
SUASANA BARU.
" Bibi!" Kaget Kara saat Dia dan Atan yang sudah ada di hadapan sebuah rumah mewah yang tidak terlalu besar berlantai dua yang sederhana dan mewah yang langsung berhadapan dengan rumah istana tempat tinggal Rayanin. Atau rumah Atan.
Kara berlari masuk lewat gerbang rumah tersebut saat melihat Bibinya yang berbalik menghadap dirinya. Sedangkan Atan melangkah pelan mengikuti Kara yang sudah jauh di sana.
"Bibi... Kenapa Bibi disini?" tanya Kara saat sudah di hadapan bibinya.
"Bibi di sini karena kamu juga di sini sayang," ucap Bibi Kara dan langsung memeluk Kara dengan menumpahkan semua rasa bersalahnya pada Kara lewat air mata tulusnya.
"Bibi minta maaf....karena Bibi sungguh tidak tahu semuanya...maafkan Bibi sayang, Bibi...sungguh bersalah padamu Kar....," Tutur wanita paru baya itu dengan tangis isyak di pelukan keponakan kesayanganya.
"Apa maksud Bibi?" tanya Kara yang bingung dengan ucapan Bibinya.
"Bibi sudah tahu semua yang terjadi semalam, pasti sulit, 'kan? saat kamu di rumah itu? Bibi terlalu buta karena cinta tanpa melihat penderitaan kamu sayang. Maafkan Bibi Kar, maafkan Bibi," tangis pun kembali membanjiri wanita paruh baya itu sambil memeluk kembali tubuh keponakanya yang ada di hadapanya tersebut.
"Bi. Jangan ngomong seperti itu Karalah yang bersalah karena tidak memberitahu Bibi yang sebenarnya," ucap Kara sambil melepaskan pelukan pada Bibinya dengan menghapus air mata wanita paru baya yang ada di hadapanya tersebut.
Keduanya kembali berpelukan Kara terus mengelus punggung Bibinya, sedangkan wanita paruh baya itu menangis di pelukan Kara. Sebenarnya Kara ingin bertanya dari mana Bibinya tahu masalah semalam? namun Kara mengurungkan niatnya karena tidak berada dalam waktu yang tepat.
Atan terus menatap Kara yang masih memeluk Bibinya, dalam beberapa menit kesunyian datang menemani mereka, suasana diam itu kembali bersuara saat Kara yang melepaskan pelukan pada Bibinya sambil bertanya,
"Bi. Dari mana Bibi tahu aku akan datang ke sini?" tanya Kara sambil melihat wajah Bibinya dengan kebinggungan.
"Dari pangeran Atan," jawab singkat Bibi Kara sambil menatap Atan yang lagi tersenyum pada mereka.
"Maksud Bibi....?" suara Kara terbata-bata saat Ia memutar tubuhnya dengan ekspresi tanda tanya pada Atan.
"Aku yang memerintah salah satu pengawalku ke rumahmu, setelah aku mengetahui semuanya dari Dokter Diah. Dan tidak ku sangka kalo Bibimu juga mau ke luar dari rumah tersebut? jadi pengawalku membawa Bibi ke sini"
"Tinggal? Terima kasih untuk bantuanmu, tapi rumah ini terlalu maha..."
"Jangan menyimpulkan sesuatu yang belum kamu mengerti Kara, aku belikan rumah ini tapi kamu dan Bibi kamu tinggal untuk merawat rumah ini. Kamu boleh membayar kontrakan rumah ini jika kamu sudah miliki uang. "
" Aku tahu jika aku berikan rumah ini gratis untuk kamu tinggal pasti kamu menolak, jadi anggap saja kamu dan Bibi kontrak di rumahku, " kata Atan sambil memberi kunci rumah pada Bibi Kara.
"Tapi, Tan, " ucapan Kara diam saat Bibinya menerima kunci rumah dari tangan Atan.
"Terima kasih Nak, maaf jika Bibi dan Kara merepotkan kamu. Kami janji kami akan merawat rumah ini dengan sebaik-baiknya, dan soal uang kontrakan Bibi dan Kara akan bayar jika kami sudah menemukan pekerjaan, " tutur wanita paruh baya itu sambil menerima kunci dari tangan Atan.
"Bibi...," panggil lirih Kara.
"Kara sayang. Bibi tahu apa yang kamu kwatirkan. Tapi ini sudah harus terjadi dari dulu, walau Dia suami Bibi tapi Dia tidak memperlakukanmu layaknya keponakanya. "
" Lagian ini keputusan Bibi, jadi kamu jangan merasa bersalah," jawab Bibi Kara sambil menyentuh tangan Kara dengan lembut.
"Untuk sementara kita kontrak di rumah nak Atan dulu, setelah mendapat pekerjaan yang tetap dan uang yang cukup, kita akan pindah dari kota ini," suara wanita paru baya itu sambil memegang tangan Kara dan menatap dalam keponakan kesayangannya itu.
Kara yang mendengar ucapan Bibi hanya diam sambil terus menatap Bibinya, karena Kara tahu kalo Bibinya sangat mencintai Pamanya. Namun apalah boleh buat Ia juga tidak terus- menerus membohongi Bibinya. Setidaknya Bibi Kara sudah ada bersamanya walau Kara sendiri masih merasa kwatir dengan pamanya yang tinggal sendiri.
"Kara Bibi masuk beresin barang bawaan kamu dan Bibi di dalam, nak Atan terima kasih untuk kontrakannya, sekali lagi Bibi ucapkan terima kasih karena sudah membantu Kara, " ucap wanita paru baya itu lalu membungkukkan tubuhnya dua kali ke bawah dan kembali menatap Atan.
Setelah mengucapkan rasa terima kasih Bibi Kara masuk sambil membawa barang- barang bawaannya ke dalam rumah, tidak di sangka di dalam semua sudah tertata rapi semua keperluan baik makanan dan minuman serta perabot rumah sudah ada semua dan lengkap. Sedangkan di luar Kara di ajak Atan untuk mengobrol di taman belakang rumah sebentar. Bibi Kara mulai membereskan barang- barang bawaannya dan mulai menyiapkan makan siang di dapur setelah merapikan semua barang-barang baik miliknya mau pun milik Kara. Ia pun mulai memasak dengan mengambil sayur-sayuran yang ada di kulkas untuk di masak.
Kebetulan semua makanan yang siap di masak sudah lengkap di kulkas, wanita paru baya itu mulai memasak makan kesukaan Kara mulai dari membuat semur daging, semur jenggkol dan semur ceker ayam pedas dan telor balado serta Ayam kramas. Yah Bibi Kara atau yang biasa di kenal oleh orang-orang adalah Ana adalah salah satu wanita yang di kenal pintar memasak apalagi masakan khas Indonesia. Namun semuanya berubah setelah kepergia Ayah Kara dan baru hari ini Ia kembali bersemangat memasak makan kesukaan Kara dari kecil.
***Bersambung***.