
Malam yang sepi hanya ada mobil dan motor yang lewat memenuhi jalanan yang macet. Bukan jakarta kalo tidak ada kemacetan.
Setelah perdebatan yang cukup panjang. Antara Kemarahan Atan pada Kara atau pun kemarahan Atan pada kelima temanya. Selesainya perdebatan, Chiko, Rio, Willem dan Jonggky memilih di antar pulang oleh Fandi. Bersamaaan dengan Atan yang masih kesal dengan Kara karena sudah berani menyentuh dirinya. Atan yang kesal memerintah Fandi menurunkanya dengan Kara di tengah jalan manggis karena Supir pribadi Atan sudah datang menjemput mereka.
Atan yang Mengklik menu kontak di layar ponselnya mencari nama kontok lalu mengklik tombol hijau memanggil pada kontak yang tertera nama kepala satpam. yang bertugas di pos satpam untuk menjaga rumah Rayanin pada malam hari.
"Segera kirimkan salah satu driver menjemput aku di jalan manggis!" suara datar Atan di benda pipih yang di gengam oleh tangan kiri pada telinganya yang kiri. Panggilan masuk dari Pangeran Atan yang ada di kontak kepala satpam pun sudah dimatikan, Sebelum satpam penjaga tersebut menjawab perintahnya.
Setelah mendapat kabar dari Atan, Kepala satpam di rumah Atan pun memberi perintah pada keempat supir pribadi yang bertugas pada malam hari di rumah kaisar Rayanin.
"Salah satu dari kalian berempat, segera jemput Pangeran Atan Rayanin di jalan manggis! Gunakan mobil Alpard putih untuk menjemput pangeran! dalam waktu sepuluh menit harus sudah sampai di tempat tujuan!"
"Siap laksanakan Tuan", jawab hormat dari supir yang akan menjemput Atan, pada kepala satpam. Mesin Mobil Alpard sudah dinyalakan, tidak lama kemudian mobil itu pun keluar dari garansi besar tempat mobil di depan rumah mewah Rayanin.
Sedangkan mobil pribadi Atan sudah diantar pulang oleh pengawal Fandi ke rumah Kaisar Rayanin. Dalam hitungan jam yang tertera di layar depan ponsel Atan sudah menunjukkan 09. 07menit. Namun sang supir belum juga datang.
Atan yang kembali kesal dan segera mengklik pangilan memanggil Kepala satpam. Namun segera di matikan saat mobil putih alpard berhenti di depan mereka.
Saat mobil aphard putih itu tepat di hadapan Atan dan Kara keluarlah sang supir dari kursi supir dengan membuka pintu mobil depan. Bukan Atan jika tidak mengkomplen saat supir itu keluar minta maaf karena sudah membuat sang pangeran menunggu. Pada hal belum juga sepuluh menit tapi Atan tetap mengkomplen hal sepeleh tersebut. Selesainya memarahin supir perintah Atan pada sang supir menekan tombol pembuka pintu mobil Alpard. Supir pun segera melakukanya tanpa bertanya lagi.
Atan dan Kara memasuki mobil saat salah satu pintu kanan mobil terbuka . Mereka duduk di kursi penumpang kedua berseblahan. Mesin mobil pun kembali di nyalakan dan melaju pergi meninggalkan tempat jalan manggis. Dalam perjalanan pulang, Kesunyian terjadi dalam mobil. Hanya ada suara mesin mobil yang menemani kesunyian tersebut. Atan yang masih kesal sama Kara memilih bermain game dan sesekali balas chatan sama Rani di ponselnya.
Sedangkan Kara yang duduk bersampingan dengan Atan hanya diam membisu sambil milihat terus pemandangan dari dalam arah jendela ke luar.
Atan memerintah supir mengantar pulang Kara baru kembali ke rumah. Awalnya Kara berpikir menolak namun saat Atan melototkan kedua bola mata hitamnya dengan kekesalan yang masih ada di wajahnya. Kara kembali diam seribu kata yang berarti tidak memprotes. Perjalanan satu jam ke rumah Kara tidak ada komunikasi sama sekali. Baik dari Kara, atau pun Atan. kedua insan itu tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Sebenarnya aku mau bertanya padamu Tan. Mengapa tiba-tiba kamu pingsan? dan kehancuran di klub yang sangat aneh bagi Aku dan kelima temanmu? Tapi sayang Saat ini aku tidak bisa berkata karena aku tahu kamu akan marah lagi padaku".
"Namun malam ini aku menyadari kalo aku tidak salah menyukaimu", Because I know the good side of an Atan, Batin Kara.
Sedangkan Atan terus bermain game dan sesekali membalas chatan Rani. Tapi pikiran dan hatinya berada di kejadian dua jam lalu di klub. Sejenak batin Atan bertanya.
***Chatan Atan dan Rani.
Rani: "kamu lagi di mana❤?"
Atan: " Dalam perjalanan pulang"
Rani: " Dengan siapa🌹?"
Atan: " Teman. Kamu hanya pacar bukan istriku***"
Rani: "Justru pacar jadi aku tanya? Besok ketemuan ya di sekolah sayang❤😘🙏😚"
Rani: Ko hanya di lihat? ngak di balas? hei...",
Atan kembali mengingat semua kejadian yang hari ini terjadi di klub.
"Bagaiman pria asing itu mengenal Aku? dan pada saat aku menyentuhnya seakan ada aliran kekuatan yang saling bertemu untuk saling menyerang. Bagaimana pula pria itu bisa mengetahui wujud asliku? dan masa lalu aku?Apakah Dia dulu mengenal Aku? dari matanya aku bisa merasakan kalo aku pernah mengenalnya? yang menjadi pertanyaanya di mana kami bertemu?"
