
Perusahaan Rayanin adalah salah satu perusahaan yang sangat besar dan terkenal, perusahan yang selalu maju lebih dahulu sebelum yang lainya. Setiap perubahan yang terjadi seperti harga saham . Maka mereka harus lebih dahulu melihat dan mengetahuinya.
Seperti hari ini Mereka, mengadakan rapat penting dalam membahas saham-saham perusahaan Rayanin yang selalu menjadi perbincangan media, Baik di televisi, Koran, dan artikel. Rapat perusahaan dilakaukan dengan bos - bos yang sudah di berikan kepercayaan dari berbagai perusahaannya.
Di sertai Bebeparapa kariawan yang merupakan kepercayaan Ceka Rayanin. Salah satunya adalah Sekertaris kepercayaanya yaitu Sandy Biga yang di percaya sebagai pemimpin dalam rapat tersebut.
"Kita akan mengadakan tanam saham di salah satu properti mol yang akan di bangun di tanah Sagu. Dari sini perusahaan kita mendapatkan saham sebesar 20% dari yang lainya", Ucap Sekertaris Sandy Biga. Saat memperesentasikan hasil saham dari berbagai perusahaan dalam bentuk diagram batang di layar lebar yang menjadi pusat perhatian media saat ini dalam rapat.
"Bos Besar meminta kerja sama dari berbagai Ceo yang sudah di pilih sebagai bos di cabang-cabang perusahaan kita", Tutur Sekertaris Sandy lagi.
Setelah penjelasanya secara detaeil di depan sekertaris Sandy memberi pertanyaan pada Ceo yang ada dalam rapat. Namun karena penjelasanya yang secara rinci sudah cukup bagi para Ceo untuk tidak bertanya lagi. Walau sedikit ada perdebatan dalam uraian materi tanam saham. Akan tetapi semuanya sudah di jelaskan ulang oleh sekertaris Sandy.
:
:
:
Dibalik penguman Atan berpacaran dengan Reina. Di saat itu membuat banyak hati yang patah atau kecewa. Salah satunya adalah Kara. Berita beredar resminya pacaran Atan dan Rani sudah tersebar ke satu sekolah. Kara baru di beritahu oleh Sanya geng Risa. Saat gadis itu teringat akan perasaan Kara yang sebenarnya pada Atan.
Banyak orang memang tidak terlalu mengetahui urusan Sanya dan Kara karena, Kara dikenal gadis pendiam yang tidak banyak bicara dan bergaul di lingkungan sekolah. Walau Kara di kenal anak-anak sebagai teman dekat Rani. Tapi Kara memang jarang terlihat bersama Rani. Palingan di kelas itu pun kalo Rani yang mengajaknya berbicara.
Sanya adalah anak bos dari Bibinya Kara bekerja, jadi otomatis Dia mengenal Sanya walau tidak sedekat seperti Risa. Namun suatu ketika Kara curhatan sama Sanya. Di situlah Kara mengetahui kalo Sanya menyukai Jonggky sahabat Atan. Dan Begitu juga sebaliknya Sanya mengetahui Isi hati Kara pada Atan, serta kehidupan ketekanan batin Kara saat di rumahanya.
"Kara....", teriak Sanya saat Ia sudah beridri di depan pintu kelas Kara.
Kara yang mendengar teriakan Sanya menutup kupingnya sambil menatap ke arah Sanya yang sedang berlari mwnghampirinya.
"Aduh Non San? volume suara Non sedikit dikurangi, pliss....", seru Kara sambil menghentikan aktifitas tulisan salinanan catatan pada buku-buku Atan.
"Sory...Sory, gue terlalu bersemangat mau memberitahu lo, tapi sebelum itu lo harus janji tidak boleh putus asa, 'ok"
"Apa yang membuat gerangan pujaan hati Pink-pink bersemangat?" canda Kara dengan memperlihatkan senyuman tulusnya.
"Ihhh.... Kara apansih? ini gak ada urusan sama, my bebey Jongky tau. Ini urusannya sama lo", ketus Sanya dengan memajukan bibir monyongnya ke depan.
