
Setelah Fandi dan Rio yang berucap akhirnya, mereka pun ikut melangkah menghampiri Atan. Namun mereka tidak berani menatap Atan karena mereka tahu saat ini mud Atan buruk. Jelas jika mereka menegur atau menyapa Atan, maka merekalah yang akan mendapat masalah. Kedua sahabat itu memutuskan untuk kembali duduk di kursi mereka masing-masing.
Rio duduk di bangku Atan yang sebelumnya duduk dengan Kara, sedangkan Fandi duduk dengan Atan namun tidak berani menegur Atan seperti biasanya. Keduanya duduk diam, tanpa berkata sepatah kata pun mereka hanya fokus pada buku yang ada di atas tumpuan meja mereka masing-masing
🌷🌷🌷🌷
Di sisi lain Kara yang tadi ke luar kelas duduk, dan menangis di belakang taman. Di sana Kara ditemani oleh Sanya yang tadi sempat melihat Kara menangis saat keluar dari kelas.
" Jangan sedih, angap saja ini sebuah cobaan yang harus lo hadapi, " ucap Sanya menenangkan Kara yang menangis di bawah sana di dalam pelukan Sanya.
" Jika lo mau menangis dan berteriak, teriaklah selama itu membuat diri lo lebih baik. Aku akan selalu ada si sisi lo, ' hemm..."
Sanya berucap sambil menenangkan Kara yang masih menangis, tanpa berucap sepatah kata pun sejak tadi. Setelah menangis beberapa menit Kara mulai melepaskan pelukanya dari Sanya dan mengatur suaranya agar tidak terdengar aneh saat dia memulai percakapan dengan Sanya.
" Makasih San. Untuk hari ini maaf aku merepotkan kamu lagi, " ucap Kara menatap dalam Sanya.
" Sama-sama. Ngak apa-apa, 'kan kita adalah sahabat? Sebagai sahabat aku akan selalu mendukungmu, " jawab Sanya tersenyum pada Kara sambil menghapus kristal mata yang masih mengalir di pipi Kara.
Saat keduanya saling membalas tatapan dengan senyuman, saat itu mereka tidak sadar kalo Reno lagi memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Yang juga diikuti Chiko sedang menatap keduanya dengan Reno tanpa sepengetahuan Reno. Sebenarnya Chiko diperintah oleh Atan melihat kondisi Kara saat tadi dia membaca pesan masuk dari Atan padanya.
Saat Kara dan Sanya yang masih terdiam dengan tatapan satu sama lain dalam beberapa menit, mereka di kagetkan dengan panggilan masuk dari ponsel Kara. Kara yang kaget dengan getar ponselnya. Kara langsung menatap sebentar Sanya lalu Ia mengambil ponselnya dari saku seragam sekolahnya. Kara kaget saat melihat nomor yang menelponya adalah Bibinya.
" Bibi? tidak biasanya Bibi menelpon aku saat jam sekolah, " batin Kara.
" Siapa Kar? 'kok ekspresi lo berbeda? " tanya Sanya penasaran.
" Oh ini bibi aku, " jawab singkat Kara. Sambil fokus pada layar ponselnya kembali setelah melirik Sanya sebentar.
" Ohh... Ambil atu, mungkin ada hal penting, " tutur balik Sanya.
" Yah San, " jawab Kara balik.
Setelah Kara menjawab perkataan Sanya, Kara menggeser layar ponsel di tombol hijau ke atas, untuk diangkat telpon dari Bibinya itu. Sedangkan Sanya duduk menatap penasaran pada Kara.
" Halo...! Bi... " ucap Kara di balik benda pipi yang ada di telinganya dengan nada suaranya yang lembut namun agak serak.
" Baca pesanku, " tutur suara seorang lelaki secara singkat dari ponsel Kara.
Kara yang mendengar ucapan suara itu seperti tidak asing baginya, saat Kara ingin bertanya lagi panggilan sudah dimatikan.
" Apa? Maaf...halo... halo"
" Tut... tut... tut..., " bunyi suara pangilan yang menandakan panggilan sudah diputuskan.
Ekspresi Kara mendengar bunyi suara panggilan di matikan itu. Ia begitu bingung, dan menjadi cemas sendiri. Kara tahu persis siapa suara itu yang tidak lain adalah pamanya.
" Itu adalah suara paman. Tapi dari mana paman tahu alamat rumah aku sama Bibi? Bibi.... " batin Kara bergumam dengan sedikit kecemasan.
Kara yang menyebut nama bibinya, secepatnya Kara membuka isi pesan masuk yang di maksud Eddy. Di sana tertulis nama Eddy yang memerintah Kara segera pulang ke rumah kontrakan baru mereka jika ingin Bibinya selamat.
" Gadis tengil pulanglah sekarang, jika kamu ingin bibimu selamat, " isi pesan dari Eddy.
" Apa maksud paman? apa paman.... "
tanpa pikir panjang Kara segera bangkit pergi meninggalkan Sanya. Sebelum pergi Kara berpesan pada Sanya menitipkan tasnya di kelas.
" San. Aku titip tasku di kelas. Tolong bawakan tasku pulang, aku pulang dulu, " ucap Kara pada Sanya dengan nada suara yang tergesa-gesa.
" Apa maksud kamu Kar? apa ada hal buruk terjadi pada Bibimu? " tanya penasaran Sanya.