" Yang lebih parahnya lagi, Dia bilang menyukai gadis patung mati ini?" suara hati itu keluar saat Atan sesekali mencuri-curi pandang pada Kara.
Dalam kesunyian dengan masing-masing berada di pikiran mereka sendiri-sendiri, suara supir mecahkan keheningan tersebut.
" Maaf pangeran, kita sudah sampai di rumah teman pangeran, perkataan supir saat Ia sudah memencet tombol pembuka pintu mobil sambil melepaskan sabuk pengaman dari dirinya". Sedangkan Atan dan Kara tersadar dari pikiran mereka kembali ke alam bawah sadar saat ini.
Kara yang bangkit berdiri dari kursi pintu mobil kanan segera keluar dari mobil. Begitu pun dengan Atan yang bangkit berdiri dari kursi pintu mobil kiri untuk keluar. Namun saat Atan dan kara sudah berdiri di pintu mobil kanan bersama. Kara kaget melihat masalah antara paman dan bibinya dari dalam rumah hingga suara itu keluar dan terdengar oleh Atan dan Kara. Atan yang melihat supirnya berdiri di sampingnya. Memberi kode mata perintah pada sang supir untuk menunggunya di dalam mobil saja.
"Hentikan sikapmu ini Eddy. Kau lihat gara-gara ulahmu aku yang harus bayar hutangmu pada mereka"
" Apa kau bilang gara-gara aku? Kau yang ******, kalo bukan karena aku kau dan keponakanmu mawar hitam itu sudah hidup di jalanan menjadi gembel"
" Kau membiarkan Dia di jemput oleh lelaki kaya, kau tahu siapa lelaki itu? Dia adalah putra Ceka Rayanin pengusaha terkaya di jakarta. Kau pikir gadis sok polos seperti Kara bisa menjadi ratu? Cuhiiii....", Buahan luda dari Eddy atau nama asli paman Kara".
"Pakkkk.... Kau boleh hina aku, tapi jangan pernah hina Karaku. Hidup remajanya sudah hancur karena hutang kita berdua. Kau bilang Apa? Kara seorang mawar hitam? bagaimana bisa kau bilang dia seperti itu? Karena hutangmu untuk membeli sesuatu yang berharga pada dirinya pun tidak bisa. Di sekolah saat semua orang sudah mahir dalam teknologi, Karaku tidak memiliki ponsel, jangankan miliki ponsel membayar iuran sekolah saja Dia harus bertahan bekerja dengan gaji tiga ratus ribu rupiah per bulan"
"Itu pun kalo tidak ada tuntutan hutang kita. Sedangkan uang satu juta perbulan dari hasil kerjanya, dia gunakan menutup semua hutang kita. Apakah gadis yang melindungi kamu seperti Kara, hanya demi melindungi nama baik kita berdua, Dia rela mengorbankan masa mudanya demi hutang kamu", Suara bibi Kara sudah berubah dengan suara gementar dan kristal yang tertahan di kedua bola mata itu. Kini bercucuran di kedua pipinya.
"Bagaimana mungkin Kau bilang Karaku seorang gadis mawar hitam?" Suara tekanan dari Bibi kara di setiap kalimat itu yang sudah di liputi tangisan keras. Bibi Kara mendekat ke tubuh pamanya lalu memukuk-mukul bidan dada lelaki yang ada di hadapanya dengan tangisan.
"Mengapa Kau tega? mengapa? MENGAPA?" Wanita paru baya itu jatuh tersungkur di kaki Eddy sambil terus menangis histeris.
Tak terasa kristal air mata Kara pun ikut terjatuh mendengar semua ucapan kasar paman pada dirinya. Atan yang ikut kaget atas ucapan bibi Kara melirik gadis yang ada di sebelahnya itu . Kara menghapus air matanya dan tersenyum pada Atan.
" Terimakasih bos sudah mau mengantar aku, maaf membuat bos harus melihat masalah Paman dan bibi seperti ini", Ucap Kara sambil tersenyum paksa walau kedua bola matanya sudah di penuhi kristal mata yang sebentar lagi akan mencair menjadi hujan yang deras.
Atan terus menatap Kara dengan tatapan berbeda, kedua bola matanya terus melihat bola mata Kara yang ikut menatapnya. Kara yang merasa tidak nyaman mengalihkan pandanganya dari tatapan kedua bola mata Atan.
" Maaf saya permisi dulu, tambah kara sambil menahan air matanya, namun saat Kara membelakangi Atan dengan satu langkah kaki Kara ke depan. Tiba-tiba terhenti saat Atan mencekal pergelangan tangan kiri Kara. Atan menarik kara pelan dengan sangat lembut dengan pungung Kara yang masih membelakangi Dirinya.
Tarikan Atan sangat lembut tapi pasti hingga kedua punggung Kara tertempel di bidan dada Atan. Lingkaran kedua tangan Atan di pinggang ramping Kara dengan sangat lembut. dan Dia mengeratkan kedua tangannya di pinggul Kara. Sambil menaruh dagunya pelan sangat lembut di bahu kanan Kara.
" A...pa yang bos lakukan?"
"Diamlah sebentar.... aku hanya ingin menenangkan kamu, aku tahu kamu lagi sedih, sebagai bos yang baik, aku akan memperlakukan kamu seperti ini, walau ini terasa aneh tapi aku ingin melindungi kamu malam ini"
"Jika kamu ingin menangis, menangislah dan pegang kedua tanganku yang ada di perutmu ini. Entah mengapa Atan merasakan sesuatu dari dalam hatinya saat ini. Namun perasaan Atan saat ini bukan perasaan kasihan melainkan perasaan yang sangat berbeda. Entah itu apa yang jelas Atan hanya mengikuti kata hatiNya saja.
Bersambung.