
Saat pulang sekolah suasana sekolah yang sudah sepi. Hanya ada beberapa murid yang masih nongkrong di parkiran. Melangkahlah seorang wanita cantik, berambut sedikit pirang yang di biarkan terurai dengan ponis rambut di dahinya, yang masih lengkap dengan seragam sekolah.
Menemui seorang pria yang memakai masker hitam, topi hitam, dan sepatu hitam. Di parkiran lobi sekolah, yang di kuhsuskan untuk mobil. Lelaki yang berusia sama dengan Atan. Matanya bulat, kulitnya putih,terlihat tidak kalah tampan dengan Atan, walau ketampanan masih Atan yang menang. baru turun dari sebuah mobil mewah Alphard hitam, wanita itu adalah Rani.
"Lo ngapain suruh gue ke sini?", tanya pria itu saat Ia melepaskan masker dari mulutnya.
"Ngak sabaran bangat 'si lo", dengus Kara.
"Gue lagi banyak urusan, kalo tidak penting gue mau pergi"
"Ok. Karena lo maksa gue langsung ke pokok masalahya", ucap Rani yang berdiri santai sambil menatap serius pria tersebut.
"Malam ini Atan akan ajak gue, Kara dan teman gengnya entah berapa jumbalah, yang pasti kami akan makan di salah satu kafe yang tidak jauh dari beskem The Black", Ucap Rani sambil mengambil sepuntung rokok dari tangan pria itu.
"Terus?" bingung sang pria dengan mengerutkan dahinya.
"Gue mau lo perintah geng The Black mengacaukan makan malam ini", Dengan santai Rani membakar rokok yang sedang dijepit di bibirnya itu.
" Jangan bilang ini ada hubunganya dengan si cantik Kara?" tanya pria itu lagi.
"Jika sudah tahu tujuan gue, lakukanlah seperti perintah gue, dan gue juga pasti akan memberikan apa yang lo mau",ucap Rani sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Baiklah anggap saja kita impas", gue tau maksud lo yaitu menjebak Kara , senyum miring diukir dari bibir pria tersebut sambil melooskan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Rani.
"Kenapa lo mau sakitin Kara? Hanya karena masa lalu, menurut gue Kara tidak salah dalam hal ini"
"Lalu kenapa lo mau sakiti Atan? hanya karena kekuasaan", kata Rani sambil membalas jabatan tangan dari tangan kirinya ke tangan kanan lelaki bertato tersebut, Karena tangan kananya sedang memegang rokok.
Pria itu diam mendengar perkataan Rani, dan dengan santai Dia menyembunyikan tangan dalam saku celananya, setelah mendapat balasan tangan dari Rani sambil kembali berkata.
"Gue akui kepintaran lo Ran. Tapi soal Atan itu berbeda dengan Kara dan gue anggap tujuan kita sama yaitu menghancurkan musuh kita"
"Gue hanya harap lo jangan sampai mengenal yang namanya CINTA"
"Karena jika lo sudah kenal CINTA? maka lo akan menjadi lemah", ucap pria itu saat menatap
Rani begitu dalam .
"Pria seperti Atan bukanlah tipe gue, lagian Dia adalah manusia monster. Mana mungkin cewe ada yang mau sama Dia saat mengetahui jati dirinya"
"Gue pegang kata-kata dari lo, Ingat lo hanya boleh lakuin balas dendam. Ini janji dari Lo sendiri, soal Kara serahkan pada gue", ucap lelaki bertato itu pada Rani dengan tatapan yang penuh arti.
" Lo tenang saja gue bisa tangung jawab dengan kata-kata gue sendiri", sahut balik Rani dengan percaya diri.
Lalu Ia menarik puntung rokok dari mulutnya, kembali menghembuskan ke udara, dan sisa puntung rokok itu di masukkan ke sampah yang sudah di sediakan di masing-masing parkiran lobi sekolah.
DELAPAN BELAS TAHUN YANG LALU....
Di sebuah rumah mewah terjadi pertengkaran yang hebat setelah sang nyonya Rumah mewah, atau istri dari seorang Direktur perusahaan Kuliner makanan yang ada di jakarta, saat Itu sang nyonya melahirkan Anak pertama mereka yang berjenis kelamin wanita. Mereka adalah Dody dan Lia, Ayah dan Bunda Rani.
