
Kara yang mendengar suara Rio menyebut nama Atan secepatnya, Ia menghapus kedua matanya yang sedari tadi mengeluarkan bening butir, yang membasahi kedua pipinya.
Kara memutar lehernya melirik ke arah Atan. Namun saat menatap tatapan Atan yang juga menatap tajam dirinya. Kara segera mengeser kursi yang di dudukinya ke belakang sambil, bangkit berdiri. Kara ke keluar dari duduknya dengan melangkah ke depan tujuanya mau menyapa Atan sambil membawa barang-barang Atan. Kara melangkah sambil memasang senyum tipis dari bibirnya pada Atan.
Kemarahan Atan semakin menjadi saat melihat senyuman Kara. Atan dengan geram melangkah menghampiri Kara yang tidak jauh dari dirinya.
"Selamat pagi Bos", Sapa Kara sambil tersenyum tipis pada Atan.
Atan yang geram melihat senyuman Kara, berjalan cepat menghampiri Kara.
"KAU....Berani sekali kau tersenyum dengan senyum dari topeng palsumu itu!" cengkraman keras tangan Atan pada kedua punggung Kara yang terluka itu, sambil mendorong keras tubuh gadis itu ke tembok kelas.
"Atan...apa-apaan ini? kenapa kamu kasar sama Kara? Lepasakan tanganmu Atan Dia seorang wanita", tegas Rio sambil mencoba memisahkan tangan Atan dari tubuh gadis itu.
"Jangan ikut campur...Rio...", Tepisan Kasar Atan pada tangan Rio saat, Rio mencoba memegang tangan kiri Atan yang menempel di pundak Kara.
Mendengar teriakan pertengkaran Atan dan Rio, secepatnya keempat sahabat itu berlari secepat mungkin dari koridor sekolah dan masuk menghampiri Atan dan Rio di kelas.
"Atan apa-apaan ini? mengapa kau kasar sama Kara?" seru Fandi dari balik pintu.
"GUE BILANG JANGAN IKUT CAMPUR..." suara penuh tekanan dari Atan sambil menatap tajam kelima temanya.
"Kalian tahu gadis INI", jari tunjuk Atan menunjuk tepat di wajah Kara yang sedang menatap ke wajah Atan. Dengan tatapan sendu saat kedua tanganya masih mencengkram tubuh Kara saat bersandar di tembok dengan, tatapan tajam dari kedua matanya yang membuat Kara ketakutan.
Dengan tatapan tajamnya Atan kembali melanjutkan ucapanya yang belum selesai.
"Dia.... adalah pacar Reno", Ucap tegas dan penuh tekanan dari Atan.
"Apa! Lo benar Tan!" tanya Jonggky tidak percaya.
Pertanyaan dari Jonggky diiyakan serentak oleh Rio, Chiko,Willem, dan Fandi. Kara yang juga ikut kaget menatap dengan mata sendu ke arah Atan.
"Tan apa...maksdud kamu?"
"Jangann berpura-pura tidak mengerti apa maksud aku?" jawab tegas Atan kembali menatap Kara tajam.
"Wanita kupu-kupu malam kaya kamu, sebenarnya mau apa kamu dari aku. Berapa yang dibayar oleh Reno padamu? apa sebanyak cek ini?" Suara nada tinggi dari Atan sambil menunjukkan sebuah cek uang pada wajah Kara dengan, senilai sepuluh juta rupiah. Cengkraman keras masih sama di kedua pundak Kara dengan emosi yang membara di dirinya.
"Atan... Henti..."
"DIAM! Jika dari kalian berlima dan semua yang ada di kelas ini mencoba membela Wanita ini! tamatlah riawat kalian", teriak Atan dengan terus mencengkram kedua pundak Kara begitu kuat dan tatapan yang sangat tajam.
Saat kedua sahabat Reno Jeffri dan Saji datang ke kelas, mereka melihat kehebohan di kelas yang sudah dikerumuni beribu manusia di pintu. Ada yang melihat lewat jendela kelas depan sambil menjinit kaki mereka karena, sudah banyak masunusia yang tertempel seperti kelewar di kaca tersebut. Saat melihat sikap Kasar Atan pada Kara mereka berdua melototkan mata.
