ATABUAN

ATABUAN
KESALAHPAHAMAN 2~ Atabuan



Atan yang menatap tajam adegan romantis dari Kara dan Reno membuat, darah Atan mengalir deras dalam tubuhnya. Tatapannya yang tajam semakin lama semakin menjadi seperti sedang berdiri di bara api.


Atan hendak melangkahkan kakinya ke depan namun, Ia mengurungkan niatnya. Atan kembali memutar tubuhnya ke arah mobilnya, Ia berpikir sejenak di tempatnya.


" Lihat saja apa yang bakal terjadi besok patung mati. Selama ini gue selalu berbaik hati sama lo tapi, lo malah bermain api dari belakang. Dengan bersekongkol bersama musuhku?" Batin Atan saat Ia kembali menatap dengan sangat tajam pada kedua insan yang masih dalam keadaan sama berpelukan. Remasan jari-jemari Atan sangat kuat, dan menokak pada giginya seakan mau rontok semua yang mungkin, sebentar lagi akan ke luar dari dalam mulutnya satu- persatu.


Atan melangkah dan menghentak sendalnya di tanah dengan keras. Dan masuk kembali ke dalam mobil di mana, pintu penumpang mobil Viraleal yang sudah terbuka. Atan menaruh bokongya keras di kursi sofa mobil dengan wajah yang kesal lalu, memerintahkan Supir kembali melajukan mobil di mana pintu mobil sudah tertutup kembali.


"Jalan pak! percepat kecepatanya!" Ucap Atan dengan nada kesal.


Tanpa bertanya lagi sang supir pun melajukan mobil pergi, meninggalkan halaman rumah Kara.


:


:


Reno yang sadar akan hal yang Ia lakukan saat ini pada Kara. Melepaskan pelukanya dari tubuh gadis itu, di mana di saat Reno membalut tubuh Kara dengan Jaket yang ada di tubuhnya, sebenarnya Reno belum ada hak memeluk Kara. Tapi karena hatinya yang merasa sedih saat melihat air mata gadis itu terus membendung di kedua bola indah itu, yang mencoba menahan rasa sakitnya di hadapan Reno. Pada hal terlihat jelas cairan bening itu sudah membendung di kedua bola itu yang mungkin sebentar lagi akan menjadi banjir.


" Sebenarnya di depanku jangan sembunyikan rasa sakitmu itu. Menangislah jika kamu ingin menangis, keluarkanlah rasa sakit di hatimu lewat kristal-kristal itu", Ucap Reno saat Ia memeluk lembut Kara ke dalam tubuhnya.


Tak terasa kristal di mata Kara mengalir begitu deras dari kedua bola indah itu seakan seperti hujan yang deras. Reno merasakan kerak kaos hitamnya sudah basah dengan air mata Kara. Entah mengapa Reno ikut terhanyut dalam suasana sedih tangisan dari gadis yang ada di pelukanya itu. Yang semakin lama semakin menjadi.


Reno mengeratkan pelukanya pada Kara namun, pelukanya tidak di balas oleh Kara. Reno mengakat tanganya yang satu mengelus lembut rambut Kara, sangat lembut di mana gadis itu semakin menangis sambil menutup kedua matanya yang tidak kuat mendengar suara tangisan isyak Kara.


"Uhuuuu...uhuuu....Umhuu....", suara tangis isyak Kara di balik pelukan Reno.


Eddy yang mendengar suara tangis Kara di depan rumah mencoba bangkit berdiri tapi, sayang tubuhnya sangat lemah saat ini, Ia mencoba dan mencoba bangkit lagi tetap saja gagal, Eddy merasak kepalanya berat, semua badanya sakit, dan lemas saat Ia mencoba bangkit lagi tubuh Eddy seketika ambruk kembali ke lantai keramik rumah.


"Prak....", tubuuh Eddy kembali ambruk. Semakin lama matanya tertutup pelan hingga akhirnya Eddy pingsan.


Reno menuntun Kara pelan ke mobilnya yang tidak jauh dari mereka. Kedua tanganya memegang lembut kedua bahu Kara sambil melangkah. Setelah di depan mobil, Reno melepaskan pegangan kedua tanganya dari tubuh gadis itu.


Lalu Ia membuka kunci pembuka mobil pada benda kecil hitam yang ada di tanganya. Setelah mobil terbuka Reno kembali menuntun Kara masuk ke dalam mobil bagian depan di samping tempat duduk Reno. Kara yang sudah duduk langsung mengambil sabuk pengaman dan memasang di tubuhnya.


Reno ikut masuk ke dalam mobilnya lalu duduk di samping Kara. Reno menyalakan mesin mobil, kedua tanganya memegang stir mobil untuk pergi sebelum, pergi Reno masih menutup tutupan mobil lamoringhi atas, sesekali Ia melirik sebentar ke Kara yang lagi menyandar tubuh ke jendela dan tatapan kosong ke luar jendela. Reno tadinya beniat memasang sabuk ke tubuh gadis itu tapi, sudah lebih dulu di kenakan gadis itu.


Reno ingin berucap sesuatu tapi, saat Ia melihat tatapan kosong Kara yang diam ke luar kaca mobil. Ia mengurungkan niatnya dan melajukan mobil pergi meninggalkan rumah Kara.


