
Kemarahan Kara.
Atan yang melangkah santai ke depan dan terus menatap Kara. Saat Atan melangkah tiba - tiba-tiba di depan Kara sudah beridiri Rani yang sengaja menghalangi jalan Atan.
" Jika Kamu ingin mengajari Reno cara melepaskan rindu, maka lakukanlah itu dengan aku. "
" Aku adalah pacar Kamu, lakukan itu dengan aku bukan dia, si penghianat itu, " ucap Rani pada Atan.
Rani berucap dengan tatapan tajamnya pada Kara sebentar Dan kembali menatap dalam Atan. Atan yang mendengar ucapan Rani meremasi jari-jemarinya kuat di bawahanya sana.
" Apa maksud Kamu? minggirlah aku tidak mau bertengakar dengan Kamu, " jawab Atan pada Rani.
Atan yang berucap menatap Rani lalu tangan Atan sedikit mendorong tubuh Rani ke samping.
" Tidak aku tidak mau Tan. Jika Kamu ingin mencium, lakukanlah itu bersamaku bukan babu ini! " teriak Rani sambil menatap tajamnya Atan.
" Cukup Rani. Apa kamu bisa bedakan situasi ini? Aku menciummu karena aku mencintaimu, namun ini berbeda dengan Dia. "
" Aku mencium Kara karena aku ingin menunjukan derajatnya pada Reno, gadis seperti dia tidak pantas untuk dihargai, " tutur Atan menatap tajam Rani.
" Bagiku Dia adalah boneka mainanku, " ucap Atan menatap tajam Kara.
Atan berucap dibibirnya tapi hati Atan menolaknya. Sebenarnya Atan tidak mau berucap seperti itu tapi karena ia harus berpura-pura agar Rani percaya padanya.
Dalam hati Atan ia terus menyalahkan dirinya berulang-ulang.
" Maafkan Aku Kara, Jika Ini menyakitimu, tapi Inilah satu-satunya cara agar aku bisa melindungi Kamu, " batin Atan.
Rani yang mendengar ucapan Atan terdiam, IA pun akhirnya memutuskan untuk mempercayai ucapan Atan.
" Apa Atan mencintai Aku? Ini bukan mimpi, 'kan. Jika Atan berani berucap seperti itu dibanyak orang maka itu tandanya Atan benar-benar mencintaiku, " gumam Rani dalam hati.
Setelah berpikir beberapa menit akhirnya Rani, menggeserkan tubuhnya ke samping Dan membuka jalan bagi Atan untuk menyampari Kara. Atan yang melihat Rani menggeserkan tubunya sendiri tersenyum tipis, lalu Atan melangkah santai menghampiri Kara.
Saat Atan melangkah Rio berucap sebentar ke Atan. " Atan Apa kamu... sudah? "
" Percayakan semuanya pada Atan, Dia pasti punya alasan tersendiri melakukan ini, Kara adalah gadis yang sangat dicintai Atan, " ucap Fandi menenenangkan Rio.
Sebenarnya komplotan Atan sudah mengetahui kalo Atan menyukai Kara. Hal itu mereka Ketahui ketika Atan di luar Negri meminta mereka menjaga Kara selama Atan tidak di samping Kara.
Rio yang mendengar ucapan Fandi melirik Fandi sebentar, saat Rio melirik Fandi dengan tatapan pertanyaannya, Fandi mengedipkan kedua matanya yang Berarti semua akan baik-baik saja.
Di sisi lain Atan yang mendengar ucapan Rio, ia tidak menjawabnya melainkan Atan menghiraukan ucapan Rio dan kembali fokus melangkah menghampiri Kara.
Reno yang melihat Atan sudah di depan Kara ingin mengehentikan aksi Atan yang ingin mencium Kara. Namun niat Reno diurungkan saat ia melihat sikap Kara yang sangat berbeda pada Atan dari biasanya.
Atan yang sudah di depan Kara, Ia menatap Kara begitu dalam pada gadis yang sangat Ia rindukan itu, ingin rasanya Atan melepaskan rencananya yang sudah ia sepakati bersama Ayahnya dan langsung memeluk Kara, lalu berkata bahwa Ia sangat merindukan Kara, tapi ia mengurungkan niatnya itu karena itu demi kebaikan Kara. Atan mulai aksinya menarik tubuh Kara mendekat dengan dirinya, tangan Atan yang mulai mau menyentuh wajah Kara, tiba-tiba tiba.
" Pak...., " sebuah tamparan keras dari tangan Kara yang dilayangkan kuat pada wajah Atan.
" Kamu.... Berani...? " ucapan Atan terhenti saat melihat genangan air di kedua bola mata Kara. Tatapan kosong Kara dengan tatapan yang tajam namun penuh dengan kristal mata yang mulai mengalir sedikit demi sedikit membasahi kedua pipi Kara.
