
Setelah bersapa dengan teman- teman Atan. Ceka pun meninggalkan sekolah Atan karena ada rapat penting di perusahaan Rayanin, dengan kliennya dari eropa. Atan, Rani, dan Kelima sahabat Atan beridiri di depan pintu utama sekolah sambil melambaikan tangan pada papanya yang sudah ada di mobil. Mobil alphard Ceka dan kawalannya mengiringi lajuan mobil Ceka pergi meninggalkan sekolah.
Semua anak-anak yang melihat pak Ceka sudah biasa bagi mereka. Walau dari mereka ada yang sedikit iri dengan Atan. Namun tetap saja kekuasaan Atan di sekolah ini tidak bisa dilawan oleh siapa pun. Sekali pun ada tetap saja pada akhirnya akan kalah sama seorang Ceka Rayanin.
Saat Atan, Rani dan komplotan Atan memutar tubuh mereka untuk mau melangkah kembali ke dalam area lantai satu. Saaat itu pula banyak siswa berlari ke lapangan upacara. Semuanya berlari seakan kedatangan seorang artis terkenal.
"Oh may Dia tampan sekali Ris. Walau ketampanan masih king kita Atan yang menang, tapi Dia...", ucap Rika terhenti saat Ia melihat Atan dan Rani yang bergandengan tangan. Dan senyuman dengan senyuman kemenangan datang dari Rani, serta kelima teman Atan yang juga ikut tersenyum melihat ganjengnya Rani pada Atan.
Yang tidak lain adalah Jonggky cowok taksiran Sanya, Chiko anak renang yang tidak kalah kece dan kaya sama seperti Atan, Willem anak bola yang tidak kalah tampan dengan Atan dan juga merupakan anak orang kaya. Sedangkan Fandi dan Rio anak basket yang paling tampan dari semua pemain basket lainnya di sekolah. Yang juga merupakan keluarga kaya. Sama seperti Atan yang membuat banyak gadis yang terpesona pada mereka.
"Siapa maksud kamu yang tidak kalah tampan dengan aku?" tanya serius Atan.
"Mau tahu' ya cari tahu sendiri", jawab balik Rika.
"Kenapa? kamu takut ada saingan baru di sekolah ini? Cihh.... gue pikir seorang Atan tidak takut jika ada saingan?" Tambah Risa yang cemburu dengan gandengan Atan dan Rani.
" Hahahh...Atan tidak pernah takut sama yang namanya saingan. Karen Atan dari dulu adalah Raja tampan di sekolah universal scooll", jawab sombong Atan dengan senyuman miring di ukir dari bibirnya.
"Tan. Ngapain lo ngomong sama cewek-cewek centil ini. Orang seperti kita tidak pantas ngomong sama mereka bertiga", ketus Chiko dengan menatap tajam ke arah Risa.
" Siapa juga yang mau ngomong sama kalian? Kita 'kan mau pergi ke lapangan. Mau lihat sang pesaing Atan. Gue jamin kali ini Atan akan kalah, Kerena apa? Karena Dia tidak kalah kaya sama keluarga Atan".
"Betul sekali, bos kalian saja yang ngahalangin jalan kami", bela Rika pada jawaban Risa.
"Memang jalanan di sini cuma ada di hadapan kami? Huuffh....Jalan di sini luas kali, gue gak pernah niat menghalangi jalan kalian", ucap Atan dengan senyuman miring di susuli kelima teman Atan yang tertawa lebar karena merasa lucu dengan perkataan Rika.
Sedangkan Sanya hanya diam membisu, karena Ia tidak mau membuat Jonggky kesal sama Dia.
Fandi, Rio, Willem, dan Jonggky hanya tersenyum melihat adegan sang mantan kekasih Atan, Risa. Yang dibawa api cemburu pada Atan dan Rani. Atan tersenyum miring membuka jalan pada ketiga gadis itu dan mereka pun melangkah pergi. Atan, Rani dan komplotanya kembali melangkah ke depan untuk menaiki anakan tangga ke kelas mereka yang ada di lantai dua.
Namun saat Atan melangkah hingga anakan tangga ke sembilan, kaki Atan terhenti yang diikuti oleh Rani yang tidak bergandengan tangan dengan lengan Atan lagi. karena sudah di larang sama Atan. Sedang kelima temanya diam mengikuti diamnya Atan.
Langkah kaki Atan terhenti saat salah satu siswa yang turun dari tangga menuju lantai satu menyebut nama Reno. Yang tidak lain adalah anak baru yang lagi menghebohkan satu sekolah dengan kedatangan kedua temanya yaitu Saji dan Jeffri yang juga sebagai anak baru. Tapi Atan masih belum sadar kalo Reno adalah sahabat kecilnya.
