun tersenyum tipis sambil membuka pintu mobil dari arahnya sedangkan Kara setela melepaskan sabuk Kara juga ikut turun dari mobil
Sambil membuka pintu mobil dari sampingnya. Setelah mereka di luar Atan mengengam tangan Kara sambil berkata,
"Ikut aku",Ucap Lirih Atan sambil mengengam tangan Kara.
Kara yang kaget karena tangannya disentuh oleh tangan Atan secepatnya menatap Atan dengan memasangkan wajah penuh tanda tanya sambil melirih tangan Atan yang menempel di tanganya.
"Atan ini? sebenarnya...", Ucap Kara terhenti saat Atan menatap Kara dengan tatapan yang dalam sambil mengengam erat tangan Kara, saat Kara yang mencoba melepaskan tanganya dari gengaman Atan.
"Jangan banyak tanya ayo masuk!" tutur Atan sambil melangkah ke depan dengan disusuli tubuh Kara yang mengikuti tubuh pria yang ada di hadapanya tersebut.
Selesai mendaftar nama ke meja resepsionis penerima pasien, sang pelayan resepsionis mengangkat telpon menelpon ke dokter Diah atau pacar dari sekertaris pribadi Ceka. Karena sebenarnya Atan sudah sangat dekat dengan sang kekasih dari sekertaris Ayahnya itu. Atan kembali duduk di samping Kara yang sudah duduk di kursi tunggu dekat lorong koridor rumah sakit tersebut.
Terlihat dari koridor rumah sakit, terlihat Dokter cantik dengan rambut sebahu sedang melangkah menghampiri Atan dan Kara yang sedang menunggu. Melihat Dokter Diah sudah dekat Atan tersenyum sambil berdiri disusuli Kara yang juga bangkit berdiri dengan memasang senyum dengan wajah bingungnya.
Sambil berbisik Atan menarik dokter Diah sambil berbisik rahasia pelan,
"Tan Dia pacar kamu?" tanya dokter Diah.
"Bukan, siapa juga yang mau pacaran dengan gadis itu. Dia teman kelasku Dok, Aku bawa Dia ke sini karena ada luka-luka di tubuhnya"
"Teman atau teman Tan, gak biasanya kamu ajak seorang gadis ke luar apa lagi masih dalam jam sekolah?"
"Mau bantu tidak Dok?" tanya Atan yang merasa sedikit gugup saat dokter Diah menjahili dirinya.
Setelah berbisik pelan Dokter Diah membawa Kara dan Atan masuk ke dalam ruangannya untuk memeriksa Kara. Dokter Diah menutup gorden ruang periksa khusus, sedangkan Atan disuruh Dokter Diah menunggu di mejanya. Doter Diah mulai berkata pada Kara untuk melepaskan switernya, Kara yang sempat membantah namun dijelaskan Dokrer Diah untuk mengikuti istruksinya.
Kara melepaskna switernya di simpan di kasur Dokter Diah mulai duduk di samping Kara memeriksa wajah Kara, leher Kara dan luka pada pergelangan tanganya yang satu. Setelah memeriksa Kara Dokter Diah memberikan salep lalu menatap Kara sebentar.
"Apa kamu mengalami kekerasan fisik semalam?" Tanya Dokter Diah pada Kara setelah mengolesi semua bekas cekraman tangan Eddiy di seluruh tubuh Kara kecuali wajahnya yang hanya diberi kompres es batu oleh suster pembantu Dokter Diah.
"Apa maksud Dok? Bingung Kara"
"Dari luka di beberapa titik bagian tubuhmu sepertinya kamu mengalami kekerasan fisik akibat melawan orang yang ingin menodaimu", tutur Dokter Diah sambil menempel beberapa Hansoplas di luka-luka bagian tubuh Kara.
"Selesai", Jawab Singkat Dokter Diah sambil kembali membuka gorden dan bertepatan dengan Atan yang berdiri dengan wajah kaget sambil menatap Kara dengan dalam saat gadis itu turun dari ranjang perawat.
"Atan kamu? Ko..." ucapan dokter Diah terhenti saat Atan melangkah melewati diri dokter Diah sambil pergi ke arah Kara.
"Apa benar yang dikatakan Dokter Diah?" Tanya Atan pada Kara dengan menatap wajah gadis yang berdiri di hadapanya tersebut.
"Itu...sebenarnya itu....tidak seperti yang kamu pikirkan", jawab Kara dengan suara terbata-bata.
"Aku bertanya apakah yang di bilang Dokter Diah benar?"
"Atan apa yang aku ucapkan itu benar hanya mungkin Dia lagi dalam ketakutan", seru Dokter Diah sambil melangkah pergi.
Kara dan Atan terus menatap punggung Dokter Diah sesekali Atan melirik ke tempelan hansoplas di tangan Kara, leher dan wajahnya.
Atan terus memandang Kara dengan wajah yang sangat kwatir Kara , gadis itu hanya diam dan pandanganya lurus ke depan di mana itu dokter Diah yang sudah menghilang dari hadapanya.
Jangan lupa like, komen dan saran terima kasih banyak🙏🙏❤