" Apa? Pulang? tapi Kara, " suara Sanya masih dengan pertanya dan sedikit berteriak. Tapi sayang Kara tidak mempedulikan suara Sanya. Kara terus berlari kencang ke luar dari halaman lingkungan sekolah, pikiran Kara saat ini hanya tentang apa yang terjadi pada bibinya.
Kara berlari begitu kencang dari lorong, taman sekolah. Hingga ia keluar dari area sekolah, Kara menahan taksi yang kebetulan lewat dan memerintah taksi tersebut pergi ke alamat rumahnya. Sedangkan Sanya menatap Kara yang sudah pergi. Saat dirinya menyusul Kara ke luar area sekolah. Namun sayang Sanya tidak sempat bertemu dengan Kara karena Kara lebih dulu naik taksi.
" Apa yang terjadi ? Kenapa Kara begitu kwatir dan cemas? " batin Sanya cemas. Sanyabergumam sambil terus menatap taksi yang di tumpagi Kara semakin jauh, dan menghilang dari tatapan Sanya.
🍁🍁🍁🍁
Selama tiga puluh menit Kara dalam perjalan pulang ke rumah kontrakan. Akhirnya Kara tiba di halaman rumah mereka, Kara segera bayar uang ongkos taksi dan ia segera, Menghampiri Bibinya. Kara yang berlari begitu keras langsung membuka gerbang rumah. Dan kembali Kara berlari sekencang mungkin ke depan pintu. Saat Kara tiba di depan pintu, Kara sangat syok dimana Pamanya atau Eddy yang menghukum terus - menerus Bibinya yang sudah dipenuhi lumuran darah di bawah lantai.
" Bibi.....! " teriak Kara dari pintu masuk melototkan kedua bola matanya dengan sangat kaget.
" Jangan hukum Bibiku? " ucap Kara dari pintu yang sengaja tidak dikunci oleh Eddy. Dan Kara lari masuk menghampiri Pamanya.
Di sana terlihat wajah Ana sudah di penuhi lumuran darah, matanya yang satu tidak bisa dibuka karena bengkak. Kara berlari mendorong keras tubuh Eddy hingga ia terjatuh ke lantai.
" Paman....! Hentikan! " teriak Kara saat dirinya masuk dan mendorong tubuh Eddy.
Dorongan Kara begitu keras yang membuat Eddy jatuh dan tersungkur keras di lantai, kepala Eddy sedikit terbentur di keramik rumah. Di sisi lain Kara menatap Bibinya yang sudah tidak berdaya dan lemas di bawah sana.
" Bibi... bibi baik-baik saja, 'kan? " tanya kwatir Kara sambil menatap Ana yang wajahnya sudah bercucuran air mata.
" Cepat lari... Dia akan membunuh kamu, kenapa kamu kemari, 'haa? " teriak Ana dengan tatapan yang tajam pada Kara.
Saat Ana yang memarahi Kara karena Kara di rumah, tiba-tiba tiba Eddy bangkit dari lantai. Ia memegang jidadnya yang sedikit berdarah akibat terbentur ke lantai tadi. Eddy meringis keras gigi-giginya di dalam sana dengan tatapan tajam, lalu Eddy memutar tubuhnya dan menatap tajam pungung belakang Kara yang membelakangi dirinya.
" Dasar bocah! beraninya kamu! " ucap Eddy dan merenggut kuat rambut Kara hingga gadis itu kaget dan jerit dengan keras karena kesakitan.
" Ahhhhh.... sakit paman? " suara jeritan Kara di bawah sana sambil, memegang tangan Eddy yang sedang meringis rambut panjang dia.
" Lepaskan keponakanku ! aku bilang lepaskan keponakanku ! " seru Ana menatap tajam Eddy.
Eddy yang mendengar teriakan Ana memutar tubuhnya, dengan wajah yang membara emosi. Eddy melepaskan rambut Kara lalu ia menatap tajam Ana yang juga sedang, menatapnya dengan memegang sebuah botol kaca di tanganya.
" Sudah cukup kau hukum dia selama ini, aku dari tadi diam Karena kau mengancamku, tapi kali ini aku tidak takut sama kamu lagi mas! "
" Aku akan habisi kamu jika kamu berani, menyakiti keponakanku...! " ancam Ana menatap tajam Eddy.
" Kau mau melawanku? Apa kau berani wanita sampah? "
" Bibi...! " teriak Kara.
Teriak Kara saat melihat bibinya yang sudah di aniaya kembali oleh Eddy.
" Akan aku lenyapkan kamu ! " ucap Eddy sambil terjang tubuh Ana yang memegang botol dan tubuh Ana langsung jatuh tersungkur ke lantai.
" Paman hentikan! Aku mohon... Bibi....! " suara tangis isyak dari Kara, sambil mengatup kedua tanganya dan berlutut memohon di bawah kaki Eddy saat melihat Eddy yang terus menerus menganiaya Ana di bawah sana.
" Bibi.....! " tangis isyak Kara lagi terus menerus.
" Kara pergilah! Jangan di sini, pergi...! " perintah Ana pada Kara yang masih menahan setiap gemparan Eddy.
" Tidak Bi. Tidak. "
" Aku bilang diam...! " ringis Eddy.
Bersambung.