Rani mengukir senyuman miring di bibirnya sambil berbisik dalam hati.
" My partner kamu memang is the best. Misi kali ini akan berjalan sempurna. Kara bersiaplah untuk bencana barumu. Karen aku tidak akan tenang jika hidupmu belum berkecai. Badai mahkotamu sudah dimulai".
"Apa? Si biang kerong pembuat onar dan masalah di klub kemarin, masuk sekolah kita?" kaget dari Chiko.
Atan kembali memutar tubuhnya dan langkah kaki sepatunya melangkah santai menuruni anakan tangga kembali ke bawah.
Satu per satu dengan sekilas ingatan di pikirannya tentang perkataan Reno semalam.
"Siapa aku nanti kamu juga akan tahu, karena sebentar lagi kita akan bertemu setiap hari, suara Reno di ingatan Atan seperti suara toa yang berulang-ulang terdengar oleh kuping Atan.
"Jadi ini yang mau di tunjukkan padaku?" batin Atan bergumam.
"Kayaknya akan ada kontak fisik ke dua di sekolah ini, setelah sekian lama kita kontak fisik satu sama lain di smp", bisik pelan Rio pada Fandi.
" Ini yang gue tunggu dari dulu", senyum miring dari Fandi.
"Ini sih bos pasti sudah dalam kekesalan 'kan Fullo?" tanya Jonggky sambil berjalan santai melihat punggung Atan yang ada di hadapan mereka.
"Jangankan kekesalan, kayaknya sih Reno bakal jadi dendeng kering sama bos kita", jawab santai Willem.
"Bukan dendeng kering tapi si Reno akan jadi musuh terbesar bagi si kerong, seru Chiko".
Sedangkan Rani hanya tersenyum mendengar pendapat dari mereka masing-masing. Dengan membisik pelan dalam batinya.
"Kali ini Atan pasti akan kalah, setelah sebulan Atan akan aku buang seperti kotoran yang tidak ada arti".
Langkahan kaki Atan terhenti disusuli kaki Rani dan kelima sahabat Atan. Sedangkan semua anak-anak yang mengelilingi lingkaran seperti mengantri, tiba-tiba kaget dengan kedatangan Atan dan komplotanya.
Mereka membuka jalan dari lingkaran yang berbentuk huruf O menjadi hurug U. Tatapan Reno yang menghirup udara baru di sekolah baru dengan senyuman kini berubah saat
Tatapan bola matanya menemukan tatapan bola mata yang tidak asing baginya. Setelah menatap dengan sangat teliti, Senyuman Reno menghilang dengan tatapan datar yang Ia sadari kalo itu tatapan kedua bola mata Atan dengan jarak lima meter dari dirinya.
"Kita ketemu lagi", sapa Reno pada Atan dengan senyuman licik.
"Kenapa lo masuk ke sekolah ini?" tatapan tajam dari Atan pada Reno.
"Kan gue sudah bilang kalo gue ingin melindungi seorang. Yang sangat penting dalam hidup gue. Yang ada di sekolah ini ".
"Siapa maksud lo?" Nada suara Atan sedikit di naikkan.
Reno mencueki perkataan Atan dan kembali mencari-cari sosok yang dari tadi ingin di lihatnya. saat memasuki sekolah ini. Reno belum menemukan sosok yang membuat hatinya cemas dan ada kata rindu dalam hatinya. Namun tatapan Reno terhenti saat Ia melihat sosok yang dari tadi dicarinya, sedang melangkah dengan rambut panjang yang terurai di punggung belakangnya. Dia adalah Kara.
Atan mengikuti tatapan Reno ke arah koridor lantai dua di mana Kara yang sedang melangkah di koridor lantai dua. Melihat senyuman Reno membuat perasaan Atan sangat kesal. Entah mengapa tapi Atan sama sekali tidak menyukai jika Reno terus-menerus menatap Kara.
"Jangan berani menyentuhnya", ucap Atan pada Reno yang masih menatap Kara, yang sedang melangkah dengan senyuman lebar di bibirnya.
"Seharusnya kata ini yang keluar dari mulut gue. Namun karena kamu sudah mewakili perkataanku. Jadi aku hanya perlu ucapkan ulang, Jangan memancingku, Karena Dia milikku", seru Reno dengan tatapan tajam pada Atan yang juga tidak kalah tajam saat menatapnya.
***Bersambung***.