" Selama ini aku berusaha percaya pada perasaanku, perasaan yang membutakan kedua mataku. Aku pikir dia yang aku cintai pasti akan mencintai aku, tapi aku salah dan sepertinya tidak. "
" Dia selalu menjadi prioritasku di setiap masalah hidupku, tapi tidak kali ini, kali ini aku sadar bahwa dia adalah pembawa luka, di dalam garis hidup kami, ada pintu-pintu pintu yang tidak bisa aku lewati, yaitu berharap cintaku padanya bisa dibalas. "
" Aku bukan bonekamu... dan aku bukan wanita seperti yang ada dipikaramu itu..., " ucapan Kara penuh tekanan dengan tatapan tajam pada Atan.
Kara berucap dan terus menangis keras, Kara tidak bisa menahan tangisnya, ia tida bisa terus tersenyum sedangakan hatinya hancur. Setelah berucap Kara kembali menatap tajam Atan yang terpaku menatap Kara begitu dalam.
" Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan padaku dan keluargaku, kali ini Aku KARA tidak takut lagi pada kekuasaan kesombongan kamu itu !" ancam Kara dengan deraiaan air mata lalu Kara melangkah pergi meninggalkan Atan.
Reno, Rani, Rio yang melihat tamparan Kara, mereka semua melototkan mata mereka. Karena ini pertama kali bagi mereka melihat kemarahan Kara dan tamparan dari seorang Kara. Sedangkan Atan yang mendengar ucapan Kara bagaikan sebilah pisau tajam yang mencabik-cabik hatinya menjadi sayatan kecil dengan luka yang sangat menyakitkan.
Atan memutar tubuhya menghadap ke tempat duduknya. Lalu Atan kembali melangkah dan tidak terasa air mata Atan mulai berbicara.
Melihat air mata Atan menetes Rani menatap Atan, dengan kwatir sambil berucap pada Atan.
Tangan Rani mencekal lengan Atan saat Atan melangkah cueki dirinya.
" Apa kamu baik-baik saja? " ucap Rani kwatir.
Tanpa menjawab ucapan Rani Atan melangkah meninggalkan Rani, dengan menepis tangan Rani dari lenganya. Dan terus melangakah. Fandi dan Rio yang melihat sikap Atan mereka hanya diam.
" Ini pertama kali gue lihat seorang Atan meneteskan air matanya, " ucap pelan Rio pada Fandi.
" Lo benar ini pertama kali gue lihat dia menangis dan melangkah seperti orang yang kehilangan hidupnya, " sambung Fandi.
Rio dan Fandi berucap sambil menatap Atan yang terus melangkah ke tempat duduknya. Saat Atan sudah di kursinya, Atan menarik kursinya dan duduk. Setelah duduk Atan menidurkan kepalanya di atas tumpuan meja dengan kedua tanganya sebagai alas bantal.
Rani yang melihat Atan melangkah menghampiri Atan untuk menghiburnya, saat Rani melangkah tiba-tiba tiba lenganya di cekal oleh Rio,
" Biarkan dia sendiri, setelah tenang baru lo hampiri dia, " ucap pelan Rio menatap Rani.
Rani yang mendengar ucapan Rio melirik ke Rio, dengan tatapan pertanyaan. Fandi yang mengerti tatapn Rani berkata lagi,
" Gue tahu apa yang lo kwatirkan, tapi kita tahu benar bagaiman sikap Atan, biarkan dia sendiri setelah dia merasa baikan lo boleh hibur dia. "
Rani yang mendengar ucapan Fandi terdiam lalu, ia melihat ke arah Atan selama beberapa menit setelah menatap Atan Rani kembali melirik ke lenganya yang masih digengam oleh Rio. Rio yang mengerti lirikan Rani secepatnya melepaskan tangannya dari lengan Rani.
" Ini pertama dan terakhir lo sentuh gue, tubuh gue hanya boleh disentuh oleh Atan bukan yang lain termasuk lo. "
" Apa...? "kaget Rio.
" Lagian lo bukan tipe gue, " ucap Rani menatap tajam Rio dan melangkah pergi meninggalkan Rio dan Fandi tanpa menjawab perkataan singkat Rio.
" Dia pikir gue suka sama dia? ahhh.. dasar gadis kepedean, untung dia adalah pacar pura-pura Atan jika tidak sudah gue sadarkan kepedeannya itu, " kesal Rio pelan pada Fandi.
" Hiraukan ucapanya anggap saja angin yang berlalu, sekarang tugas kita fokus pada Atan dan rencananya, " ucap Fandi memenangkan Rio.
Bersambung.