ATABUAN

ATABUAN
Terbongkar~ Atabuan.



Atan melangkah masuk ke dalam rumah dengan sangat tergesa-gesa. Ia melewati setiap pelayan dan pengawal yang menyambutnya dengan berbaris di samping kiri dan kanan. Saat Ia sudah berada di ruang keluarga Atan melihat, Ceka yang sudah duduk dengan raut wajah sendu, dan Sekertaris Han serta beberapa pengawal yang berdiri berbaris mengelilingi sofa ruang keluarga. Atan melihat dua koper besar yang tiduran di ujung pintu.


Atan melangkahkan kakinya pelan ke depan dengan wajah kebingunan. Saat sudah di depan Ceka, sekertaris Han yang melihat Atan pulang langsung menghampiri Ceka yang masih menangis di sofa dengan membunggkukan sedikit kepalanya ke bawah sambil berbisik pada Ceka,


"Bos, pangeran pulang," nada suara bisik dari sekertaris Han.


Setelah berkata sekertaris Han kembali meluruskan tubuhnya dan menatap dalam Atan. Ceka menyeka air matanya dari wajahnya dengan tanganya sambil bangkit berdiri dari duduknya dan menatap dalam diri Atan dengan kristal mata berkaca- kaca.


Wajah Atan semakin bingung dengan sikap Ceka, Atan masih berdiri diam patung di ruang keluarga itu dengan banyak pikiran pertanyaan yang dipikirkanya.


"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa dengan wajah sendunya? Ayah menangis? Lalu kedua koper itu? Apa maksud semua ini?" batin Atan.


Atan yang terus diam membisu dengan segala pertanyaan itu kaget saat Ceka datang menyampari dirinya dan memeluknya. Raut wajah Atan sangat kaget dengan sikap papanya, tidak biasanya Ceka bersikap seperti ini pada Atan. Dalam pelukan itu Ceka pun berkata lirih di telinga Atan.


"Setelah kamu mendengar dan melihat semua berita yang akan ditunjukkan padamu ini jangan bersedih ayah ada bersamamu, " ucap Ceka sambil melepaskan pelukanya dari tubuh Atan.


"Apa maksud papa?" tanya Atan.


Saat Atan bertanya pada Ceka dengan menyeritkan dahinya Ceka menatap Atan sekilas lalu Ia menatap sekertaris Han dan memberi kode mata, pada mata sekertaris Han. Sekertaris Han yang mengerti akan perintah kode dari kedua mata Ceka ditutup sekilas pada saat menatapnya, langsung memencet tombol kontrol merah pada remote tv besar yang ada di meja ruang keluarga tersebut.


Kedua mata Atan terbelak seakan kedua bola mata itu akan keluar dari matanya, wajah Atan berubah seketika saat melihat vidio di mana itu Viky dan Kanta yang diculik oleh para ninja hitam sama seperti tujuh tahun lalu.


Vidio itu adalah vidio di mana Viky di dorong dan jatuh ke jurang serta Kanta yang ditampar beberapa kali oleh Saka. Atan jatuh tersunggkur ke lantai saat melihat Viky yang berteriak saat dirinya dijatuhkan ke dalam tebing. Tak terasa air mata Atan jatuh membasahi kedua pipinya semua canda, tawa dan kejahilan Viky kembali terlintas di pikiran Atan. Semua memory adiknya teringat jelas oleh Atan. Atan menangis begitu histeris yang membuat Ceka memeluknya dan menangis bersama putranya. Ayah dan anak itu menangis meratapai kepergian tragis sang putra keduanya.


"Viky.....," tangis isyak Atan yang terus menerus memukul lantai keramik dengan kedua tanganya.


"Kenapa Ayah baru bilang ke aku? Kalo Viky dan mama diculik. Apakah ini rencana Ayah?" tanya Atan dengan raut wajah yang sendu.


"Papa jawab pertanya aku, kenapa papa baru memberitahuku?" tegas Atan sambil bangkit berdiri.


"Ayah baru tahu semua ini di kantor, saat mata-mata Ayah memberitahu ayah di kantor tadi, sungguh ini bukan rencana ayah," ucap Ceka dengan nada lirihnya.


Atan yang mendengar ucapan Ceka terdiam sebentar, Atan merasakan kesedihan Ceka ini pertama kali Atan melihat seorang Ceka Rayanin yang di kenal sebagi manusia angkuh begitu terpukul dengan semua kejadian ini.


"Lalu bagaimana dengan mama? Kenapa mereka melakukan semua ini pada kita?" seru Atan kembali dan menangis kembali sambil memeluk Ceka.


Ini pertama kali bagi Atan berpelukan dengan Ceka. Ini juga pertama kali bagi Atan merasakan hangatnya pelukan seorang Ayah. Selama ini Dia dan Ceka selalu bercekcok karena perbedaan pendapat.


" Apa yang harus kita lakukan Ayah pada si Saka? Dia sudah membunuh Viky kita tidak bisa diam begini. Aku yakin Ibu pasti ada di tangan mereka, aku harus menghancurkan mereka, " ucap Atan dengan meremas jari jemarinya kuat dan menggigit semua giginya begitu keras di dalam sana.


"Kita laporkan polisi saja Ayah, " ucap saran dari Atan lagi.


"Tidak Tan. Jika Mama benar ada bersama mereka, kita tidak bisa melapor polisi karena itu sama saja kita mengancam nyawa mama," jawab Ceka sambil memegang kedua bahu Atan dengan menatap dalam putranya.


"Lalu kita terus diam seperti ini Yah. Aku sudah muak sama Saka dan Cakandani, mereka sudah sangat jauh melakukan ini dari tujuh tahun lalu sampai sekarang. Dulu mereka membunuh Ibu kandungku, sekarang mereka membunuh Viky, " tutur Atan dengan nada emosinya.


"Papa tahu kamu lagi emosi, tapi ingat kita harus mengambil langkah yang tenang, jika salah bergerak maka nyawa mama kamu yang terancam," kata Ceka dengan terus menerus berusaha menenangkan Atan.


"Yang di katakan Bos besar benar pangeran, jika kita salah langkah maka nyonya besar yang akan terancam," sahut sekertaris han yang dari tadi mendengar perdebatan antara Atan dan Ceka.


Atan yang mendengar ucapan Sekertaris Han terdiam, dia berusaha mencerna semua ucapan baik dari Ceka mau pun sekertaris Han. Atan pun berpikir kalo yang dikatakan papa dan sekertaris Han benar jika mereka salah langkah maka mamanya yang akan menjadi korban berikutnya. Setelah berpikir lama Atan pun mulai mengontrol emosinya agar lebih baik lagi.


Bersambung.