"Apa maksud kamu mas? anak itu adalah darah daging kamu, putri kita mas, buah hati cinta kita, pinta Lia. Dengan wajah wanita yang masih lemas. Yang baru mempertaruhkan nyawanya melahirkan seorang anak ke bumi, namun tidak diakui oleh suaminya itu dengan deraiaan air mata membanjiri kedua pipinya*.
"*Apa kamu bilang? darah daging Aku?" saya memang suami kamu tapi ingat selama kita menikah, jangankan menyentuh tubuh kamu, mencium kamu pun tidak. Kita berdua menikah karena paksaan orang tua kita, bukan karena cinta, tegas Dody.
"Bagaimana mungkin kamu bilang itu anak saya", angkatan kedua bahu dari Dody yang tidak percaya kalo anak yang dilahirkan Lia adalah anaknya.
"Mas kamu lupa kalo waktu itu..."
"DIAM...teriak Dody dengan nada tinggi pada Lia. Kamu tahu kalo Devilah cinta sejatiku, Devi sedang bertaruh nyawa di rumah sakit* *melahirkan anak Kami"
"Apa anak kami!" kaget Lia.
"Kenapa? Kamu kaget?", Tanya Dody.
"Pokoknya sampai kapan pun Aku tidak akan mengakui anak itu sebagai putri Aku"
Bagaikan badai datang menghancurkan kehidupan keluarganya. Lia jatuh tersungkur di lantai keramik rumah berwarna coklat itu, tangisan Lia semakin menjadi, satu helaian kertas dilempar di wajah Lia, bahwa Dody. Lelaki yang sangat dicintainya menceraikan dirinya demi Devi atau Ibunda Kara*.
"*Ini adalah surat perceraiaan kita, Aku sudah tanda tangan, tinggal kamu saja"
"Apa! surat cerai mas! apa kamu gila mas!", ucap Lia sambil menunjukkan surat itu pada wajah Dody.
Namun Dody mengalihkan wajahnya, Di memutar tubuhnya dan melangkah untuk pergi dari rumah Lia. Lia yang masih kaget berteriak memanggil, manggil nama Dody.
"Mas...mas...", suara Lia tidak menghentikan langkah kaki Dody yang semakin menjauh dari hadapanya.
"Ingat mas Aku tidak akan memberikan kamu aset sedikit pun ke dirimu dan wanita itu.
Langkah Dody terhenti tepat di pintu utama rumah mewah itu, lalu Ia memutar tubuhnya menghadap Lia*.
"*Lakukan saja sesuka hatimu, tapi kali ini Aku tidak akan meninggalkan Dia untuk kedua kalinya", Ucap Dody lalu melangkah pergi.
"Dody... kamu adalah pria yang sangat kejam, bisa-bisanya kamu menyakiti adikku yang baru melahirkan anak kamu", ucap seorang pria berkumis dengan tatapan kejam sambil memeluk Lia yang lagi menangis di lantai keramik rumah. Saat mendengar pertengkaran Dody dan Lia.
Dody tidak peduli dengan kata-kata lelaki berkumis itu dan Lia, Dia terus melangkah pergi tanpa menghiraukan mereka.
"MAS...", teriak Lia yang tidak terima sambil meramas surat perceraiaan dari Dody, saat Ia melihat punggung belakang Dody yang melangkah dan menghilang dari hadapannya dan Kakaknya*.
Hapusan air mata dari Rani saat mengingat masa lalu Ibunya yang diceritakan oleh Ayah angkatnya atau yang tidak lain adalah pamanya. Waktu Ia masih berumur 16 tahun. Walau sekarang Ayahnya atau Dody dan Devi alias Bunda Kara sudah tidak ada, tapi balas dendam Rani pada Kara masih seperti dulu. Yaitu menghancurkan Kara hingga berkeping-keping.
"*Karena kamu tidak tau bagaimana rasa sakitnya saat kamu lahir? Ayah kandungmu sendiri tidak mengakui kamu sebagai anaknya"
" *Bagaimana rasanya saat melihat Ibumu harus trauma dan tinggal di rumah sakit jiwa. Karena kepicikan pria yang lebih memilih pergi demi wanita lain"
"Aku wanita jadi aku tau apa yang Ibuku rasakan saat itu, bisik Rani dalam hati saat Ia melihat lelaki bertato itu menghilang dengan mobil Alphard dari hadapanya", Batin Rani**.
BERSAMBUNG.