A Girl Entangled In Memories

A Girl Entangled In Memories
EPS. 85. Dengarlah..



Roco, Lodra dan Kriss saat ini berada di luar ruangan operasi. Mereka ikut tegang karena mendengar teriakan Lars yang sangat keras.


" Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa adik ipar bertetiak begitu keras." Ujar Lodra, panik.


" Tuan Lodra, tolong tenanglah. Kita sudah mendengar tangisan tuan muda kecil, jadi mereka pasti baik baik saja." Ujar Roco mencoba menenangkan Lodra, walau sebenarnya dirinya sendiri kini sangat tidak tenang.


Kriss terlihat mencengkeram erat tongkatnya, dia bernafas dengan tidak beraturan, seakan menahan tangis.


' Tuhan.. apakah kau akan mengambil kebahagiaan kecil mereka? Apa kau setega itu?' Batin Kriss.


' Ryn tidak pernah merasakan kebahagiaan keluarga yang utuh, kini dia akan memilikinya, dan apakah lau akan mengambilnya begitu saja?' Batin Kriss lagi.


' Engkau telah mengambil begitu banyak hal dari Ryn, Tuhan.. Kali ini, tolong biarkan dia merasakan kebahagiaan nya.. Bukankah kau sangat mencintai umatmu..' Batin Kriss lagi.


Setetes air mata mengalir dari pelupuk mata Kriss. Kriss mungkin tahu apa yang terjadi di dalam sana.


" Paman, jangan menangis, ini hari bahagia Ryn, karena dia telah melahirkan anaknya." Ujar Lodra, dan Kriss tersenyum sembari mengangguk.


Namun dalam hatinya dia merasakan kegundahan yang begitu besar.


Kembali ke dalam ruang operasi, Lars masih menangis tersedu sedu sambil menciumi tangan Ryn yang sudah tidak bernafas itu.


" Sayang... kamu sekejam itu meninggalkan kami?? Kamu bilang ingin membesarkan anak kita bersama sama, tapi kamu pergi dari kami.." Ujar Lars.


" Bagaimana denganku?? Bagaimana dengan putra kita?? Bagaimana.. dengan kami berdua, jika kamu tinggalkan.." Ujar Lars menangis pilu.


Dokter menggendong putra Lars, lalu meletakannya di dada Ryn yang sudah tidak bernafas.


Dokter mendengar pernah terjadi keajaiban, seorang ibu yang meninggal saat melahirkan, hidup kembali karena mendengar tangisan anak mereka.


" Tuhan, toling tunjukan mukjizatmu, kasihanilah bayi kecil yang tidak berdosa ini." Gumam Dokter, dan menghapus air matanya.


" Oek.. Oek.. Oek.." Tangisan bayi Lars yang begitu pilu terdengar.


Tangan bayi itu bahkan menyentuh wajah Ryn, seakan dia mencoba membangunkan ibunya.


Entah bagaimana caranya, air mata di sudut mata Ryn mengalir keluar.


" Dengarkan itu, sayang.. putra kita memanggilmu, bangunlah.." Ujar Lars, yang juga mencium putranya, lalu mencium Ryn.


Dokter menggelengkan kepalanya, dan akhirnya sepakat untuk melepas semua selang bantuan pernafasan pada Ryn.


" Jangan!! Jangan cabut selangnya, istriku akan bangun." Ujar Lars.


" Tuan..." Ujar Dokter tertahan.


" Dokter, tangan nyonya bergerak!" Ujar suster.


Dan monitor menunjukan kembali detak jantung Ryn yang kembali berdenyut.


" Nyonya kembali." Ujar Dokter.


" Sayang.. sayang.. Kamu kembali, akhirnya kamu kembali." Ujar Lars..


Ryn perlahan membuka matanya, dan tersenyum lalu menangis. Memeluk putranya yang berada di atas tubuhnya.


" Sayang.. Anak mommy." Ujar Ryn menciumi bayinya.


Bayi itu sekaan tahu, bahwa ibunya sudah sadar, tangisannya pun mereda. Bayi itu hanya mengerang seperti kedinginan.


Lars memeluk Ryn, dan menciumi berulang kali putranya dan istrinya itu.


" Terimakasih sayang, kamu kembali. Terimakasih Tuhan, kau mendengarku.. Terimakasih putra daddy, kamu berhasil membuat mommy mu bangun kembali." Ujar Lars.


Setelah ketegangan di ruang operasi itu berakhir, kini Ryn sudah di pindahkan ke ruang rawat. Lars, Lodra, Roco dan Kriss juga berada di sana.


" Ya Tuhan, begitu lucunya makhluk kecil ini." Ujar Lodra, sambil mengusap pipi bayi Ryn.


" Kau namai dia siapa, nak?" Tanya Kriss.


" Tuhan sudah menunjukan pertolongannya lewat putraku, maka aku namai dia Byanazriel Paul Hunter. Dia pembawa kabar gembira, dan merupakan pemberian Tuhan untuk memberikan pertolongan untuk membangunkan kembali ibunya." Ujar Lars.


" Paul, adalah nama ayah Ryn.. Dia juga merupakan penyelamat Ryn, jadi aku sematkan namanya dalam nama putraku. " Ujar Lars lagi.


