
Saat melihat Dokter Diah yang sudah menghilang dari hadapan Atan dan Kara. Kemudian Atan ikut melangkah menyusul Dokter Diah di luar. Atan menghampiri Dokter Diah dan bertanya soal ucapanya pada Kara. Awalnya Dokter Diah tidak menghiraukan kata-kata Atan namun, Karena terus di paksa oleh Atan akhirnya Dokter Diah menyempatkan waktunya sebentar mengobrol dengan Atan.
"Luka pada bagian di beberapa tubuh gadis itu merupakan luka cengkraman dari tangan seorang lelaki yang mungkin mencoba menodai dirinya. Karena Dia menolak jadi sang pelaku mencengkram leher, dan tanganya pada saat Dia yang mencoba melawan", Jelas Dokter Diah pada Atan dengan menatap kembali Atan.
" Wajahnya bengkak , kedua matanya sembab yang berarti semalaman di hanya menangis meratapi nasibnya, kedua tatapanya kosong, seperti trauma, mungkin gadis itu sudah mengalaminya sejak lama. Untungnya ada yang menolongnya jadi bunga kembangnya masih murni"
"Apakah jawabanku jelas? Kalo jelas maka aku pergi", Ucap Dokter Diah sambil melangkah kembali mengurus pasien yang ditinggalinya di ruang rawat. Karena Atan tadi datang memaksa dan butuh penjelasanya. Walau sudah di larang oleh perawat tapi Atan tetap memaksa, yang membuat Dokter Diah sendiri yang harus turun tangan karena takut Atan membuat masalah di rumah sakit dengan sikap keras kepalanya.
"Terima kasih Dokter Diah, Terima kasih untuk waktunya", Ucap Atan sambil menatap dokter Diah yang sudah melangkah pergi meninggalkan dirinya. Walau dokter Diah sempat menghentikan langkahan kakinya saat mendengar ucapan Atan dan kembali berucap,
"Berterima kasihlah pada orang yang sudah menolong gadis itu", ucap dokter Diah lalu kembali melangkah menghampiri pasienya yang sudah menunggu di ruang rawat. Sedangkan Atan hanya melihat punggung belakang Dokter Diah hingga menghilang dari tatapannya.
Atan kembali melangkah pergi menghampiri Kara yang masih menunggu di lorong rumah sakit. Atan dan Kara pun kembali ke luar rumah sakit dan masuk ke mobil yang ada di Lobi. Mobil di lajukan pergi, dalam perjalanan Kara masih bertanya lagi pada Atan,
"Mengapa kamu bawa aku ke rumah sakit? Aku tidak apa-apa jadi....", Perkataan Kara di potong oleh Atan saat Atan yang tiba-tiba menghentikan mobilnya di tengah jalan.
"Gue lakukan ini bukan kerena gue suka sama lo, tapi gue hanya ingin memastiin apa yang membuat Reno begitu belain lo", Ucap Atan sambil menatap Kara yang ikut menatapnya.
" Maksud kamu? Maaf maksud aku bos", Tanya Kara dengan menjelaskan perkataanya yang salah sebut nama Atan. Kara memgetahui benar kalo Atan akan marah jika Kara memanggil dirinya tidak dengan sebutan bos.
"Tidak apa-apa, mulai sekarang lo boleh panggil gue bebas. Dan mulai sekarang Lo adalah salah satu orang pentingku", Seru Atan dengan menatap dalam Kara tanpa sadari Atan sudah sedikit mengatakan isi hatinya.
Keduanya saling menatap satu sama lain dalam beberapa detik, dan suasana semakin canggung dengan perkataan Atan yang barusan. Kara yang merasa aneh dengan sikap Atan mengerutkan dahinya saat menatap pria yang juga sedang menatapnya. Kini jantung Kara berputar sepertk kincir angin yang sangat kencang dari detak normalnya.
"Apa maksud dari perkataanya? Apakah Atan menyukaiku? Tidak-tidak Kara mungkin karena suasana panas jadi dia tidak sadar dengan perkataanya", Batin Kara.
Keduanya saling memandang satu sama lain dan berada di pikiran mereka masing-masing.
Atan kembali melajukan mobilnya pergi sedangkan Kara grogi dengan terus merapikan rambutnya yang tidak berantakan.
Atan dan Kara menuju sebuah perumahan yang asing bagi Kara karena sebelumnya Atan memerintah sekertaris kepercayaan Ayahnya mencari kontrakan untuk Kara dan juga Bubinya, sebenarnya Atan memerintah mata-mata untuk menemui Bibi Kara dan menceritakan semua pada Bibi Kara.
Namun saat mata-mata itu sampai di rumah lama Kara, di sana Bibi Kara sudah mengeluarkan semua barang-barangnya dan barang-barang Kara yang lain yang belum ke bawa sama keponakanya. Wanita Paru baya itu sudah mengetahui sikap suaminya itu melalui Reno.
Awalnya Ia tidak percaya tapi, Saat ia mencari barang-barang Eddy di kamar saat Eddy pergi berobat di rumah sakit. Dia menemukan hasil dari gambar foto Kara yang di simpanya di bawah kasur. Di foto tersebut semua gambar Kara mulai dari Ia tunduk memgambil ikan, mencuci pakaian saat duduk, tidur dan gambar mulus paha Kara serta foto Kara saat Ia bertukar pakaiaan di ruang ganti tempat jualan mereka.
Bibi Kara manangis histeris di dalam kamar sambil memeluk semua foto itu di dadanya. Ia masuk ke kamar Kara melihat semua pintu lubang yang ditutupi oleh handuk di lipat kecil-kecil menutup memanjang, dan kamar mandi yang diberi tiga gembok kunci serta jendela kamar mandi yang dialas dengan potongan papan seukuran dengan jendela tersebut. Serta kursi-kursi yang di kamar mandi. Wanita itu menangis semakin histeris di kamar mandi sambil memukul-mukul dirinya dan berkata,
" Selama ini Dia selalu hidup dalan semua tekanan batin itu, pasti sangat sulit baginya melewati semua ini? Kara....maafkan Bibi...Bibi dibutakan cinta oleh pamanmu tanpa melihat penderitaan kamu"
"Kamu pasti sangat ketakutan tinggal di sini, dan pasti Kamu selalu dihantui ketekanan batin itu...aku Bibi yang tidak berguna.....", Suara tangisnya semakin menjadi dan semakin keras. Hingga akhirnya Ia kembali ke ke kamar membereskan barang-barangnya dan barang- barang Kara lalu melangkah pergi mencari tempat tingal baru dan di situlah sang mata-mata Atan membawanya ke kontrakan yang sudah di sewa oleh sekertaris kepercayaan Ayah Atan atas perintah sang pangeran muda.
***BERSAMBUNG.
jangan lupa like, komen dan vote serta saran terima kasih🙏🙏***