Secepat mungkin keduanya kembali memutar tubuh berlari secepatnya, tidak peduli siapa yang sedang menatap mereka berdua. Langkahan keduanya menuruni anakan tangga satu persatu dengan sangat lincah hingga menuju lantai satu, secepat mungkin tujuan mereka adalah mencari Reno di parkiran lobi mobil namun tidak di temukan oleh mereka orang yang sedang di cari di sana.
Jefri dan Saji mengetahui kejadian yang sebenarnya karena sebelum pulang ke rumah, Reno sempat whatsap Jefri dan Saji untuk beretemu dan menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Kara.
Setelah mengatakan yang sebenarnya Reno meminta, tolong pada keduanya untuk mengirim anak buah mereka berjaga-jaga di hotel yang di tempati Kara.
Tujuannya adalah melindungi gadis itu jika, sewaktu-waktu Eddy datang mencoba menodai Kara lagi. Reno sengaja tidak meminta anak buah pamanya karena, Ia tidak mau pamanya curiga pada dirinya dan lebih pasti tidak mau menepatkan Kara dalam kesulitan.
Harus diakui Reno bahwa Ia benar-benar jatuh cinta sama Kara sejak, pertama kali bertemu dengan gadis itu. Jika Cakandani mengetahui Reno melanggar janji yang dibuat oleh Reno sendiri pada pamanya, Apalagi itu adalah Sebuah hal besar yang paling keras di larang oleh Cakandani untuk Reno sebelum, Dia menugaskan Reno membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya pada Atan, Yaitu JATUH CINTA.
Jelas Kara akan dalam bahaya besar jika Caka sampai mengetahuinya Karena, Reno mengetahui sifat ambisius pamanya itu, yang akan melakukan apa pun demi mencapai tujuanya. Walau pun harus membunuh lagi. Baik itu keluarga atau siapa pun yang menghalangi jalanya.
Kembali ke cerita semula.
Reno yang melangkah santai memasuki halaman sekolah sambil, sesekali melirik ke arah koridor di lantai satu seperti mencari seseorang. Sebelumnya Reno pergi menjemput Kara namun, di katakan oleh anak buah Saji dan Jefri yang berdiri di depan pintu kamar hotel bahwa Kara sudah ke sekolah lebih dulu dan Ia menitipkan surat buat Reno. yang isinya, Kara meminta maaf pada Reno kalo Ia pergi ke sekolah lebih pagi karena Ia tidak mau, terlalu merepotkan Reno lagi.
Reno terus melangkahi kakinya ke depan jalan sambil terus mencari-cari keberadaan Kara. Dan tiba-tiba ia di kegetkan dengan suara Saji dan Jefri yang dengan nafas ngos-ngosan saat di hadapanya.
"Ren. Reno Kara....!" teriaak Saji dengan suara yang tersengal-sengal.
"Ada apa sama Kara?" tanya Reno dengan wajah kwatir sambil memegang kedua bahu Saji yang, disusuli oleh Jefri, kedua sahabatnya itu sedikit membungkukan tubuh mereka ke bawah sambil tangan keduanya memegang lutut karena, capek saat tadi berlari begitu kencang dari lantai dua sampai lantai satu.
"Ada apa sama Kara?" tanya ulang Reno dengan tatapan yang masih sama dan nada suara yang sedikit tinggi.
"Kara, lebih baik lo ke kelas sekarang, Kara dalam bahaya", jawab balik Saji sambil mengangkat tanganya yang satu menunjuk ke belakang di mana arah itu adalah lantai dua kelas Reno, Kara, Atan, Rani dan yang lainya.
Jefri pun kembali menyambung ucapan Saji Pada Reno. "Kara sedang diimintisasi oleh Atan di kelas. Saat ini semua anak-anak pada heboh di kelas kita", Ucap Jefri.
Reno yang sudah menatap tajam dengan pandangan yang emosi lalu berkata.
"Atan", Suara Reno sambil mengepalkan jari-jemarinya dengan kuat dan gigitan giginya yang keras dalam sana seakan merontok semua gigi-gigi tersebut.
**Jangan Lupa laike, komen, dan Saran.
Kasih Bintang di cover ceritaku ini.
Terima kasih bagi yang sudah mampir🙏🙏😊🤗**