"Hehhhe... maaf non San. Aku terlalu bahagia karena non sudah datang melihat aku di kelas, walau non sendiri tahu kalo kita berbeda,
trus apa dong? ko kaya serius amat?"
"Ini bukan serius, tapi sangat serius, sebelum itu lo harus ikutin semua perkataan gue", tambah Sanya dengan menatap serius Kara.
" Memangnya masalah ap...?"
"Jangan banyak bertanya, sekarang tarik nafas dalam-dalam, hembuskan pelan-pelan, pasang telinga, dan mata lo. fokus dengan apa yang keluar dari mulut gue", ucap Sanya sambil memperagakan semua apa yang di ucapkanya.
Kara yang mengerutkan dahi dengan wajah kebingunganya, hanya mengikuti semua ucapan temanya itu. Walau Dia sendiri lagi menahan rasa lucunya melihat ekspresi Sanya yang lagi serius padanya.
"Atan resmi pacaran dengan Rani", satu kalimat itu langsung mengalir seperti air dari mulut Sanya.
Ucapan Sanya dalam sekejap mengubah ekspresi Kara yang tadi gembira dan lucu kini berubah menjadi wajah, yang sendu walau Ia sedikit memaksakan senyumanya. Tapi tetap saja senyuman itu bukanlah gambaran bahagia dari Kara.
"Oh...Aku sudah tahu Non, aku rasa mereka memang sangat cocok. Yang satu tampan, kaya dan dingin. Yang satu baik, ceria, dan juga penyang, jelas mereka saling melengkapi dalam sebuah hubungan", jawab balik Kara tapi jelas hal ini bagaikan petir yang tersambar di seluruh aliran darah dan hatinya bagaikan sobek-sobekkan dari pisau di dalam sana.
"Lo gak kenapa-kenapa 'kan?" selidik Sanya yang kwatir dengan eksperesi Kara.
"Non. Tidak perlu kwatir sama Aku. Walau ini sedikit menyakitkan tapi bagiku Atan hanyalah bunga tidurku saat malam aku tertidur. Dia seperti mentari yang bisa dilihat tapi tidak bisa disentuh. Di pagi hari aku tersadar akan terikan mentari maka semua itu hanyalah mimpi"
"San. gue memang suka sama Atan, bagi wanita seperti aku tentu mengangumi sosok pria seperti Atan sebagai pasangan kami. Perasaan ini gue anggap seperti Perasaan Idola, Cinta dan harapan itu telah pergi, Atan semakin membenci gue, bahkan melihat wajah gue saja tidak sudi di lihat Atan"
"Setiap malam jika gue dalam semua tekanan itu, gue selalu berpikir Dia adalah pelindung gue. Tapi sayang itu hanya sebuah mimpi bagi Kara", Tidak terasa ucapan ketulusan Kara itu membuat kristal yqng tadi membeku di ujung matanya mengalir seperti es yang mencair dan siap membasahi kedua pipi mulusnya itu.
"At...an", ucapan Sanya membuat Kara tercengang". Secepatnya Kara langsung menghapus kedua pipi lembab bekas air matanya itu.
"Ngapain lo di kelas gue, jangan-jangan lo lagi?"
"Ngak. gue datang karena gue sama Kara sudah kenal lama, hanya kita jarang saja berkomonikasi di sekolah. ,Ya kan Kara?" ucap Sanya sambil memberi kode matanya pada Kara.
"Oh...ya, tadi Dia datang karena ingin meminta aku mengabari Bibi, Ibu Sanya ada perlu sama Bibi aku", ucap Kara dengan menatap Atan sebentar.
"Kalo begitu Kar. Gue pergi dulu", pinta Sanya lalu Ia bangkit dari kursi sambil berdiri secepat mungkin dan ke luar dari kelas meninggalkan Atan serta Kara sendirian di kelas.
"Ada apa Big bos datang?" tanya Kara saat melihat Atan yang masih berdiri di depanya dengan wajah yang datar.
"Gue cuma antar ini ke lo, karena gue tahu lo ngak istirahat, mungkin lo lagi nyalin semua materi hari ke dalam setiap catatan gue", Tutur balik Atan sambil menyodorkan plastik makanan di meja Kara.