Ia mengingat saat lahir ke bumi ini Kara tidak tahu seperti apa wajah Bundanya atau wanita yang bertaruh nyawa. melahirnkanya dirinya. Karena setelah melahirkan Kara Ibu Kara meninggal.


Setelah kepergian Bunda Kara, Dia di asuh oleh Ayah dan Bibinya. Ayah Kara adalah seorang penjual koran keliling kota. Kara adalah gadis pekerja keras sejak usia dini.


Kara berjualan koran sejak usia lima tahun dengan Ayahnya, mengelilingi Ibu kota Jakarta. Di tumpangi oleh Ayahnya di sepeda depan, setiap pagi mereka harus mendayun sepeda berjualan koran keliling kota.


Namun saat usianya sepuluh tahun Ayahnya mengalami kecelakaan oleh sebuah truk konteiner pabrik besar saat hendak menjemput Kara di sekolah. Kepergian Ayah Kara membawa luka yang begitu pilu bagi gadis kecil itu, akan tetapi tidak pernah sesekali Kara mengeluh. Ia selalu mengangap setiap masalah yang Ia hadapi sebagai sebuah berkatnya.


Sejak saat itu Kara tinggal dengan Bibinya. namun penderitaan pada gadis itu belum berakhir sebelum Bibi Kara menikah Kara dengan pamanya.


Sebelumnya mereka berdua hidup di jalanan sebagi gembel, untuk mendapat sesuap nasi saja Kara dan Bibinya harus menggontong semua barang bekas untuk di timbang dan menghasilkan uang. Kadang Ia dan bibinya menahan lapar selama satu hari jika, uang yang dihasilakan dari punggutan barang bekas tidak cukup membeli makanan.


Bibi Kara selalu mengajarkan Kara untuk tidak menjadi pengemis, Bagi Bibi Kara lebih baik merendahkan diri mencari rongsokan barang bekas untuk di kumpul dan menghasilkan uang, dari pada menjadi seorang pengemis.


Kerena wanita paruh baya itu, mengajarkan pada Kara bahwa


"Tuhan sudah memberi kita dua tangan dan dua kaki. Tangan di gunakan untuk bekerja dan kaki digunakan untuk mencari kerja. Serendahnya kerjaan di mata manusia tapi, yang penting di mata Tuhan kerjaan itu halal"


"Selama kamu belum merugikan seseorang, dan menyusahkan mereka. Maka kerjakanlah apa yang bisa menghasilkan uang setidaknya, itu halal di mata Tuhan", Ajaran Bibi Kara waktu ia masih kecil.


Perkataan Bibi Kara itu selalu Kara jadikan sebagai kata-kata yang menguatkanya saat Ia terjatuh dalam masalah hidup. Dari situlah Kara sangat menyangi Bibinya melebihi apa pun.


Melihat hasil dari barang bekas tidak menguntungkan bagi wanita paru baya itu, Ia memutuskan untuk membawa keponakan tersayangnya bekerja di perusahaan dagang ikan. Dari situlah Kara bekerja begitu keras membantu bibi tanpa mengeluh. Dan di situ pula Bibi Kara bertemu dengan pamanya dan menikah.


Sejak menikah dengan Eddy hidup mereka mulai lebih baik dari sebelumnya, Bibi Kara mulai bekerja di salah satu usah suaminya menjual ikan sedangkan, Kara selalu membantu bibi pas pulang dari sekolah. Namun jauh dari pikiran Bibi Kara lelaki yang di nikahinya itu memeiliki hutang yang begitu banyak akibat berjudi. Sejak saat itu Kara mulai bekerja keras membantu bibinya membayar uang sekolah, uang listrik, Kontrakan dan kebutuhan sehari-hari. Selebih gajinya di berikan pada pamanya untuk menutupi hutangnya. Walau kadang Eddy sering menggunakan uang Kara untuk berjudi, berfoya-foya dengan wanita malam di luar sana.


Melihat anak yang di asuhnya itu semakin lama semakin tumbuh menjadi gadis yang cantik, tidak di punggkiri Eddy mulai jatuh hati sama Kara. Berulang-ulang Ia mencoba menonadai Kara tapi selalu gagal. Hingga suatu hari Ia menggunakan kamera ponselnya, mengambil gambar-gambar Kara mulai dari Ia mandi, makan, tidur, tunduk, dan mengenakan pakaian yang sederhana selalu saja di foto sembunyi oleh Eddy. Saat gadis itu mengetahui bahwa pamanya menyukainya sejak, saat itulah Kara diliputi rasa takut dan di lema saat harus beratap dengan lelaki yang selalu dan selalu menginkan dirinya.


Tidak di kebayang semua ingatan itu begitu menyakiti hati Kara bagaikan dicabik ulang-ulang oleh pisau yang tajam, bendungan air mata itu mulai mengalir dari kedua kelopak mata Kara saat Ia menatap ke luar jendela. Kara menutup kedua kolapak matanya namun butir bening itu terus mengalir dan mengalir.


" *Ayah....Bunda....Kara rindu....Kara ingin menangis di pelukan Ayah...", Batin Kara saat kedua kelopak itu tertutup dan bening butiran yang bercucuran membasahi kedua pipi mulus itu semakin lama semakin deras air mata itu.


Jangan Lupa like, komen, dan kasih bintang ke ceritaku ini. terima kasih sudah mampir🙏🙏🙏❤🤗😊*