
Reno yang melihat tangisan ketulusan dari Kara, memutuskan bangkit dari tubuh Eddy yang sudah lemah di bawah sana.
Pria tampan dengan sedikit goresan luka di bibir dan wajahnya serta, kaos dalam birunya yang sudah bercampur dengan cairan merah, di sekitar baju itu, di mana itu tidak lain adalah darah dari Eddy.
Melangkahkan kakinya pelan mendekati gadis yang sedang menangis di bawah sana, Reno menjonggkokan tubuhnya sesuai posisi Kara, lalu Ia menatap dalam gadis yang sedang menangis di hadapanya itu. Di mana gadis itu menundukan kepala melihat ke arah lantai, dengan isyakan tangis air mata yang bercucuran membasahi beberapa kotak lantai keramik di depanya. Reno menyentuh lembut dagu gadis itu lalu menaikan ke atas yang menghadap dengan wajahnya.
Terlihat jelas kedua bola mata Kara terus-menerus bercucuran butiran bening membasahi kedua pipinya. Kedua Tangan Reno berpindah menyentuh ke pipi Kara dengan sangat lembut lalu ibu jari Reno menghapus butiran bening yang ada di pipi Kara. Sambil menatap Kara dengan mata yang sangat sendu, Entah mengapa hati Reno begitu sakit saat melihat air mata Kara, yang tiada hentinya ke luar dari kedua mata itu dengan tatapan Kara yang begitu dalam.
"Jangan menangis. Maafkan aku karena datang terlambat", Ucap lirih Reno sambil terus menghapus lembut air mata yang terus menerus bercucuran dari dalam bola mata yang indah itu.
Kara hanya diam Lalu Ia memalingkan tatapanya ke arah lain. Reno melepaskan sentuhan tangan dari wajah Kara sambil berdiri dan membantu Kara ikut berdiri, setelah berdiri Reno secepatnya membawa Kara ke luar dari rumah itu. Sebenarnya Reno masih ingin memberi pelajaran pada Eddy. Namun karena di halang oleh Kara, jadi Ia mengurungkan niatnya. Lagi pula bagi Reno keselamatan Kara lebih penting baginya, walau sebenarnya Ia masih belum puas dengan membuat lelaki ****** itu babak belur dan berlutut meminta maaf pada Kara.
Namun Ia akan membalaskannya nanti setelah mengantar Kara ke
tempat yang aman.
"Ren. Terimakasih...terimakasih. Maafkan aku sudah membuat kamu harus terlibat dalam situasi ini", tutur lirih Kara saat Reno hendak menuntunya melangkah pergi ke arah mobil Reno.
"Kamu ngomong apa? justru ini adalah urusanku Kara. Oh ya kamu tidak apa-apa kan? mana yang luka beri tahu aku?" jawab balik Reno sambil memegang lembut kedua punggung Kara dengan melihat seluruh tubuh Kara kekewatiran jelas ada di wajah Reno.
"Aku tidak apa-apa Ren. Terimakasih....terimakasih", seru balik Kara masih dengan nada yang lembut saat menatap Kedua bola mata Reno.
Saat Reno masih memegang kedua punggung Kara Ia merasakan sesuatu di kedua punggung gadis itu. Reno menatap punggung Kara yang masih di pegaang oleh kedua tanganya, lalu pelan-pelan Reno melepaskan tangannya dari tubuh gadis itu, dan tatapannya berpindah pada punggung Kara, Ia melihat potongan baju di punggung Kara di sana. Kulit mulus gadis itu ada luka -luka akibat cengkraman tangan lelaki tua itu yang sangat kuat.
"Kau? bilang tidak ada apa-apa, lalu ini apa?" Ucap Reno dengan kecemasan di wajahnya.
Kara sedikit meringgis kesakitan saat Reno menyentuh lukanya.
"Ini hanya luka biasa Ren. Nanti juga sembuh sendiri", ucap lirih Kara untuk menenangkan Reno agar jangan menghwatirkan dirinya.
"Bagaimana ini luka biasa? lalu apa ini? Si ****** itu....", gigitan keras pada giginya yang membuat tulangnya membentuk lagi pada wajah yang penuh emosi itu. Saat Reno hendak melangkah ke dalam untuk memberi pelajaran lagi pada Eddy, Kara secepatnya mencekal keras lengan Reno lalu berkata lembut.
"Ren jangan, biar bagaimana pun Dia adalah Pamanku. Dan pria yang sangat dicintai Bibiku. Aku tidak mau melihat bibi sakit hati lagi untuk kedua kalinya."
"Dasar ******", Reno menahan keras gigitan pada giginya dengan emosi yang membara.
"Ren. Ku mohon...", Ucap Kara kembali dengan air mata yang tidak bisa dibendung dari rasa sakitnya. Membuat kristal-kristal itu menjadi cair dan membasahi kedua pipi mulusnya. Yang terluka di mana tanda telapak tangan Eddy membekas di sana.
Perkataan Kara membuat Reno diam sejenak dengan emosi yang terlihat jelas di matanya. Ia pun memutuskan tidak memberi Eddy pelajaran. Reno kembali melihat kedua tangan Kara yang di katup saat tadi memohon padanya dengan tetesan butiran itu di kedua tangan gadis itu. Reno memegang kedua tangan Kara tersebut sambil tangannya yang satu berpindah pada wajah mulus Kara dengan menghapus air mata Kara .
Tatapan Reno begitu dalam pada gadis itu seakan Ia merasakan apa yang dirasakan gadis itu saat ini. Reno kembali melepaskan tangan dari tubuh Kara sambil melepaskan jaket kulit yang Ia kenakan di tubuhnya lalu, Reno kembali menutupi tubuh gadis itu dengan jaketnya. Kara terus menatap Reno di saat pria yang ada di hadapanya itu sibuk membaluti tubuhnya dengan jaket.
:
:
:
Di waktu yang bersamaan Satu mobil Viraleal hitam berhenti dengan jarak yang jauh dari mobil Reno. Tepat di depan halaman rumah Kara, Walau jaraknya jauh dari halaman rumah Kara, sebuah sendal kamar pria berwarna putih menginjak di tanah, saat pintu penumpang mobil Viralel sudah terbuka. Pria itu berdiri di depan mobil yang baru diturininya itu, dan pintu mobil pun kembali tertutup. Atan melihat mobil mewah yang ada di hadapanya itu dengan berbagai pertanyaan datang di otaknya.
"Mobil siapa ini? ko ada di halaman rumah Kara?" Ucap Atan saat kakinya melangkah ke depan untuk menghindar dari mobil itu, dan Atan kembali mengangkat kedua bahunya sambil memutarkan wajah ke depan rumah Kara.
"Deg..."
"Deg..."
Tatapan wajah Atan yang bingung sendiri dengang mobil itu, berubah menjadi tatapan tajam pada apa yang di lihatnya. Di mana Kara dan Reno saling berpelukan. Terlihat jelas remasan yang sangat kuat pada jari-jemarinya hingga, urat-urat pada pergelangan tanganya membentuk. Dengan gigitan keras pada gigi-giginya seakan semua gigi itu mau ke luar dari dalam mulutnya.
**Bersambung**.
Jangan Lupa tekan like, komen, dan berikan bintang, Terimakasih🙏😊❤🤗