"Terimakasih Bos, tapi sebenarnya ini tidak perlu"
"Jangan banyak menyimpulkan setiap kebaikan orang, gue lakukan ini karena memang lo lagi kerja tugas yang gue berikan pada lo. Jika tidak maka urusan lo mau makan atau tidak bukan urusan gue"
"Oh ya ntar malam temani gue ke klub bersama teman-teman gue, berikan nomor ponsel kamu? dan alamat rumah kamu nanti gue jemput?" ucap Atan masih dengan wajah yang cuek sambil berdiri santai di hadapan Kara.
Kara yang mengerutkan dahinya karena merasa sedikit aneh dengan ajakan Atan, Ia mau bertanya lagi, namun secepatnya pria yang berwajah datar itu bersuara lagi.
"Jangan banyak tanya, dan bantah"
"Tapi saya tidak punya ponsel", seru Kara karena memang ini pikiran yang dari tadi ada di ingatanya.
"Apa? Lo tidak punya ponsel? lalu apa yang kamu lakukan watu itu telponan sama Okto ?" tanya balik Atan sambil melihat ke mata Kara yang juga lagi menatapnya.
"Itulah masalahnya, Aku selalu mau menjelaskan pada Ka..., maaf maksdud aku bos, tapi bos sama sekali tidak mendengar penjelasanku"
"Lo pikir gue percaya ama omongan lo, mana nomor ponsel lo?" Bantah balik Atan yang tidak mau di salahin dengan wajah sangat cuek dan sedikit kesal.
"Terserah bos mau percaya atau tidak, intinya saya tidak punya ponsel, apa yang saya katakan itulah yang sebenarnya"
Atan yang masih ingin berdebat.
Kembali diam seribu kata, saat mendengar ucapan Kara dan melihat ekspresi wajah Kara yang sudah mengalah, lalu Dia pun kembali berkata.
"Ok. Berikan alamat rumahmu", seru balik Atan.
Kara menatap Atan sebentar saat pria tampan itu menarik kursi untuk duduk , lalu ia mengambil bulpen yabg ada di atas meja, menulis alamatnya dan menyodorkan pada Atan yang lagi duduk santai menyandarkan punggungnya di kepala kursi sambil menyembunyikan tangan di dalam saku jaketnya dengan menatap Kara saat gadis itu menyodorkan kertas beriisi alamatnya.
"Ini alamat aku, tapi....bukanya aku hanya menjadi babu kamu di sekolah?"
"Beraninya kamu, menyebut aku dengan kata kamu?.apa kamu sengaja buat aku marah lagi? Kamu itu babuku jadi hak aku mau perintah kamu ke mana aku pergi jangan banyak bantah", Atau....satu kata.
"Maaf aku tidak sengaja bos, lain kali ini tidak akan terjadi lagi, Aku akan ikutin semua kemauan bos, selama itu buat kebaikan keluargaku", jawab kara saat Atan kembali mengancamnya.
"Bagus kalo kamu tahu diri, tepat jam tujuh aku jemput, jangan lupa bawa jaket karena di luar dingin", lanjutkan kerjaan kamu, dan jangan lupa makan, aku tidak mau di bilang bos yang jahat"
"Baik Bos besar, terimakasih", sahut Kara saat Atan hendak berdiri.
Atan yang tadinya mau berdiri kembali menaruh bokongnya di kursi, sedangkan Kara kembali menulis catatan salinan Atan. Tanpa melirik kembali ke pria yang sedang menatapnya, saatb Atan sedikit melirik Kara, pikiran Atan tentang Kara mulai brbeda.
" Jika di lihat dari dekat Dia Cantik juga. Tapi apa benar Dia tidak memiliki ponsel? hello ini sudah tahun 2017. Kenapa masih ada orang yang tidak memiliki ponsel seperti Dia? pada hal di era sekarang tegnologi sudah sangat canggih. Apa benar Dia tidak ada hubungan sama Dion?" Pikiran Atan melantung kemana-mana hingga Ia lupa kalo Dari tadi Rio dan Fandi, sedang menatapnya dengan serius lewat tempat duduk mereka berdua sambil senyum-senyum.
Bersambung.