" Sungguh nama yang indah, di berkatilah kamu, nak.." Ujar Kriss pada bayi kecil Lars.


" Byan.. Kamu adalah anak yang baik." Ujar Lodra.


Roco menuliskan sebuah kalimat sebagai caption di foto itu.


' Penyelamat kita.. Byanazriel Paul Hunter.' Begitu yang di tulis.


Seketika di markas Lars semua orang bersorak sorai. Bahkan mereka saling berpelukan ketika mereka mendengar kabar bahagia itu.


" Tuan muda kecil kita telah lahir." Teriak anak buah Lars.


Stone.. Ikut tersenyum senang, ketika mendengar kabar gembira itu. Ia masih berada di Kalimantan, dan menolak pulang ke Jakarta.


' Selamat datang ke dunia, nak.. semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu.' Batin Stone tersenyum, lalu kembali merakit senjata yang sedang di rakitnya.


Tiga bulan kemudian..


Di sebuah kamar yang besar, saat ini seorang bayi laki laki berusia tiga bulan sedang menangis di sebuah ranjang besar, Byanazriel Paul Hunter, sedang menangis dengan kerasnya.


" Oek.. Oek.. Oek.." Tangisnya.


" Anak mommy sudah bangun? Maaf ya.. mommy meninggalkan kamu, kamu takut, ya? Jangan takut sayang.. mommy tidak akan pergi lama." Ujar Ryn yang langsung menggendong Byan.


Ryn langsung menyusui Byan, Ryn memilih untuk secara langsung menyusui Byan, karena itu lebih bagus untuk Byan, dari pada Ryn menaruhnya di botol susu.


Lars masuk ke dalam kamar, dan dia langsung menghampiri Ryn dan putranya yang sedang menyusu.


" Byan, sayang.. kenapa menangis?" Ujar Lars, sambil mengecup kepala Ryn.


" Byan lapar daddy.. Daddy sudah pulang?" Ujar Ryn menirukan suara anak kecil.


" Mau daddy gendong? Ayo kita lihat Baby Jasmine." Ujar Lars, dan Ryn terkekeh.


Baby Jasmine, bisa tebak siapa dia??


Ya, bayi harimau putih. Anak Thunder dan Jasmine yang lahir beberapa hari yang lalu. Jasmine melahirkan dua ekor harimau putih, berjenis kelamin laki laki dan perempuan.


Kini di kediaman Ryn ada empat ekor harimau putih, dan seekor singa jantan.. Lio. kedua anak Thunder dan Jasmine lahir dengan sehat dan sempurna, tanpa kekurangan sedikitpun.


" Jika kamu lelah, biar Byan aku yang jaga, sayang." Ujar Lars pada Ryn.


" Aku tidak lelah, sayang.. tapi bisakah kamu ambilkan aku makanan, aku lapar." Ujar Ryn sambil terkekeh.


Lars terkekeh di buatnya, setelah melahirkan, kondisj tubuh Ryn kembali sehat, namun bisa di katakan kelewat sehat. Ryn mudah lapar, dan tubuhnya kini lebih berisi.


Namun Lars tidak mempermasalahkannya, Lars tahu itu karena Ryn sedang menyusui putra mereka, Byan.


" Sebentar aku ambilkan." Ujar Lars, dan rurun ke bawah.


" Cucu kakek, dimana cicitku.. " Teriak sebuah suara, Peet.


Ryn tersenyum mendengar suara Peet, dia berkunjung lagi.


" Sayang, kakek buyut datang. Ayo kita temui kakek buyut." Ujar Ryn.


Ryn pun bangun dan bersiap, lalu ia menggendong Byan untuk turun ke bawah menemui Peet.


" Kakek buyut.." Ujar Ryn.


" Wahhh.. Cicit kakek, kemari nak, kakek buyut merindukanmu." Ujar Peet.


Ryn memberikan Byan pada Peet untuk di gendong, Byan selalu begitu anteng ketika berada di gendongan Peet. Lars menghampiri Ryn dan merangkulnya.


" Kakek sangat bahagia, terimakasih sayang.. kamu adalah kebahagiaan kami." Ujar Lars pada Ryn.


" Kamu juga kebahagiaanku.." Ujar Ryn.


" Cucu kakek, kapan cicit punya adik??" Tanya Peet.


" Tidak, aku tidak akan mengizinkan istriku dalam bahaya lagi, satu saja sudah cukup. " Ujar Lars.


Lars tidak berencana menambah keturunan, dia takut kehilangan Ryn. Saat melahirkan Byan, itu adalah saat paling menakutkan bagi Lars, dia tidak mau Ryn mengalami hal serupa.


" Ah.. Benar, cicit kakek yang tampan.. Ingat, kelak saat kau besar nanti, lindungi ibumu.. Dia adalah malaikat yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkanmu ke dunia.. Jika kamu nakal, kakek buyut akan menarik kupingmu dari surga nanti." Ujar Peet.


Byan tersenyum kearah Peet, senyum manisnya menurun dari Ryn, namun manik matanya hijau seperti Lars. Kombinasi yang sempurna.


END...